
Sabang, CNBC Indonesia – Kepala Ekonom Bank Danamon Irman Faiz menilai sentimen negatif Morgan Stanley Capital International (MSCI) bukan faktor fundamental pelemahan nilai tukar rupiah dibandingkan faktor geopolitik.
“Kalau kita lihat faktor-faktor lebih besar yang mempengaruhi justru adalah geopolitik, kalau geopolitiknya membaik active fund (pemodal asing) ini masih masuk ke pasar saham Indonesia. Tapi kalau geopolitiknya memburuk itu dia cenderung keluar,” ucap Irman saat media briefing Bank Indonesia di Sabang, Aceh pada Kamis (5/11/2026).
Seperti pada pemberitaan sebelumnya, pertimbangan MSCI untuk menurunkan status pasar saham Indonesia dari pasar berkembang menjadi pasar tersendiri menyebabkan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) jatuh.
Kejatuhan IHSG tersebut juga diiringi keluarnya arus modal asing dari pasar saham Indonesia. Berdasarkan catatan CNBC Indonesia, aksi jual saham oleh pelaku pasar asing mencapai Rp95,98 triliun dan terjadi jual bersih oleh investor asing mencapai Rp16,5 triliun
Irman menekankan keluarnya arus modal asing di pasar saham tidak menjadi faktor fundamental bagi pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat.
Terlebih lagi efek negatif sentimen MSCI lebih berdampak langsung terhadap keluarnya modal asing di pasar saham dibandingkan pasar keuangan lainnya.
Berdasarkan studi yang dilakukan Irman, sensitivitas arus keluar modal asing di pasar saham per US$100 juta hanya menyebabkan Rp11-12 depresiasi dari level sebelumnya.
Menurut Irman, arus modal asing yang keluar di pasar saham belum pasti uangnya keluar dari Indonesia, bisa saja hasil jualan saham kembali diputar di sektor atau instrumen lain yang berisiko rendah di pasar keuangan Indonesia.
“Kalau pasar saham dia bisa lakukan asset rotation dulu sebelum dia keluar, sehingga sensitivitas rupiah kita itu lebih kecil. Artinya kalau kita lihat direct channel dari outflows yang keluar dari pasar saham, dampaknya harusnya lebih kecil,” kata Irman.
Lebih lanjut, sentimen MSCI yang menjadi pemantik keluarnya investor dari pasar saham, dikatakan Irman tidak serta merta menguras seluruh modal asing di Indonesia.
Menurutnya, para investor dan pelaku pasar saham akan menunggu pengumuman pasti MSCI pada Juni 2027. Pengumuman tersebut terkait nasib pasar saham Indonesia apakah masih di emerging market atau turun ke standalone market.
“Dampak dari MSCI ini mungkin sebelum final decision itu terjadi, kami perkirakan terbatas melalui directionalnya,” ujar Irman.
Di sisi lain, faktor geopolitik lebih memengaruhi secara langsung terhadap nilai tukar rupiah karena memiliki dampak ganda, yakni keluarnya arus modal asing di pasar saham dan pasar obligasi.
Irman menjelaskan memanasnya geopolitik, terutama di timur tengah meningkatkan harga minyak mentah global yang memberikan efek luas ke ekonomi. Paling utama adalah naiknya inflasi global yang dapat menyebabkan kebijakan suku bunga tinggi yang bertahan lama atau higher for longer.
Dampaknya adalah para investor akan memilih aset-aset keuangan yang relatif lebih aman di negara maju, termasuk Amerika Serikat yang membuat dolar kuat.
Di sisi lain, Irman menilai negara berkembang menjadi tida dilirik karena dianggap lebih berisiko.
“Sehingga arus modal di portfolio, baik itu saham maupun obligasi lebih banyak mengalir ke safe haven economy atau negara-negara yang dianggap lebih aman. Makanya kalau kita lihat arus modal asing di pasar obligasi maupun di pasar saham itu relatively cenderung defisit di beberapa bulan terakhir,” ucapnya.
Lebih lanjut, Irman menilai arus modal yang keluar dari surat utang atau obligasi negara lebih fatal terhadap gerak nilai tukar rupiah. Pasalnya, saat arus modal keluar dari obligasi negara akan menyebabkan imbal hasil naik dan menyebabkan rasio pembayaran bunga terhadap penerimaan negara meningkat. Ketika hal itu terjadi, penilaian investor terhadap risiko pasar keuangan Indonesia menjadi lebih besar.
(haa/haa)
Leave a comment