Jakarta, CNBC Indonesia – Kementerian Investasi dan Hilirisasi menegaskan bahwa 26 proyek hilirisasi strategis nasional saat ini dipantau langsung oleh Presiden RI Prabowo Subianto. Puluhan proyek itu sendiri tengah didorong pengerjaannya oleh pemerintah.
Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM sekaligus CEO Danantara Rosan Roeslani menjelaskan bahwa pengerjaan 26 proyek hilirisasi tersebut saat ini terus berprogres. Ia menegaskan bahwa pihaknya selalu menyampaikan laporan detail capaian setiap tahapan proyek kepada Prabowo agar jika terdapat kendala dalam prosesnya dapat segera dimitigasi.
“Ya kalau itu kan berjalan sudah berjalan ya, kita juga berjalan, kita juga berkala kita laporkan juga sudah sampai stage mana ke Bapak Presiden juga kita laporkan jadi benar-benar dipantau oleh beliau,” katanya saat ditemui di Gedung DPR RI, Jakarta, Rabu (15/6/2026).
Di samping mendorong eksekusi seluruh 26 proyek yang sudah terdaftar, pihaknya juga tengah membidik sejumlah potensi proyek hilirisasi baru yang dinilai layak untuk dikembangkan lebih lanjut.
“Dan nanti kita sedang kaji lagi untuk beberapa proyek hilirisasi lagi yang memang feasible dan kita perlukan ke depannya,” kata Rosan.
Dia memastikan bahwa fokus hilirisasi dalam negeri tidak hanya akan fokus pada satu sektor komoditas saja. Berbagai sektor lainnya kini mulai dipetakan untuk mendapatkan nilai tambah.
“Ya kita kaji dulu ada beberapa lah nanti kita kabarkan. Nggak (hanya sektor mineral), di sektor lain juga,” tandasnya.
Danantara terlibat
Sebelumnya, Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara) terus mempercepat pelaksanaan proyek hilirisasi strategis nasional sebagai bagian dari upaya meningkatkan nilai tambah sumber daya alam, memperkuat industri nasional, serta menciptakan lapangan kerja.
Kepala BP BUMN sekaligus COO Danantara, Dony Oskaria mengatakan sebanyak 26 proyek hilirisasi dengan total nilai investasi mencapai Rp 225 triliun tengah digarap dan diproyeksikan mampu menyerap 37.833 tenaga kerja.
Pelaksanaan proyek dilakukan dalam dua fase. Fase pertama, yang dimulai melalui groundbreaking pada 6 Februari 2026, mencakup enam proyek prioritas di 13 lokasi dengan nilai investasi Rp109 triliun dan potensi penyerapan 11.456 tenaga kerja.
Sementara itu, fase kedua, yang dimulai melalui groundbreaking pada 29 April 2026, meliputi 10 proyek prioritas di 13 lokasi dengan nilai investasi Rp 116 triliun dan diperkirakan menyerap 26.377 tenaga kerja.
Menurutnya, hilirisasi harus memberikan manfaat yang nyata bagi perekonomian nasional, tidak hanya dari sisi investasi, tetapi juga dari dampaknya terhadap masyarakat.
“Tidak hanya menghasilkan investasi, hilirisasi ini juga menciptakan lapangan kerja, menggerakkan ekonomi daerah, dan membuat nilai tambahnya dinikmati di dalam negeri,” kata Dony dalam keterangan resminya, Senin (13/7/2026).
Sejumlah proyek tersebut mencakup berbagai komoditas strategis, mulai dari sektor pertambangan seperti pembangunan smelter aluminium, baja nirkarat, dan tembaga, hingga sektor energi dan pangan melalui pengembangan fasilitas bioavtur, bioetanol, pengolahan kelapa sawit, industri kelapa, serta peternakan ayam terintegrasi.
Investasi yang dijalankan diharapkan mampu menciptakan nilai tambah di dalam negeri, membuka peluang kerja baru, serta memberikan manfaat yang berkelanjutan bagi masyarakat dan perekonomian Indonesia.
(pgr/pgr)
Add
as a preferred
source on Google
Leave a comment