
Jakarta, CNBC Indonesia – Gelombang kemenangan telak Partai Demokrat dalam pemilu sela (midterm) Amerika Serikat (AS) memicu guncangan di industri kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI). Kemenangan ini mempertegas pergeseran drastis sentimen publik yang kini berbalik menentang pembangunan proyek pusat data (data center) raksasa, yakni motor utama penopang lonjakan bursa saham dan pertumbuhan ekonomi AS.
Presiden AS Donald Trump dalam berbagai kesempatan menentang untuk memperlambat pengembangan teknologi AI. Namun, Trump kini tak berkutik ketika gelombang protes pembangunan data center AI dari masyarakat akhirnya terpampang nyata pada hasil pemilu sela.
Kemenangan Demokrat di panggung politik AS diprediksi para investor bakal menjadi penahan rem mendadak (sudden brake) bagi ekspansi infrastruktur AI. Dalam pemilihan gubernur di Texas dan Georgia, para kandidat Demokrat yang mengusung janji penghentian sementara (moratorium) pembangunan data center berhasil merebut kursi kepemimpinan yang telah dikuasai Partai Republik selama berdekade-dekade.
Sentimen ini langsung membuat saham-saham penyedia data center dan infrastruktur AI bertumbangan di bursa Wall Street pada perdagangan Rabu (4/11) waktu setempat. Saham Core Scientific (CORZ) ambles 11,6%, Iren (IREN) terperosok 12,5%, sementara Applied Digital (APLD), Hut 8 (HUT), dan Cipher Digital (CIFR) mengekor di zona merah.
Tekanan turut merembet ke saham penyedia energi raksasa seperti GE Vernova (GEV), Constellation Energy (CEG), dan Vistra (VST) yang ikut terkoreksi parah.
Bukan Sekadar Referendum Trump, Tapi Referendum AI
Penolakan masif warga lokal terhadap proyek data center bersumber dari dampaknya yang destruktif bagi lingkungan sekitar. Proyek ini dinilai bising, sangat “haus” pasokan air, memakan konsumsi listrik berskala raksasa yang memicu lonjakan tagihan warga, serta minim menciptakan lapangan kerja lokal.
para investor dan pengamat menilai peta politik baru ini sebagai sinyal kuat berbaliknya arah kebijakan bagi industri teknologi.
“Dalam pandangan kami, signifikansi pemilu sela ini lebih menyerupai referendum terhadap AI ketimbang referendum terhadap (Donald) Trump,” ungkap Senior Investment Strategist Amundi Investment Institute, Aidan Yao, dikutip dari Reuters, Kamis (5/11/2026).
“Jika ekosistem AI mulai dibatasi oleh regulasi, maka ekonomi AS, tingkat inflasi, hingga arah kebijakan moneter AS semuanya akan menjadi sangat tidak pasti,” tambahnya.
Dampak politik ini terasa paling dramatis di Texas, wilayah yang menyumbang sekitar seperempat dari total proyeksi kapasitas data center AS hingga 2020. Politisi Demokrat Gina Hinojosa secara mengejutkan menumbangkan Greg Abbott dari kursi gubernur, mengakhiri dominasi 3 dekade Republik di negara bagian minyak tersebut.
Bahkan bos X dan SpaceX, Elon Musk-yang sempat menggelontorkan dana politik ratusan juta dolar untuk memenangkan kandidat Republik-mengakui pergeseran peta politik ini. “Pusat data di luar angkasa sepertinya terlihat makin menarik saat ini,” sindir Musk lewat akun media sosialnya.
Laporan Goldman Sachs memperkirakan bahwa kemenangan Demokrat di level negara bagian dan lokal berpotensi membekukan sementara (moratorium) sekitar 45% dari total rencana ekspansi kapasitas data center baru di AS.
Pasar Saham AI Turut Terkocok
Dampak kemenangan Demokrat di AS memicu efek domino hingga ke bursa Asia. Saham-saham raksasa produsen chip dan memori AI seperti TSMC, Samsung Electronics, SK Hynix, hingga Kioxia kompak terkoreksi seiring jatuhnya imbal hasil (yield) obligasi.
Meski demikian, sejumlah analis menilai perlambatan pembangunan fisik data center di AS tidak serta-merta menghentikan permintaan komputasi AI secara jangka panjang. Bagi raksasa penyedia cloud (hyperscalers) yang sudah memiliki fasilitas bangunan, regulasi ketat ini justru berpotensi mendongkrak nilai aset yang telah berdiri sekaligus menekan belanja modal (CapEx) yang sebelumnya dinilai terlalu agresif.
Di sisi lain, pasar juga menantikan aksi korporasi besar pekan depan, di mana salah satu pemain utama AI, Anthropic, bersiap memulai penawaran umum perdana (IPO) di tengah situasi politik yang serba tidak pasti ini.
(fab/fab)
Leave a comment