Home Finance RI Luncurkan PFII, Singapura Bakal Ketar Ketir
Finance

RI Luncurkan PFII, Singapura Bakal Ketar Ketir

Share
RI Luncurkan PFII, Singapura Bakal Ketar Ketir
Share




Jakarta, CNBC Indonesia – Hadirnya Pusat Finansial Internasional Indonesia akan memiliki daya saing untuk menarik investor di kawasan ASEAN, bahkan mampu bersaing melawan Singapura.

Ekonom PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk atau BTN, Myrdal Gunarto Myrdal menilai kehadiran Pusat Finansial Internasional Indonesia (PFII) memiliki potensi besar untuk menjadi game changer dalam meningkatkan daya saing investasi kita, khususnya di kawasan ASEAN.

Dirinya mengatakan agar PFII mampu bersaing dengan Singapura dengan menawarkan nilai berbeda.

“Dalam peta persaingan kawasan, PFII tetap bisa tampil sangat kompetitif apabila fokus pada keunggulan struktural yang tidak dimiliki oleh Singapura,” ujarnya kepada CNBC Indonesia, Rabu (22/7/2026).

Menurutnya, PFII bisa bersaing dengan berperan sebagai pusat keuangan komplementer yang menguasai sektor tertentu.

“Strategi paling rasional bagi Indonesia adalah menjadikan PFII sebagai pusat keuangan komplementer yang menguasai ceruk pembiayaan sektor riil, ekonomi hijau, dan keuangan syariah di Asia Tenggara,” terang Myrdal.

“Jika diferensiasi ini berhasil dieksekusi dengan kepastian hukum yang kuat, PFII akan memiliki daya saing yang sangat unik dan memikat bagi investor kawasan maupun global,” lanjutnya.

Akan tetapi, jika PFII memiliki model dan ceruk yang sama dengan Singapura dan negara lain, maka peluang untuk bersaing tidak akan mekasimal.

“Probabilitasnya kurang dari 60% untuk Pusat Finansial Internasional Indonesia (PFII) dapat menyaingi Singapura secara langsung (head-to-head) dalam jangka pendek hingga menengah. Itu karena Singapura telah membangun ekosistem finansialnya selama puluhan tahun dengan fondasi yang sangat kokoh.”

Myrdal mengatakan bahwa Singapura sudah sangat kokoh sebagai hub keuangan global tradisional, sementara Malaysia memiliki Labuan yang kuat di sektor offshore dan keuangan syariah.

“Agar PFII bisa menarik, daya saingnya bergantung pada bagaimana Indonesia memposisikan diri dan insentif apa yang ditawarkan,” imbuhnya.

Kepala Ekonom Trimegah Sekuritas Indonesia Fakhrul Fulvian mengatakan PFII memiliki peluang besar meningkatkan daya saing Indonesia di kawasan ASEAN, asalkan RI mampu membangun ekosistem keuangan internasional yang kredibel.

PFII harus menjadi tempat bagi eksportir, investor institusi, dana pensiun, sovereign wealth fund, maupun investor global untuk menyimpan dana, melakukan pembiayaan, transaksi lindung nilai, serta perdagangan instrumen keuangan dari Indonesia.

“Selama ini kita terlalu fokus menarik modal masuk, tetapi kurang memperhatikan bagaimana modal tersebut tetap berputar di dalam negeri. Kalau investasi masuk tetapi aktivitas keuangannya tetap dilakukan dari Singapura, Hong Kong, London, atau New York, maka manfaatnya bagi pendalaman pasar keuangan domestik menjadi terbatas,” kata Fakhrul.

Dari sisi pembiayaan pembangunan, Fakhrul menilai PFII dapat menjadi sumber pembiayaan alternatif bagi proyek strategis nasional, termasuk proyek investasi jangka panjang yang berkaitan dengan Danantara maupun sektor swasta. Dengan pasar keuangan yang lebih dalam, biaya pendanaan pembangunan dapat menjadi lebih efisien dan lebih berkelanjutan.

“PFII dapat membantu memperluas basis pembiayaan pembangunan. Tetapi kuncinya adalah transparansi, tata kelola, dan mekanisme pasar yang kredibel. Jangan sampai PFII hanya menjadi kanal pembiayaan yang bersifat administratif. Ia harus menjadi pasar yang dipercaya,” tegasnya.

Lebih lanjut, Fakhrul menyebut keberhasilan PFII tidak akan ditentukan semata-mata oleh insentif perpajakan. Investor global akan lebih memperhatikan kepastian hukum, perlindungan hak investor, kemudahan arus modal, kualitas regulasi, efisiensi penyelesaian transaksi, serta kedalaman pasar keuangan.

“Financial center dibangun di atas kepercayaan. Insentif pajak memang penting, tetapi tidak pernah cukup. Yang lebih menentukan adalah apakah investor merasa aman menempatkan dan memutar dana jangka panjang di Indonesia,” ujarnya.

Karena itu, Fakhrul mendorong agar pemerintah memprioritaskan penguatan regulasi, kepastian perpajakan, kemudahan berusaha, penyelesaian sengketa yang kredibel, serta pengembangan instrumen keuangan valuta asing. Pemerintah juga perlu memperdalam pasar obligasi, pasar uang valas, instrumen lindung nilai, dan infrastruktur pasar keuangan.

“PFII seharusnya menjadi bagian dari strategi besar membangun domestic dollar ecosystem. Ketika devisa hasil ekspor, tabungan residen, dan dana investasi dapat terus berputar di Indonesia, stabilitas nilai tukar akan lebih kuat, biaya pendanaan lebih efisien, dan ketahanan ekonomi nasional meningkat,” tutup Fakhrul.

(ras/haa)



Add

logo_svg

as a preferred

source on Google




[Gambas:Video CNBC]

Source link

Share

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *