
Jakarta, CNBC Indonesia – Kekhawatiran pecahnya gelembung atau bubble AI mengguncang pasar saham Amerika Serikat (AS). Investor mulai mencemaskan perlambatan pembangunan infrastruktur AI sehingga memicu aksi jual besar-besaran, tidak hanya pada saham teknologi, tetapi juga pasar secara keseluruhan.
Indeks saham teknologi Nasdaq Composite anjlok lebih dari 5% pada perdagangan Kamis dan masuk ke zona koreksi. Indeks saham perusahaan berkapitalisasi kecil Russell 2000 juga mengalami kondisi serupa.
Sementara itu, Dow Jones Industrial Average merosot lebih dari 1.800 poin atau lebih dari 3%. Indeks S&P 500 yang mencerminkan pasar saham secara lebih luas juga terkoreksi lebih dari 4%.
Melansir dari CNBC Internasional, Jumat (6/11/2026), aksi jual kali ini menjadi salah satu yang terburuk dalam beberapa bulan terakhir. Nasdaq Composite mencatat kinerja harian terburuk sejak 4 April 2025, ketika indeks tersebut anjlok 5,82%.
S&P 500 juga membukukan penurunan harian terdalam sejak tanggal yang sama, dengan pelemahan 5,97%. Adapun Dow Jones mencatat hari perdagangan terburuk sejak 4 April 2025, saat indeks tersebut merosot lebih dari 2.200 poin atau 5,5%.
Tekanan paling besar terlihat pada saham-saham teknologi raksasa yang dikenal sebagai Magnificent Seven yang terdiri dari induk usaha Google yaitu Alphabet, Nvidia, Apple, Microsoft, induk usaha Instagram dan WhatsApp yaitu Meta, Amazon, dan Tesla. Ketujuh perusahaan tersebut kehilangan kapitalisasi pasar gabungan lebih dari US$1 triliun (Rp 18.200 triliun)
Nvidia menjadi pemberat terbesar setelah kehilangan nilai pasar lebih dari US$440 miliar. Saham perusahaan semikonduktor tersebut anjlok lebih dari 9% dan berbalik mencatat kinerja negatif sepanjang tahun ini. Secara year-to-date, saham Nvidia telah turun 2,6%.
Tekanan jual terjadi hampir merata di seluruh pasar. Di New York Stock Exchange, jumlah saham yang turun mencapai 2.344, jauh melampaui saham yang naik sebanyak 416. Artinya, hampir enam saham melemah untuk setiap satu saham yang menguat.
Seluruh 11 sektor dalam indeks S&P 500 juga berakhir di zona merah. Sektor teknologi informasi memimpin pelemahan dengan penurunan 7,30%, menjadi kinerja harian terburuk sejak 16 Maret 2020, ketika sektor tersebut anjlok 13,92%.
Tekanan juga terlihat pada Technology Select Sector SPDR Fund (XLK), yang merosot 8,04%. Penurunan tersebut menjadi yang terburuk sejak 16 Maret 2020, ketika ETF tersebut jatuh 13,81%. Aktivitas perdagangan XLK juga melonjak tajam. Volume transaksi menembus 33 juta saham, lebih dari tiga kali lipat dibandingkan rata-rata volume perdagangan 30 hari yang mencapai 9,2 juta saham.
Sebanyak 174 saham atau 34,6% dari seluruh saham dalam indeks S&P 500 telah turun setidaknya 20% dari level tertingginya dalam 52 minggu. Daftar tersebut mencakup sejumlah perusahaan teknologi dan semikonduktor seperti SanDisk, Intel, Marvell Technology, Seagate Technology, Oracle, Micron Technology, dan Nvidia.
Secara keseluruhan, sebanyak 72 saham atau 71,3% konstituen Nasdaq-100 turun lebih dari 10% dari level tertinggi dalam 52 minggu terakhir.
(dem/dem)
Leave a comment