
Catatan: Artikel ini merupakan opini pribadi penulis dan tidak mencerminkan pandangan Redaksi CNBCIndonesia.com
Dua indikator terkait sektor industri pengolahan (manufaktur) datang dari dua institusi yang berbeda, dan penting untuk dicermati. Bank Indonesia melaporkan Prompt Manufacturing Index (PMI-BI) untuk triwulan II 2026 berada di angka 51,43%, masih di zona ekspansi meskipun sedikit melambat dari 52,03% pada triwulan sebelumnya.
Sementara itu, S&P Global merilis Purchasing Managers’ Index (PMI Manufaktur) Indonesia untuk Juli 2026 yang membaik ke 50,2, setelah sempat terjun ke zona kontraksi di angka 46,9 pada Juni lalu. Kedua indikator sama-sama berada di atas ambang 50, tanda bahwa industri manufaktur nasional masih ada di fase ekspansi.
Tetapi jangan buru-buru bersantai. Jika dilihat lebih seksama mesin industri pengolahan nasional masih perlu banyak dukungan untuk kembali ke kecepatan penuh.
PMI-BI bersifat kuartalan dengan cakupan yang luas, disurvei langsung ke lebih dari 600 industri manufaktur domestik, cocok untuk melihat tren jangka menengah yang lebih stabil.
Adapun PMI S&P Global bersifat bulanan, dilakukan di puluhan negara dengan standar metodologi yang sama. PMI S&P lebih sensitif menangkap guncangan jangka pendek, seperti yang terlihat saat PMI anjlok tajam pada Juni lalu, sebelum menguat kembali pada Juli.
Angka PMI S&P Global disusun dari survei terhadap manajer pengadaan di sejumlah perusahaan manufaktur. Para manajer pengadaan ini adalah orang-orang yang paling dulu tahu Ketika pesanan pabrik mulai seret atau justru membanjir, karena merekalah yang mengatur pembelian bahan baku dan tingkat persediaan.
Aktivitas mereka mencerminkan volume produksi, yang juga akan berpengaruh ke rekrutmen pekerja. Angka di atas 50 berarti mayoritas responden melihat kondisi saat ini dan satu periode kedepan membaik dibanding periode sebelumnya sehingga perusahaan melakukan ekspansi; di bawah 50 berarti memburuk dan perusahaan menahan ekspansi.
Di sinilah pentingnya membaca dua PMI ini bersamaan, bukan memilih salah satu. Bukan lagi soal angka siapa lebih akurat, tapi soal resolusi: yang satu memberi gambaran musiman, yang lain memberi gambaran situasi bulanan. Dan yang lebih penting dari sekadar angka headline adalah angka dari komponen pembentuk yang ada di baliknya.
Pada PMI-BI, angkanya merupakan indeks komposit yang terdiri dari lima komponen. Pada kuartal II-2026 tercatat tiga komponen yang menunjukkan ekspansi, yaitu volume produksi, volume total pesanan dan volume persediaan barang jadi, tetapi terdapat dua komponen yang menunjukkan kontraksi yaitu kecepatan penerimaan barang input dan jumlah tenaga kerja.
Pada PMI S&P Global, indeksnya juga dibentuk dari lima komponen. Pada Juli 2026 tercatat kenaikan indeks yang ditopang oleh tiga komponen yang melakukan ekspansi, yaitu output, pesanan baru dan tenaga kerja, sedangkan dua komponen lain masih mencatat pelemahan, yaitu waktu pengiriman pemasok dan stok barang.
Dari pendalaman komponen kedua indeks tersebut, terlihat perlunya perhatian serius pada aspek pasokan bahan baku dan bahan penolong, baik untuk produksi maupun persediaan. Dalam jangka pendek salah satu kebijakan yang dapat ditempuh adalah mendorong agregasi impor serta mencari alternatif negara asal bahan baku.
Importir dan produsen dapat melakukan agregasi permintaan, di mana pembelian melalui asosiasi industri atau koperasi dalam jumlah besar dapat meningkatkan daya tawar terhadap pemasok global, sekaligus menurunkan biaya logistik per-unit, baik dalam pengiriman internasional maupun distribusi dalam negeri.
Dalam jangka menengah-panjang berbagai perjanjian perdagangan bebas yang dimiliki Indonesia juga harus dimanfaatkan untuk meningkatkan kepastian pasokan bahan baku industri, terutama bahan dan produk kimia dan petrokimia, logam dan mineral dasar, produk pertanian dan pangan, serta komponen elektronika.
Komponen lain yang juga perlu mendapat perhatian adalah aspek ketenagakerjaan. Membaiknya angka PMI secara keseluruhan tidak serta merta diikuti lonjakan penambahan tenaga kerja, karena industri lebih banyak bersikap menunggu perkembangan dan menghindari komitmen jangka panjang seperti rekrutmen pekerja.
Salah satu skema yang dapat dipertimbangkan adalah penundaan pembayaran jaminan sosial oleh perusahaan. Langkah cepat lain adalah perluasan dan kemudahan subsidi upah atau insentif pajak penghasilan karyawan (PPh 21 DTP) khusus untuk sektor padat karya yang masih mempertahankan atau menambah tenaga kerja, daripada insentif pajak korporasi yang lebih menguntungkan industri padat modal dan sektor pertambangan.
Selain itu, meskipun terjadi ekspansi pada komponen volume/output produksi, pesanan baru dan persediaan, tetapi perlu diwaspadai tantangan dari pelemahan ekspor. Survei S&P Global mencatat pesanan ekspor baru terus menyusut selama lima bulan berturut-turut. Surplus neraca perdagangan yang telah berlangsung selama 72 bulan berturut-turut sejak Mei 2020 harus berakhir dan berubah menjadi defisit selama Mei dan Juni.
Insentif lain yang paling mendesak adalah percepatan restitusi pajak ekspor serta perluasan fasilitas pembiayaan ekspor berbunga rendah lewat LPEI agar eksportir manufaktur non-ekstraktif -terutama di sektor yang paling terpukul yaitu tekstil, alas kaki, dan furnitur– punya modal kerja untuk tetap berproduksi sambil menunggu permintaan global pulih.
Dalam jangka menengah-panjang perlu juga optimalisasi perjanjian perdagangan bebas yang telah dimiliki Indonesia serta percepatan negosiasi akses pasar ke negara tujuan ekspor alternatif, mengingat tekanan tarif dagang global ikut menekan ekspor.
Mengapa dua indeks ini patut mendapat perhatian serius dan mengapa menjaga sektor manufaktur adalah mutlak? Karena manufaktur bukan sekadar salah satu dari sekian sektor ekonomi. Ia mengolah dan memberi nilai tambah pada sektor primer –pertanian dan pertambangan-di hulu. Ia juga menyerap tenaga kerja dalam jumlah besar, menciptakan efek berantai ke sektor logistik dan perdagangan, dan menjadi tulang punggung ekspor non-komoditas.
Rebound PMI S&P Global bulan Juli dan level ekspansif PMI-BI kuartal II-2026 layak disyukuri sebagai tanda bahwa industri pengolahan nasional masih bertahan di tengah tantangan global dan domestik. Tetapi optimisme yang sehat adalah yang tetap memperhatikan komponen yang melemah, bukan yang cuma merayakan angka indeks agregat. Dan menjaga sektor manufaktur, pada akhirnya adalah cara kita menjaga pertumbuhan ekonomi yang berkualitas.
(miq/miq)
Leave a comment