
Jakarta, CNBC Indonesia – Hujan deras yang biasanya berlangsung berjam-jam kini berpotensi turun dalam periode lebih singkat dengan intensitas lebih tinggi.
Perubahan pola ini bukan sekadar persoalan cuaca, tetapi juga dapat meningkatkan risiko banjir sekaligus kekeringan yang berdampak pada kehidupan dan aktivitas ekonomi.
Sebuah penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal Earth’s Future mengungkapkan bahwa, hujan paling deras di dunia kini cenderung berlangsung lebih singkat dan semakin terkonsentrasi.
Penelitian yang dilakukan Chiyuan Miao dan tim dari Beijing Normal University tersebut menganalisis data pengamatan harian dari lebih dari 19.000 alat pengukur hujan di berbagai negara selama periode 1980-2022.
Hasilnya, sekitar separuh curah hujan dunia tercatat turun dalam rata-rata sembilan rangkaian badai hujan yang berlangsung selama beberapa hari, dengan akumulasi waktu sekitar 28 hari.
Namun, sejak 1980, durasi rata-rata setiap kejadian hujan ekstrem menyusut sekitar 86 menit per dekade. Akibatnya, waktu yang dibutuhkan untuk menghasilkan separuh curah hujan tahunan dunia berkurang lebih dari 9,5 jam.
Fenomena ini dikenal sebagai rainfall compression atau pemampatan curah hujan, yakni kondisi ketika jumlah hujan yang relatif sama terkonsentrasi dalam periode yang lebih pendek. Artinya, hujan tidak selalu turun lebih lama, tetapi dapat datang dengan intensitas yang lebih tinggi dalam waktu singkat.
Perubahan tersebut ditemukan di seluruh benua, meskipun dengan tingkat yang berbeda. Eropa dan Amerika Selatan mencatat pemampatan durasi hujan paling kuat, dengan penurunan hingga 144 menit per dekade.
Dampaknya juga akan berbeda di setiap wilayah, mulai dari perubahan risiko kekeringan dan banjir bandang hingga ancaman terhadap ketersediaan air, produktivitas pertanian, erosi tanah, serta meningkatnya kerentanan terhadap kebakaran hutan.
Bagaimana dengan Indonesia?
Di Indonesia, data Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menunjukkan bahwa perubahan curah hujan tahunan selama periode 1981-2025 tidak berlangsung seragam di seluruh wilayah.
Berdasarkan pengamatan di 97 stasiun, lebih banyak titik menunjukkan tren peningkatan curah hujan dibandingkan penurunan.
Meski demikian, besarnya peningkatan berbeda-beda. Sebagian besar stasiun mencatat kenaikan dalam kisaran 0-10 milimeter per tahun.
Sejumlah titik di Kalimantan, Sulawesi, dan kawasan Indonesia timur menunjukkan peningkatan yang lebih tinggi, bahkan mencapai lebih dari 20 milimeter per tahun.
Di sisi lain, beberapa wilayah justru mengalami penurunan curah hujan tahunan. Sejumlah titik pengamatan di Sumatera dan Jawa masuk dalam kategori penurunan, dengan beberapa di antaranya mencatat laju penurunan lebih dari 20 milimeter per tahun.
Gambaran hujan dengan intensitas tinggi dalam waktu singkat juga terlihat dari catatan pengamatan BMKG.
Sepanjang 2024, intensitas hujan jam-jaman tertinggi di Indonesia mencapai 220 milimeter per jam, yang tercatat di Stasiun Meteorologi Sultan Babullah, Kota Ternate, Maluku Utara, pada 16 Desember 2024.
Angka tersebut menunjukkan kecepatan hujan turun yang sangat tinggi. Dalam satu jam, intensitas 220 milimeter per jam setara dengan akumulasi air setinggi 220 milimeter apabila hujan berlangsung terus-menerus selama satu jam penuh.
Namun, angka ini tidak berarti hujan benar-benar turun selama satu jam. Jika durasinya lebih singkat, total air yang terkumpul juga akan lebih sedikit.
Catatan tersebut memperlihatkan bahwa hujan dengan intensitas sangat tinggi dapat terjadi di berbagai wilayah Indonesia. Intensitas yang tinggi dalam waktu singkat berpotensi meningkatkan risiko banjir kilat, terutama ketika air hujan turun lebih cepat daripada kemampuan tanah dan saluran drainase untuk menyerap atau mengalirkannya.
Fenomena ini memiliki kaitan dengan temuan penelitian global mengenai rainfall compression, yakni kecenderungan curah hujan terkonsentrasi dalam periode yang lebih pendek. Intensitas hujan menjadi salah satu faktor penting yang perlu diperhatikan karena derasnya air yang turun dalam waktu singkat dapat memicu bencana hidrometeorologi.
Aliran ini dapat meningkatkan debit sungai secara cepat, terutama di daerah aliran sungai yang kecil dan memiliki kemiringan curam, sehingga memicu banjir bandang.
Rangkaian kejadian tersebut memperlihatkan bahwa hujan berintensitas tinggi dapat memicu berbagai jenis bencana di wilayah berbeda dalam waktu berdekatan, mulai dari tanah longsor dan banjir bandang hingga kerusakan tanggul.
Risiko Kekeringan hingga Gangguan Ekonomi
Dampak perubahan pola hujan tidak hanya berkaitan dengan banjir. Ketika hujan semakin terkonsentrasi dalam waktu singkat, periode tanpa hujan juga menjadi penting untuk diperhatikan karena dapat memengaruhi ketersediaan air.
Dampaknya juga dapat merambat ke perekonomian. Banjir berpotensi merusak lahan pertanian, fasilitas produksi, jalan, dan jaringan distribusi barang.
Sementara itu, kekeringan dapat mengganggu jadwal tanam dan panen, menekan produktivitas pertanian, hingga memengaruhi pasokan pangan dan harga komoditas.
Laporan Bank Dunia dan Dana Moneter Internasional (IMF) juga menyoroti besarnya risiko ekonomi dari bencana hidrometeorologi di Indonesia.
Kerugian akibat kekeringan dan kebakaran hutan, misalnya, tidak hanya berasal dari kerusakan langsung, tetapi juga kehilangan produksi pertanian dan gangguan rantai pasok.
Dengan demikian, perubahan pola hujan menjadi tantangan yang perlu diperhatikan dari sisi mitigasi bencana, ketahanan pangan, infrastruktur, dan keberlanjutan aktivitas ekonomi Indonesia.
(mae/mae)
Leave a comment