Home Finance Gempa M7,7 Guncang NTT, Ini Alasan Indonesia Timur Rawan Bencana Besar
Finance

Gempa M7,7 Guncang NTT, Ini Alasan Indonesia Timur Rawan Bencana Besar

Share
Gempa M7,7 Guncang NTT, Ini Alasan Indonesia Timur Rawan Bencana Besar
Share




Jakarta, CNBC Indonesia – Gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,7 mengguncang wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT), Sabtu (15/8/2026) pagi. Gempa tersebut sempat memicu peringatan dini tsunami.

Direktur Gempa Bumi dan Tsunami BMKG Wijayanto mengungkapkan gempa tersebut disebabkan oleh sesar naik Busur Utara Flores.

“Gempa ini terjadi akibat sesar naik Busur Utara Flores, gempa berkekuatan M7,7 ada potensi gempa maksimal M7,8-7,9. Pernah terjadi gempa sebesar ini tahun 1992, dengan magnitudo M7,5,” kata Wijayanto dalam konferensi pers BMKG via Zoom, Sabtu (15/8/2026).

Gempa NTT pagi ini menambah panjang sejarah kegempaan di Indonesia Timur yang dikenal sebagai salah satu kawasan dengan aktivitas tektonik paling tinggi di dunia.

Lantas, Kenapa hal ini bisa terjadi di Indonesia Timur?

Menurut riset Universitas Muhammadiyah Mataram berjudul Interaksi Tiga Lempeng di Kawasan Indonesia Timur (2025), kondisi geologi Indonesia Timur sangat kompleks karena menjadi wilayah interaksi tiga lempeng besar, yakni Indo-Australia, Eurasia dan Pasifik.

Ketiganya saling berinteraksi di sekitar Laut Banda, Laut Maluku dan wilayah Seram. Pergerakan tersebut membentuk berbagai struktur geologi. Mulai dari zona subduksi, patahan aktif hingga cekungan belakang busur.

Pergerakan lempeng itu juga berlangsung terus-menerus. Dalam riset tersebut disebutkan Lempeng Indo-Australia bergerak relatif ke utara sekitar 7 sentimeter per tahun, sedangkan Lempeng Pasifik bergerak ke arah barat hingga sekitar 10 sentimeter per tahun. Pergerakan tersebut membuat kerak bumi mengalami deformasi dan meningkatkan aktivitas kegempaan di kawasan ini.

“Akibatnya, kawasan ini memiliki frekuensi kegempaan dan aktivitas vulkanik yang sangat tinggi, serta morfologi daratan dan dasar laut yang terus berubah karena tekanan geodinamika,” tulis riset tersebut.

Masalah semakin kompleks karena ketiga lempeng tersebut tidak hanya menghasilkan satu jenis gerakan. Berbagai jenis gerakan, seperti gaya kompresi, ekstensi dan geseran, dapat berlangsung secara bersamaan di wilayah yang berbeda. Kondisi ini membuat Indonesia Timur menjadi salah satu kawasan paling aktif secara geotektonik di dunia, seperti Jepang dan Chili.

“Wilayah Indonesia Timur dikenal sebagai salah satu pusat aktivitas seismik dan vulkanik tertinggi di dunia,” ungkap tim riset.

Dampaknya, kawasan ini kerap dilanda gempa dengan magnitudo yang beragam. Aktivitas tektonik tersebut juga berkaitan dengan aktivitas vulkanik serta perubahan bentuk daratan dan dasar laut.

Di era modern, salah satu peristiwa besar terjadi pada 12 Desember 1992, ketika gempa Flores mengguncang NTT sekuat M7,8 dan memicu tsunami 25 meter yang menerjang sejumlah wilayah pesisir. Bencana tersebut menimbulkan 2.500 korban jiwa dan membuat pemerintah menjadikannya bencana nasional. 

Jauh sebelumnya, kawasan Ambon dan Laut Banda juga pernah mengalami gempa besar yang disusul tsunami. Paling dahsyat terjadi di Banda pada 1629 ketika tsunami puluhan meter meratakan wilayah tersebut.

Dari sini, sejarah memperlihatkan bahwa gempa besar di Indonesia Timur bukan fenomena baru. Kondisi geologi kawasan ini membuat aktivitas tektonik terus berlangsung. Karena itu, pemahaman dan kesiapsiagaan terhadap mitigasi bencana perlu terus ditanamkan kepada masyarakat dan seluruh elemen terkait.

(mfa/mfa)

[Gambas:Video CNBC]

Source link

Share

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *