
Jakarta, CNBC Indonesia – PT Freeport Indonesia (PTFI) akan menggelontorkan investasi tambahan yang cukup besar untuk mengembangkan proyek tambang bawah tanah Kucing Liar di kawasan mineral Grasberg, Papua.
Mengutip laporan kinerja Semester I-2026 Freeport-McMoRan (FCX), perusahaan memperkirakan kebutuhan investasi tambahan untuk mengembangkan proyek tambang Kucing Liar tersebut mencapai sekitar US$ 4 miliar, atau sekitar Rp 71,69 triliun (asumsi kurs Rp 17.923 per dolar AS), hingga tahun 2033.
Investasi tersebut dilakukan untuk mendukung pengembangan tambang hingga mencapai kapasitas produksi penuh yang ditargetkan mulai meningkat sekitar 2030. Adapun, hingga Juni 2026, PTFI telah menggelontorkan investasi sekitar US$ 1,4 miliar atau sekitar Rp25 triliun, untuk pengembangan proyek tersebut.
“Per tanggal 30 Juni 2026, PTFI telah mengeluarkan biaya sekitar US$1,4 miliar untuk pengembangan Kucing Liar, dan investasi modal tambahan diperkirakan mencapai sekitar US$4 miliar hingga tahun 2033 (dengan rata-rata sekitar US$0,5 miliar per tahun),” tulis Freeport-McMoRan (FCX), dikutip Rabu (5/8/2026).
Pada saat beroperasi penuh, tambang Kucing Liar diproyeksikan memiliki kapasitas sekitar 130.000 metrik ton bijih per hari, dengan produksi rata-rata mencapai 750 juta pon tembaga dan 735.000 ons emas setiap tahun.
Freeport menilai proyek tersebut menjadi salah satu investasi strategis untuk menjaga kelangsungan produksi tambang bawah tanah di kawasan Grasberg sekaligus memanfaatkan infrastruktur yang telah tersedia.
Proyek ini diperkirakan menjadi salah satu sumber produksi tembaga dan emas utama perusahaan pada dekade berikutnya. Pengembangan Kucing Liar sendiri telah berlangsung sejak 2022 lalu.
Produksi Semester I-2026
Freeport-McMoRan (FCX) mencatat produksi emas dari tambang di Tembagapura, Indonesia mencapai 276.000 ons sepanjang Semester I-2026. Angka tersebut menurun bila dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu yang tercatat sebanyak 595.000 ons.
President and Chief Executive Officer FCX Kathleen Quirk menjelaskan, penurunan produksi dari tambang yang dioperasikan PT Freeport Indonesia tersebut lantaran adanya kendala di sisi hulu pertambangan akibat insiden longsoran lumpur pada tambang bawah tanah Grasberg Block Cave (GBC) September 2025 lalu.
Quirk memastikan perusahaan terus memantau kemajuan operasional di Indonesia dalam menjaga momentum pertumbuhan di pasar global.
“Tim Freeport mencapai hasil yang kuat pada kuartal kedua, didukung oleh pelaksanaan rencana operasi kami yang solid dan harga yang menguntungkan untuk produk kami,” ujar Kathleen Quirk dalam laporan FCX Semester I-2026, dikutip Selasa (4/8/2026).
Adapun, penurunan tersebut dipicu oleh rendahnya tingkat pemrosesan bijih akibat fase pemulihan di tambang bawah tanah Grasberg Block Cave (GBC) pasca insiden pada September 2025.
“Setelah insiden luapan lumpur eksternal pada September 2025, PTFI telah memajukan serangkaian aktivitas untuk menangani insiden tersebut dan tetap fokus pada peningkatan kapasitas operasional yang aman dan berkelanjutan,” tulis laporan FCX.
Selain emas, PTFI juga tercatat memproduksi tembaga sebesar 300 juta pon sepanjang Semester I-2026. Angka tersebut juga tercatat menurun bila dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun lalu sebesar 655 juta pon.
(ven/wia)
Leave a comment