
Jakarta, CNBC Indonesia – Pasar keuangan Indonesia bergerak beragam pada perdagangan Jumat pekan lalu. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dan rupiah kompak menguat, sementara obligasi pemerintah menghadapi tekanan.
Pasar keuangan diperkirakan akan menghadapi sejumlah tekanan pada pekan ini. Selengkapnya mengenai proyeksi pasar keuangan hari ini dan sepekan ke depan dapat dibaca pada halaman tiga artikel ini.
IHSG ditutup menguat 0,37% ke level 6.525,69 pada perdagangan Jumat (21/8/2026). Penguatan indeks berlangsung di tengah ramainya transaksi saham dan masuknya dana investor asing.
Nilai transaksi saham mencapai Rp17,47 triliun dengan volume 59,12 miliar saham dan frekuensi transaksi sebanyak 2,25 juta kali. Sebanyak 319 saham menguat, 294 saham melemah, dan 178 saham tidak bergerak.
Kenaikan IHSG ditopang oleh penguatan saham-saham perbankan, terutama bank pelat merah. Saham PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. (BBNI) melesat 3,90% ke Rp3.730, sementara PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (BBRI) menguat 2,87% menjadi Rp3.230.
Saham PT Bank Syariah Indonesia (Persero) Tbk. (BRIS) turut naik 1,98% ke Rp1.805. Disusul PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. (BMRI) yang menguat 1,69% menjadi Rp4.220 dan PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk. (BBTN) yang naik 1,66% ke Rp1.225.
Saham PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA) juga mencatat penguatan 0,78% menjadi Rp6.450.
Beralih ke pasar valuta asing, rupiah menutup perdagangan pekan lalu dengan kinerja perkasa terhadap dolar Amerika Serikat (AS).
Merujuk data Refinitiv, rupiah pada Jumat (21/8/2026) ditutup menguat 0,31% ke posisi Rp17.685/US$.
Penguatan tersebut memperpanjang tren positif rupiah menjadi tiga hari perdagangan beruntun. Posisi Rp17.685/US$ juga menjadi penutupan terkuat sejak 22 Mei 2026 atau hampir tiga bulan terakhir.
Pada awal perdagangan, rupiah dibuka menguat 0,14% ke posisi Rp17.720/US$, kemudian bertambah kuat 35 poin hingga penutupan.
Secara mingguan, mata uang Garuda membukukan apresiasi sekitar 0,76% dibandingkan posisi penutupan Jumat sebelumnya di Rp17.820/US$.
Sementara itu, pasar obligasi pemerintah bergerak melemah. Imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN) tenor 10 tahun naik 0,43% pada Jumat kemarin hingga ditutup di 6,960%.
Kenaikan imbal hasil menunjukkan harga obligasi pemerintah bergerak turun karena hubungan keduanya berbanding terbalik.
Bursa saham AS ditutup menguat pada perdagangan Jumat (21/8/2026). Investor kembali masuk ke pasar setelah aksi jual pada sesi sebelumnya yang dipicu kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS.
Indeks S&P 500 naik 0,43% ke posisi 7.674,37. Nasdaq Composite juga menguat 0,43% menjadi 26.180,45.
Sementara itu, Dow Jones Industrial Average melonjak 517,80 poin atau 0,98% dan ditutup di level 53.277,01. Penguatan indeks ditopang kenaikan saham perusahaan kesehatan, termasuk Merck dan Johnson & Johnson.
Sektor keuangan turut menopang pasar. Saham-saham yang berkaitan dengan mata uang kripto mencatat penguatan setelah harga bitcoin melonjak 22% sepanjang pekan.
Saham Robinhood naik hampir 14%, sementara Coinbase menguat 8%. Sektor bahan baku juga bergerak positif dengan kenaikan sekitar 2%.
Meski kembali menguat pada Jumat, Wall Street belum mampu menghapus tekanan sepanjang pekan.
S&P 500 tercatat melemah 1,4% dalam sepekan, sedangkan Nasdaq turun 2%. Kedua indeks tersebut menghentikan tren penguatan yang sebelumnya berlangsung selama tiga pekan berturut-turut.
Dow Jones juga turun 0,9% sepanjang pekan dan mencatat pelemahan mingguan kedua secara beruntun.
Tekanan tidak hanya terjadi di pasar saham AS. Indeks MSCI All Country World, yang mencerminkan pergerakan saham di berbagai negara, juga turun hampir 1% dalam sepekan.
Pelemahan pasar berlangsung di tengah kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS. Investor mencemaskan kenaikan harga minyak akibat konflik di Timur Tengah dapat kembali mendorong inflasi.
Pada Jumat, imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun naik lebih dari tiga basis poin ke posisi 4,734%. Imbal hasil obligasi tenor 30 tahun juga meningkat lebih dari tiga basis poin menjadi 5,273%.
Kenaikan imbal hasil obligasi meningkatkan daya tarik aset berpendapatan tetap sekaligus memperbesar biaya pendanaan, sehingga dapat menekan pasar saham.
Pendiri sekaligus CEO Verdence Capital Advisors, Leo Kelly, memperingatkan pasar saham berpotensi menghadapi tekanan lebih besar apabila imbal hasil obligasi terus meningkat dan ketegangan di Timur Tengah tidak mereda.
“Pasar sudah menyesuaikan diri dengan imbal hasil 4% sampai 5% untuk obligasi tenor 10 tahun. Jika terjadi sesuatu dan imbal hasil melonjak ke kisaran 6% hingga 7%, itu akan menjadi masalah dan pasar akan merespons negatif,” kata Kelly, dikutip dari CNBC International.
Pelaku pasar selanjutnya menantikan pidato Ketua bank Sentral AS (The Federal Reserve/The Fed), Kevin Warsh, dalam Simposium Kebijakan Ekonomi Jackson Hole pekan ini.
Pidato tersebut diharapkan memberikan gambaran mengenai arah kebijakan moneter AS di tengah kenaikan imbal hasil obligasi, perkembangan inflasi, dan ketidakpastian global.
Pasar keuangan Indonesia memasuki pekan perdagangan keempat bulan ini dengan sejumlah sentimen penting dari dalam dan luar negeri. Aktivitas perdagangan pekan ini juga berlangsung lebih singkat karena libur nasional Maulid Nabi Muhammad SAW pada Selasa (25/8/2026).
Dari dalam negeri, pelaku pasar masih mencermati hasil Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) kuartal II-2026 serta perkembangan uang beredar Juli 2026 yang diumumkan Bank Indonesia (BI) pada Jumat pekan lalu.
Sementara dari global, perhatian investor akan tertuju pada data inflasi dan pertumbuhan ekonomi Amerika Serikat (AS), perkembangan pendapatan serta belanja masyarakat AS, hingga pidato Ketua The Fed Kevin Warsh dalam Simposium Jackson Hole.
Berikut adalah beberapa sentimen yang diperkirakan dapat memengaruhi arah dan pergerakan pasar keuangan domestik selama sepekan ini.
1. Perkembangan Perang: Iran Tantang Sanksi AS, Washington Disebut Mulai Putus Asa
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi menilai ancaman sanksi baru Amerika Serikat menunjukkan Washington mulai putus asa. Ia menegaskan tekanan ekonomi terbaru tidak akan membuat Teheran menyerah.
Menteri Keuangan AS Scott Bessent sebelumnya mengancam akan menjatuhkan “sanksi terberat dalam sejarah” terhadap Iran.
Ekonomi Iran memang telah tertekan akibat sanksi dan serangan militer. Namun, Teheran tetap melawan dengan membuat lalu lintas pelayaran di Selat Hormuz nyaris lumpuh, sehingga turut mendorong kenaikan harga minyak dunia.
Araqchi menilai berbagai tekanan AS, mulai dari sanksi hingga operasi militer, telah gagal. “Masalah baru ini juga akan gagal,” ujarnya.
Di tengah situasi tersebut, China menjadi sorotan karena membeli lebih dari 80% minyak Iran yang dikirim melalui laut. AS mendesak Beijing ikut menekan Teheran, sementara China menyerukan penyelesaian konflik melalui diplomasi.
Pakistan juga berupaya menjadi mediator. Kepala Angkatan Darat Pakistan Asim Munir dijadwalkan mengunjungi Teheran untuk membahas perkembangan konflik dan ancaman sanksi baru AS.
Sementara itu, Presiden Iran Masoud Pezeshkian menyerukan solusi diplomatik dan mengatakan perang sebaiknya diakhiri saat Iran masih berada dalam posisi kuat.
2. Defisit Neraca Pembayaran Indonesia Menyusut Tajam
Bank Indonesia melaporkan Neraca Pembayaran Indonesia pada kuartal II-2026 mencatat defisit US$0,9 miliar. Angka tersebut jauh lebih rendah dibandingkan defisit kuartal sebelumnya yang mencapai US$9,1 miliar.
Penyusutan defisit terutama ditopang perbaikan transaksi modal dan finansial yang berbalik mencatat surplus US$12 miliar. Pada kuartal I-2026, transaksi tersebut masih mengalami defisit US$4,8 miliar.
Perubahan posisi transaksi modal dan finansial menunjukkan adanya peningkatan arus modal masuk ke Indonesia, baik melalui investasi langsung maupun investasi portofolio.
Investasi portofolio meningkat seiring daya tarik imbal hasil instrumen keuangan domestik, termasuk Surat Berharga Negara (SBN) dan Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI).
Sementara itu, investasi langsung mencatat surplus lebih tinggi, sedangkan defisit investasi lainnya menyusut dibandingkan kuartal sebelumnya.
Meski NPI membaik, transaksi berjalan justru mengalami tekanan lebih besar. Defisit transaksi berjalan melebar menjadi US$12,5 miliar atau sekitar 3,3% dari produk domestik bruto (PDB), dibandingkan US$3,6 miliar atau 1,0% dari PDB pada kuartal sebelumnya.
Pelebaran defisit terutama dipengaruhi kenaikan impor minyak di tengah tingginya harga energi global, serta meningkatnya impor nonmigas untuk memenuhi kebutuhan ekonomi dalam negeri.
Posisi cadangan devisa Indonesia pada akhir Juni 2026 tercatat US$145,6 miliar, setara pembiayaan 5,6 bulan impor.
Perbaikan NPI dapat menopang sentimen terhadap rupiah dan aset keuangan Indonesia. Namun, pelebaran defisit transaksi berjalan tetap perlu diperhatikan karena meningkatkan kebutuhan devisa di tengah ketidakpastian global.
3. Pertumbuhan Uang Beredar Melambat, Kredit Meningkat
Bank Indonesia juga melaporkan uang beredar dalam arti luas atau M2 pada Juli 2026 mencapai Rp10.371,1 triliun.
Jumlah tersebut tumbuh 8,3% secara tahunan (year-on-year/yoy), tetapi melambat dibandingkan pertumbuhan Juni 2026 sebesar 8,7%.
Secara nominal, posisi uang beredar pada Juli turun Rp61,7 triliun dibandingkan Juni yang mencapai Rp10.432,8 triliun.
Berdasarkan komponennya, uang beredar sempit atau M1 tumbuh 10% secara tahunan. Sementara uang kuasi, yang antara lain mencakup tabungan dan deposito, meningkat 5,6%.
Pertumbuhan M2 terutama dipengaruhi penyaluran kredit serta perkembangan tagihan bersih kepada pemerintah pusat.
Penyaluran kredit pada Juli tumbuh 13% secara tahunan, meningkat dibandingkan pertumbuhan 12,1% pada Juni. Kenaikan tersebut menunjukkan pembiayaan perbankan masih terus bertambah meskipun pertumbuhan uang beredar melambat.
Sementara itu, tagihan bersih kepada pemerintah pusat tumbuh 4,6%, lebih rendah dibandingkan pertumbuhan 10,1% pada bulan sebelumnya.
Perkembangan kredit dapat menjadi sentimen positif bagi saham-saham perbankan, terutama setelah sektor tersebut menopang penguatan IHSG pada perdagangan Jumat pekan lalu.
Namun, perlambatan pertumbuhan uang beredar juga akan dicermati untuk melihat kecukupan likuiditas di tengah tingginya kebutuhan pembiayaan dan suku bunga acuan BI yang masih berada di level 5,75%.
4 Inflasi PCE Amerika Serikat
AS akan mengumumkan inflasi Personal Consumption Expenditures atau PCE periode Juli pada Rabu (26/8/2026) pukul 19.30 WIB.
Sebagai catatan, inflasi berdasarkan PCE Amerika Serikat melandai pada Juni 2026. Indeks PCE turun 0,1% secara bulanan, berbalik dari kenaikan 0,5% pada Mei.
Secara tahunan, inflasi PCE turun menjadi 3,7% dari 4,1% pada bulan sebelumnya, sesuai ekspektasi pasar.
Sementara itu, core PCE yang tidak memasukkan harga pangan dan energi hanya naik 0,1% secara bulanan, melambat dari 0,3% pada Mei dan di bawah ekspektasi 0,2%.
Secara tahunan, core PCE juga turun tipis menjadi 3,3% dari 3,4%.
Konsensus memperkirakan PCE inti tumbuh 0,2% secara bulanan (month-to-month/mtm), lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan 0,1% pada Juni. Sementara proyeksi Trading Economics menunjukkan kenaikan sebesar 0,3%.
PCE dan PCE inti merupakan salah satu indikator inflasi yang paling diperhatikan bank sentral AS atau Federal Reserve (The Fed). Data tersebut akan menunjukkan seberapa kuat tekanan harga yang berasal dari konsumsi masyarakat.
Inflasi yang lebih tinggi dari perkiraan dapat memperkuat ekspektasi bahwa The Fed akan mempertahankan kebijakan moneter ketat lebih lama atau kembali menaikkan suku bunga.
Kondisi tersebut berpotensi mendorong dolar AS dan imbal hasil US Treasury sekaligus menekan rupiah, harga emas, obligasi, dan saham-saham yang sensitif terhadap suku bunga.
Sebaliknya, inflasi yang lebih rendah dari perkiraan dapat meningkatkan harapan bahwa tekanan harga mulai mereda. Kondisi tersebut berpotensi meningkatkan minat investor terhadap aset negara berkembang, termasuk saham dan obligasi Indonesia.
5. Pertumbuhan Ekonomi AS Kuartal II-2026
AS juga akan mengumumkan estimasi kedua pertumbuhan ekonomi kuartal II-2026 pada Rabu pukul 19.30 WIB.
Estimasi awal menunjukkan produk domestik bruto (PDB) AS tumbuh 1,5% secara tahunan terannualisasi, melambat dibandingkan pertumbuhan 2,1% pada kuartal I-2026.
Pasar akan mencermati apakah angka pertumbuhan tersebut direvisi serta komponen yang menjadi penggeraknya, mulai dari konsumsi, investasi, inventori, perdagangan, hingga belanja pemerintah.
Pertumbuhan yang direvisi naik dapat memperkuat pandangan bahwa ekonomi AS masih mampu bertahan di tengah tingginya biaya pinjaman. Namun, jika dibarengi inflasi PCE yang panas, pasar dapat menilai The Fed masih mempunyai ruang untuk mempertahankan suku bunga tinggi.
Sebaliknya, revisi tajam ke bawah berpotensi menekan dolar AS dan imbal hasil obligasi. Angka yang terlalu lemah juga dapat meningkatkan kekhawatiran terhadap perlambatan ekonomi AS sehingga membebani pasar saham dan harga komoditas.
6. Pendapatan dan Belanja Masyarakat AS
Data pendapatan dan belanja masyarakat AS periode Juli juga akan diumumkan pada Rabu pukul 19.30 WIB.
Konsensus memperkirakan pendapatan masyarakat atau personal income tumbuh 0,3% secara bulanan, meningkat dari 0,2% pada Juni. Trading Economics memproyeksikan pertumbuhan sebesar 0,2%.
Sementara itu, belanja masyarakat atau personal spending diperkirakan tumbuh 0,2%, melambat dari kenaikan 0,3% pada Juni. Proyeksi Trading Economics menunjukkan pertumbuhan belanja tetap sebesar 0,3%.
Data tersebut penting karena konsumsi rumah tangga menjadi salah satu penggerak utama ekonomi AS. Pasar juga akan membandingkan pertumbuhan pendapatan dengan belanja masyarakat.
Belanja yang tumbuh lebih cepat dibandingkan pendapatan dapat menunjukkan konsumen mulai menggunakan tabungan atau menambah utang untuk mempertahankan konsumsi.
Konsumsi yang kuat dapat menopang pertumbuhan ekonomi dan pendapatan perusahaan. Namun, belanja yang terlalu tinggi juga berpotensi menjaga tekanan inflasi dan mempersempit ruang The Fed untuk melonggarkan kebijakan.
Sebaliknya, pelemahan belanja dapat menunjukkan rumah tangga mulai mengurangi konsumsi akibat tingginya harga, biaya kredit, atau kekhawatiran terhadap kondisi pasar tenaga kerja.
7. Simposium Jackson Hole
Jackson Hole Economic Policy Symposium akan berlangsung pada Kamis hingga Sabtu (27-29/8/2026). Pertemuan tahun ini mengangkat tema “Financial Innovation: Implications for Payments and Policy.”
Forum tahunan yang sangat penting ini mempertemukan para bankir sentral, ekonom, akademisi, dan pelaku pasar keuangan dari berbagai negara.
Ketua The Fed Kevin Warsh dijadwalkan menyampaikan pidato utama pada Jumat (28/8/2026) pukul 10.00 waktu AS atau sekitar pukul 21.00 WIB. Ini akan menjadi pidato utama pertamanya di Jackson Hole sejak menjabat sebagai Ketua The Fed.
Investor akan mencari petunjuk mengenai pandangan Warsh terhadap inflasi, kenaikan imbal hasil US Treasury, kondisi ekonomi, serta arah suku bunga AS.
Perhatian terhadap Warsh semakin besar setelah risalah rapat The Fed periode Juli menunjukkan banyak pejabat menilai kenaikan suku bunga mungkin diperlukan jika inflasi tetap tinggi.
Pernyataan yang menekankan risiko inflasi dapat memperkuat ekspektasi bahwa suku bunga akan bertahan tinggi lebih lama. Kondisi tersebut berpotensi mengangkat dolar AS dan imbal hasil US Treasury sekaligus menekan rupiah, emas, dan saham negara berkembang.
Sebaliknya, pernyataan yang mengakui pelemahan ekonomi atau pasar tenaga kerja dapat meningkatkan ekspektasi kebijakan moneter yang lebih longgar.
8. Kepercayaan Konsumen Jepang
Jepang akan mengumumkan indeks kepercayaan konsumen periode Agustus pada Jumat (28/8/2026) pukul 12.00 WIB.
Trading Economics memproyeksikan indeks naik tipis menjadi 35 dari posisi 34,9 pada Juli. Data tersebut akan memberikan gambaran mengenai keyakinan rumah tangga terhadap pendapatan, lapangan kerja, dan kemampuan melakukan pembelian barang tahan lama.
Kenaikan kepercayaan konsumen dapat menunjukkan rumah tangga Jepang mulai lebih optimistis meskipun tekanan biaya hidup masih tinggi.
Perbaikan konsumsi juga dapat mendukung yen apabila pasar menilai kondisi ekonomi domestik cukup kuat untuk menopang normalisasi kebijakan Bank of Japan (BOJ).
Sebaliknya, indeks yang kembali melemah dapat menunjukkan kenaikan harga masih membatasi pengeluaran rumah tangga. Kondisi tersebut dapat mengurangi tekanan terhadap BOJ untuk kembali memperketat kebijakan dalam waktu dekat.
Pergerakan yen setelah rilis data ini juga dapat memengaruhi sentimen bursa Asia, terutama apabila terjadi perubahan besar dalam ekspektasi suku bunga Jepang.
9. Revisi Tahunan Tenaga Kerja AS
AS akan merilis revisi awal tahunan data nonfarm payrolls pada Jumat pukul 21.00 WIB, bersamaan dengan jadwal pidato Kevin Warsh di Jackson Hole.
Pada periode sebelumnya, revisi tersebut mencapai minus 911.000 pekerjaan.
Data ini berbeda dengan laporan nonfarm payrolls bulanan. Revisi tahunan dilakukan untuk menyesuaikan estimasi penciptaan lapangan kerja menggunakan data ketenagakerjaan yang lebih lengkap.
Revisi negatif yang kembali besar dapat menunjukkan pasar tenaga kerja AS tidak sekuat laporan awal. Kondisi tersebut berpotensi meningkatkan ekspektasi kebijakan moneter yang lebih longgar serta menekan dolar AS dan imbal hasil US Treasury.
Namun, revisi yang terlalu dalam juga dapat memunculkan kekhawatiran bahwa ekonomi AS sedang kehilangan momentum. Dalam kondisi tersebut, pasar saham dan aset berisiko tetap dapat tertekan meskipun ekspektasi suku bunga menurun.
Sebaliknya, revisi yang lebih kecil dapat memperkuat pandangan bahwa pasar tenaga kerja masih cukup kokoh. Kondisi tersebut dapat mengurangi kebutuhan The Fed untuk melonggarkan kebijakan dalam waktu dekat.
10. Ratusan Hektare Lahan RI Terbakar, Dampak Ekonomi Besar
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyebut kebakaran hutan dan lahan (karhutla) masih mendominasi kejadian bencana yang dilaporkan di sejumlah wilayah Indonesia.
Karhutla terjadi di Halmahera Timur, Maluku Utara, pada Sabtu (22/8). Kebakaran melanda lahan seluas 2,5 hektare di Desa Batu Raja, Kecamatan Wasile. Tidak ada korban jiwa dan api berhasil dipadamkan pada hari yang sama.
Kebakaran dengan skala lebih besar terjadi di Taman Nasional Way Kambas, Lampung Timur, pada Jumat (21/8). Karhutla di kawasan Resort Kuala Penet tersebut menghanguskan 673,4 hektare lahan.
BPBD Lampung Timur bersama instansi terkait langsung melakukan pemadaman untuk mencegah api meluas. Hingga Sabtu (22/8) malam, seluruh titik api berhasil dipadamkan dan tidak lagi ditemukan hotspot di lokasi tersebut.
Data BNPB menunjukkan, lima provinsi di Kalimantan membukukan 135 laporan atau sekitar 29,2% dari total kejadian karhutla nasional sepanjang tahun ini.
Frekuensi karhutla meningkat tajam memasuki pertengahan tahun. Jumlah laporan melonjak dari 39 kejadian pada Juni menjadi 171 kejadian pada Juli. Sementara itu, hingga 18 Agustus sudah terdapat 133 rekaman kejadian.
Artinya, Juli dan paruh pertama Agustus menyumbang hampir dua pertiga dari seluruh laporan karhutla sepanjang tahun berjalan.
Meski demikian, jumlah kejadian tidak bisa disamakan dengan jumlah hotspot ataupun luas lahan terbakar. Satu kebakaran dapat menghasilkan beberapa hotspot, sementara satu laporan kejadian dapat mencakup sejumlah desa atau kecamatan. Hotspot sendiri merupakan indikasi anomali panas yang masih perlu diverifikasi melalui pemeriksaan di lapangan.
Karhutla bukan hanya membakar hutan dan lahan, tetapi juga dapat menggerus perekonomian. Kebakaran dapat merusak lahan pertanian dan perkebunan, mengganggu aktivitas bisnis, distribusi serta transportasi akibat kabut asap, hingga menekan sektor pariwisata.
Di sisi lain, kualitas udara yang buruk dapat meningkatkan biaya kesehatan dan menurunkan produktivitas pekerja.
Pemerintah juga harus menggelontorkan anggaran untuk pemadaman, penanganan korban, hingga pemulihan lingkungan, sementara karhutla yang berulang berpotensi mengganggu ekspor dan menekan reputasi komoditas Indonesia di pasar global.
Berikut sejumlah agenda dan rilis data yang terjadwal untuk hari ini:
- Rilis Inflasi Singapura
- Pengenalan resmi PT Danantara Sumberdaya Indonesia di Auditorium Wisma Dananta, Jakarta Selatan.
Berikut sejumlah agenda emiten di dalam negeri pada hari ini:
– RUPS PT Tower Bersama Infrastructure Tbk. (TBIG).
– RUPSLB PT Mutuagung Lestari Tbk. (MUTU).
– RUPSLB PT Mitra Komunikasi Nusantara Tbk. (MKNT).
– Tanggal Daftar Pemegang Saham (DPS) dan cum dividen pasar tunai dividen interim PT Indonesian Paradise Property Tbk. (INPP).
Berikut sejumlah indikator perekonomian nasional:
CNBC INDONESIA RESEARCH
Sanggahan: Artikel ini adalah produk jurnalistik berupa pandangan CNBC Indonesia Research. Analisis ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investasi terkait. Keputusan sepenuhnya ada pada diri pembaca, sehingga kami tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan tersebut.
Leave a comment