Home Finance Menteri Keuangan RI Larang Anaknya Jadi ASN, Ungkap Banyak Godaan
Finance

Menteri Keuangan RI Larang Anaknya Jadi ASN, Ungkap Banyak Godaan

Share
Menteri Keuangan RI Larang Anaknya Jadi ASN, Ungkap Banyak Godaan
Share




Naskah ini merupakan bagian dari CNBC Insight, rubrik yang menyajikan ulasan sejarah untuk menjelaskan kondisi masa kini lewat relevansinya di masa lalu.

Jakarta, CNBC Indonesia – Pendaftaran Calon Aparatur Sipil Negara (CASN) akan dibuka pada November 2026. Sekalipun menjadi daya tarik banyak orang sejak dahulu hingga sekarang, cerita berbeda datang dari Menteri Keuangan era Orde Baru, Mar’ie Muhammad.

Dia ternyata melarang anak-anaknya mengikuti jejak karier sang ayah sebagai ASN (dulu Pegawai Negeri Sipil). Pesan tersebut disampaikan Mar’ie setelah anak-anaknya menyelesaikan pendidikan. Sang istri, Etty Muhammad, mengingat bahwa suaminya bahkan berharap tidak ada keturunannya yang menjadi pegawai negeri.

“Dia bilang, ‘Nanti kalau sudah lulus, saya berdoa semoga jangan ada keturunan Papa menjadi pegawai negeri. Saya minta kepada kamu, jangan menjadi pegawai negeri.’ Itu saja permintaannya. Saya dengar itu di depan saya,” kenang Etty dalam autobiografi berjudul Mr. Clean Marie Muhammad (2025).

Larangan tersebut tentu mengundang pertanyaan dari anak-anaknya. Sebab, Mar’ie justru membangun karier panjang di lingkungan birokrasi. Salah satu anaknya pun pernah secara langsung mempertanyakan alasan sang ayah tidak mengizinkan mereka menjadi pegawai negeri.

“Kenapa Ma, Pa, tidak boleh menjadi pegawai negeri?” tanya anaknya.

Mar’ie tidak memberikan penjelasan panjang. Ia hanya mengingatkan bahwa bekerja di lingkungan pemerintahan memiliki berbagai godaan yang belum tentu mudah dihindari.

“Sudahlah, kamu tidak akan paham godaannya di sana,” jawabnya.

Alih-alih menjadi pegawai negeri, Mar’ie menyarankan anak-anaknya mencari pekerjaan di bidang lain, termasuk membangun usaha sendiri.

“Kamu kan bisa kerja di bagian lain, misalnya buka usaha sendiri,” kata Mar’ie.

Pesan tersebut tampaknya tidak terlepas dari pengalaman panjang Mar’ie selama bekerja di pemerintahan. Pada era Orde Baru, birokrasi Indonesia memang menghadapi persoalan korupsi dan pungutan liar yang mengakar dalam pelayanan publik.

Gambaran mengenai kondisi tersebut juga pernah diungkapkan pendahulu Mar’ie sebagai Menteri Keuangan, J.B. Sumarlin. Dalam autobiografi J.B. Sumarlin: Cabe Rawit yang Lahir di Sawah (2012), Sumarlin menceritakan bagaimana pungutan liar menjadi persoalan serius di lingkungan birokrasi.

Masyarakat yang hendak mengurus berbagai keperluan bahkan kerap diminta mengeluarkan uang berkali-kali. Untuk melihat langsung praktik tersebut, Sumarlin melakukan inspeksi mendadak ke sejumlah instansi pemerintah. Dalam beberapa kesempatan, ia bahkan menyamar demi mengetahui kondisi pelayanan publik yang sebenarnya.

Pegawai yang terbukti melakukan pelanggaran dan pungutan liar juga tidak luput dari sanksi. Upaya tersebut membuat Sumarlin dikenal sebagai salah satu pejabat yang berani memberantas korupsi dan pungutan liar di lingkungan birokrasi.

Komitmennya dalam memperbaiki tata kelola pemerintahan turut mengantarkannya meraih penghargaan Menteri Keuangan Terbaik Asia pada 1989.

Di tengah persoalan birokrasi dan berbagai godaan yang menyertainya, Mar’ie memilih memberikan nasihat berbeda kepada anak-anaknya. Meski berhasil meniti karier hingga menjadi Menteri Keuangan, ia justru berharap generasi setelahnya tidak mengikuti jalan yang sama.

(mfa/mfa)

Source link

Share

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *