Jakarta, CNBC Indonesia – PT Pertamina Hulu Rokan (PHR) memproyeksikan sumber daya minyak dan gas bumi (migas) non-konvensional (MNK) di Blok Rokan, Riau, mencapai hampir 740 juta barel setara minyak (barrels oil equivalent). Penemuan tersebut diproyeksikan bisa memperkuat ketahanan energi nasional.
Sebagai informasi, sumur MNK yang saat ini dikembangkan oleh PHR yakni Sumur Gulamo DET-1, Blok Rokan dan Sumur Kelok DET-1, Blok Rokan.
Direktur Utama Pertamina Hulu Rokan Muhammad Arifin menjelaskan bahwa temuan migas non konvensional itu merupakan salah satu yang terbesar di Indonesia dalam kurun waktu sepuluh tahun terakhir.
Ia menegaskan, perusahaan saat ini tengah mematangkan dari sisi teknis untuk mengonversi sumber daya kategori 2C tersebut menjadi produksi nasional.
“Ketika kita berbicara MNK di Rokan alhamdulillah kita sudah berhasil melakukan discovery di dua sumur pertama di Gulamo dan juga di Kelok. Dan alhamdulillah temuan 2C-nya, sumber dayanya cukup besar dan dalam 10 tahun terakhir itu termasuk yang paling besar di lapangan-lapangan minyak sebesar hampir 740 juta barrels oil equivalent,” ungkapnya dalam program Energy Corner CNBC Indonesia, dikutip Selasa (14/7/2026).
Pihaknya memproyeksikan lapangan MNK tersebut nantinya mampu memberikan kontribusi produksi harian bagi negara. Pada masa puncak produksinya, ladang minyak tersebut diharapkan dapat menghasilkan sekitar 40.000 hingga 50.000 barel minyak per hari (bph).
“Insya Allah kalau nanti berhasil kita lakukan lagi pengeboran delapan sumur di tahun depan. Delapan sumur sebagai sumur demonstrasi. Mudah-mudahan MNK lapangan di Rokan ini bisa berkontribusi sampai nanti peak-nya di 40 sampai 50 ribu barrels oil per day buat negara,” katanya.
Pengembangan MNK sendiri memiliki tingkat kesulitan yang lebih tinggi karena karakteristik minyak yang terjebak di dalam batuan sehingga sulit untuk diangkat. Perusahaan harus menerapkan teknologi multi-stage fracturing serta pengeboran terarah guna merekah batuan agar minyak yang bersifat lengket tersebut dapat diproduksikan ke permukaan.
“Jauh berbeda dengan yang reservoir saat ini kita produksikan. Kenapa karena memang secara petroleum sistem lapangan MNK itu minyaknya terjebak di dalam batuan yang cukup sulit untuk kita angkat. Kita harus menerapkan teknologi yang biasa kita sebut multi-stage fracturing gitu,” paparnya.
Progres saat ini, pemerintah melalui Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) dan SKK Migas tengah memproses persetujuan Kontrak Bagi Hasil (KBH) yang baru bagi PHR. Perusahaan menargetkan tahapan pengeboran sumur appraisal atau penilaian pertama dapat segera dilaksanakan pada Desember 2026 mendatang.
“Kita harapkan di bulan Juli ini kita mendapatkan persetujuan KBH sehingga insya Allah nanti di bulan Desember tahun 2026 ini kita lakukan pengeboran tajak sumur appraisal yang pertama,” tandasnya.
Leave a comment