Jakarta, CNBC Indonesia – Negara-negara di benua Eropa saat ini sedang dilanda gelombang panas yang mematikan sepanjang sejarah, di mana suhunya meningkat drastis hingga lebih dari 40 derajat celsius.
Bahkan, beberapa negara melaporkan lebih dari 10.000 kematian berlebih akibat gelombang panas ekstrem yang memecahkan rekor di wilayah barat benua Eropa.
Lonjakan drastis angka kematian massal akibat “neraka bocor” ini, menjadi fenomena yang sangat tidak biasa dan mencerminkan dampak fatal dari perubahan iklim global.
Mengutip laporan Reuters, Senin (13/7/2026), mayoritas mutlak dari korban jiwa-yakni lebih dari 9.000 kematian-didominasi oleh kelompok lansia yang berusia 65 tahun ke atas. Data mengerikan ini dipublikasikan oleh Proyek Pemantauan Angka Kematian Eropa (EuroMOMO), jaringan yang disokong Pusat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Eropa (ECDC) serta Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).
Cuaca ekstrem ini diketahui dapat memicu kematian dengan cara menyebabkan sengatan panas (heat stroke) atau memperparah gangguan pada sistem kardiovaskular serta penyakit pernapasan kronis. Ketiadaan faktor pemicu besar lain, seperti lonjakan wabah virus, membuat para ahli meyakini bahwa suhu panas ekstrem adalah satu-satunya penyebab utama di balik tragedi kemanusiaan ini.
“Mengalami kematian berlebih semacam ini pada waktu sekarang ini adalah hal yang tidak biasa. Ini benar-benar tinggi,” ungkap Lasse Vestergaard, Kepala Dokter di Statens Serum Institut Denmark yang menaungi EuroMOMO.
“Sulit untuk menjelaskan kematian berlebih yang tinggi ini dengan hal lain selain panas ekstrem,” tambah Vestergaard dalam penjelasannya mengenai situasi darurat tersebut.
Data gabungan statistik kematian nasional dari 27 negara Eropa ini mencatat total tepat 10.650 kematian berlebih pada pekan yang berlangsung dari 22 Juni hingga 28 Juni, yang menjadi puncak gelombang panas. Angka tersebut melonjak sangat kontras mengingat rata-rata angka kematian gabungan pada delapan minggu sebelumnya justru berada di bawah tingkat normal.
Bencana iklim ini tidak hanya merenggut nyawa, tetapi juga melumpuhkan pasokan listrik, memaksa penutupan operasional sekolah, serta menghancurkan rekor suhu tertinggi di Prancis, Spanyol, dan Inggris. EuroMOMO mencatat bahwa Prancis dan Belgia menjadi dua negara dengan tingkat kematian berlebih yang masuk dalam kategori sangat tinggi.
Bahkan bagi Belgia, angka kematian kali ini tercatat sebagai yang tertinggi dibandingkan gelombang panas mana pun dalam sejarah pencatatan negara tersebut sejak tahun 2000. Di sisi lain, sebuah studi terpisah dari Imperial College London mengestimasi 2.700 orang tewas di Inggris dan Wales sepanjang Mei dan Juni, di mana 42% di antaranya disebabkan oleh pemanasan global akibat ulah manusia.
Panas Ekstrem Bisa Ganggu Kesehatan
WHO melaporkan banyak populasi di iklim tropis dan subtropis secara kronis terpapar suhu tinggi. Di lintang menengah hingga tinggi, paparan panas berlebih pada populasi bersifat musiman.
“Panas dapat mempengaruhi kesehatan melalui berbagai mekanisme langsung dan tidak langsung. Penelitian tentang dampak paparan kronis (berkelanjutan) terhadap suhu dan kelembapan tinggi masih terbatas,” kata WHO.
Pekerja di lapangan, atlet, serta pegawai perlindungan sipil terpapar panas berlebih karena pekerjaan mereka dan rentan terhadap stres panas akibat aktivitas fisik.
Sedangkan penduduk miskin perkotaan dan pedesaan seringkali lebih rentan terhadap paparan panas berlebih karena kualitas perumahan yang rendah dan kurangnya akses ke pendingin ruangan.
Karena bahan bangunan, permukiman informal seringkali lebih panas daripada daerah perkotaan lainnya di beberapa kota. Gender dapat memainkan peran penting dalam menentukan paparan panas, misalnya di mana perempuan terutama bertanggung jawab untuk memasak di dalam ruangan selama cuaca panas.
Jumlah panas yang tersimpan dalam tubuh manusia ditentukan oleh kombinasi dari ketidakmampuan untuk menghilangkan panas yang dihasilkan secara internal dari proses metabolisme akibat tekanan panas lingkungan seperti suhu tinggi, kelembapan tinggi, angin lemah, dan radiasi termal tinggi). Selain itu, pakaian juga turut mempengaruhi, yang menciptakan penghalang terhadap kehilangan panas, selanjutnya perolehan panas eksternal dari lingkungan juga turut mempengaruhi kesehatan.
“Ketidakmampuan tubuh untuk mengatur suhu internal dan menghilangkan panas berlebih dalam kondisi seperti itu meningkatkan risiko kelelahan akibat panas dan serangan panas. Beban yang ditanggung tubuh saat mencoba mendinginkan diri juga memberi tekanan pada jantung dan ginjal,” lanjut WHO.
Akibatnya, suhu ekstrem dapat memperburuk risiko kesehatan dari kondisi kronis (kondisi kardiovaskular, mental, pernapasan, dan diabetes) dan menyebabkan cedera ginjal akut.
Kematian dan rawat inap yang dipicu oleh cuaca panas ekstrem terjadi dengan cepat pada hari yang sama dan hari-hari berikutnya, yang berarti intervensi juga perlu dilakukan dengan cepat ketika peringatan panas dikeluarkan.
Panas juga dapat mengganggu dan membahayakan layanan kesehatan penting, seperti terputusnya pasokan listrik dan transportasi. Panas akan mengurangi produktivitas kerja dan meningkatkan risiko kecelakaan.
Hal ini karena sulit untuk menyelesaikan pekerjaan atau belajar dalam cuaca yang sangat panas, dan gelombang panas dapat menyebabkan sekolah dan lembaga lain tutup. Gelombang panas juga dapat dikaitkan dengan peristiwa polusi udara yang berbahaya.
“Skala dan sifat dampak kesehatan akibat panas bergantung pada waktu, intensitas, dan durasi peristiwa panas, serta tingkat aklimatisasi dan kemampuan beradaptasi penduduk setempat, infrastruktur, dan lembaga-lembaga terhadap iklim yang berlaku,” terang WHO.
Sejarah Panas Ekstrem Di Dunia
Sejatinya, kondisi panas ekstrem pernah terjadi di beberapa negara dan tentunya merenggut banyak jiwa. Berikut sejarah panas ekstrim di berbagai negara.
1. Bagian timur AS (1896)
New York, Chicago, Newark, dan Boston mengalami gelombang panas dahsyat pada Agustus 1896 yang berlangsung selama hampir dua minggu.
Dengan suhu rata-rata sekitar 35 derajat celsius dan pada saat pendingin udara belum tersedia secara luas atau belum cukup berkembang, sekitar 1.500 orang kehilangan nyawa.
Banyak keluarga berpenghasilan rendah sangat terpengaruh, karena kondisi perumahan yang buruk menyebabkan kepadatan penduduk dan peningkatan bahaya akibat panas yang tinggi.
Meskipun bukan gelombang panas paling mematikan dalam sejarah AS, bencana 1896 mengungkapkan perlunya program sosial yang lebih baik dan teknologi pendinginan yang lebih efisien.
2. Eropa (2003)
Bukan kali ini Eropa dilanda panas ekstrem, tetapi pernah terjadi di 2003 silam. Gelombang panas Juli dan Agustus 2003 merupakan musim panas terpanas yang tercatat di benua Eropa sejak 1540, dan menjadi masa yang menyiksa bagi warga Eropa dan wisatawan.
Dengan suhu harian rata-rata mencapai 40 derajat celsius, lebih dari 70.000 orang meninggal dunia secara tragis. Hari-hari yang terik tersebut menyebabkan kerugian miliaran dolar bagi Eropa akibat gagal panen dan kekeringan yang meluas.
Prancis terkena dampak paling parah, dengan negara itu saja melaporkan sekitar 14.000 kematian. Selain suhu yang sangat tinggi, serangan panas dan udara yang pengap termasuk di antara faktor-faktor paling fatal di balik tingginya jumlah korban.
3. Kekeringan di Amerika Utara (1988)
Kekeringan berkepanjangan pada musim panas 1988 melanda banyak wilayah di Amerika Utara dan menyebabkan suhu yang sangat tinggi di beberapa tempat pada waktu yang berbeda. Ditambah dengan curah hujan yang rendah dan tersebar di berbagai wilayah geografis, gelombang panas dan kekeringan yang terjadi kemudian sulit dikendalikan.
Menurut perkiraan, jumlah korban jiwa berkisar antara 5.000 hingga 10.000 orang, dengan suhu harian tertinggi sekitar 37 derajat celsius. Gelombang panas tersebut menyebabkan banyak masalah pada jaringan listrik serta kekurangan air yang meluas dan kondisi kering.
4. India (2002)
Meskipun terjadi di luar musim panas resmi, gelombang panas yang melanda India pada April dan Mei 2002 membawa suhu yang biasanya tidak terlihat bahkan di puncak musim panas.
Dengan suhu rata-rata 43 derajat celsius di beberapa kota di India, gelombang panas tersebut menelan korban jiwa hingga 1.200 orang. Negara bagian Andhra Pradesh sangat terdampak, di mana angin kering membawa suhu ekstrem dan mempertahankannya selama berminggu-minggu.
Pasokan air sangat terbatas, rumah sakit penuh sesak, dan jalanan serta beton melengkung di bawah terik matahari yang tak henti-hentinya.
CNBC INDONESIA RESEARCH
(chd/luc)
Add
as a preferred
source on Google
Leave a comment