Home Finance Direstui Trump, Raja Salman Selangkah Lagi Dapatkan Situs Nuklir
Finance

Direstui Trump, Raja Salman Selangkah Lagi Dapatkan Situs Nuklir

Share
Direstui Trump, Raja Salman Selangkah Lagi Dapatkan Situs Nuklir
Share




Jakarta, CNBC Indonesia – Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump resmi menyerahkan proposal perjanjian energi nuklir sipil dengan Arab Saudi kepada Kongres pada hari Senin. Langkah agresif ini secara otomatis memulai periode peninjauan wajib untuk membuka akses kerajaan tersebut terhadap teknologi nuklir mutakhir milik AS.

Mengutip CNBC International, Rabu (26/08/2026), seorang pejabat AS mengonfirmasi penyerahan dokumen tersebut kepada jaringan MS NOW. Ia menyatakan bahwa perjanjian yang dipimpin oleh Departemen Energi itu sepenuhnya sejalan dengan Undang-Undang Energi Atom. Laporan pengajuan ini juga pertama kali diberitakan oleh Wall Street Journal pada hari Selasa.

Posisi sang presiden diklaim tetap tidak berubah terkait syarat utama dari pakta tersebut. Kesepakatan raksasa ini hanya akan dilanjutkan jika Arab Saudi bersedia bergabung dengan Perjanjian Abraham (Abraham Accords).

Sebagai latar belakang, kesepakatan yang dicapai pada bulan Juli lalu ini memungkinkan perusahaan AS mengekspor teknologi nuklir sipil ke Arab Saudi. Kesepakatan berdurasi 30 tahun tersebut juga mengharuskan kerajaan untuk membangun reaktor AP1000.

Proyek reaktor itu bernilai puluhan miliar dolar AS yang akan sangat menguntungkan perusahaan Westinghouse. Perusahaan itu sendiri kini dimiliki bersama oleh entitas asal Kanada, Cameco, dan Brookfield Asset Management.

Kongres AS kini memiliki waktu 90 hari sesi berkelanjutan untuk meninjau perjanjian tersebut. Pakta ini akan langsung berlaku secara otomatis jika tidak ada penolakan resmi dari pihak parlemen.

Trump pada bulan lalu sempat mengisyaratkan bahwa persyaratan kesepakatan itu akan mutlak mencegah Arab Saudi melakukan pengayaan uranium. “Tidak akan ada pengayaan material! Perjanjian ini sepenuhnya tunduk pada Arab Saudi yang bergabung dengan Perjanjian Abraham yang sangat dihormati dan sukses,” tegasnya.

Namun, beberapa anggota parlemen dari Partai Demokrat dan para pendukung nonproliferasi mengkritik keras pakta tersebut. Mereka menilai kesepakatan itu tidak menyertakan larangan permanen terhadap pengayaan atau pemrosesan ulang, serta secara nyata melemahkan kontrol standar terhadap penggunaan militer.

Sebaliknya, kesepakatan ini justru hanya mengusulkan fasilitas pengayaan yang dibangun dan dioperasikan oleh AS. Fasilitas tersebut nantinya hanya akan tunduk pada studi kelayakan selama dua tahun.

Peneliti senior di lembaga think tank Atlantic Council, Matthew Kroenig, pada bulan Juli lalu sempat menyoroti risiko dari kesepakatan tersebut. “Washington memang berhak memperkuat hubungannya dengan Riyadh, tetapi hal itu tidak boleh dilakukan dengan mengorbankan standar nonproliferasi senjata nuklirnya,” paparnya.

Matthew memperkirakan studi kelayakan dua tahun itu pada akhirnya akan menyimpulkan bahwa Arab Saudi hanya boleh bergantung pada layanan siklus bahan bakar impor. Menurutnya, hal ini jauh lebih baik daripada mengekspor kemampuan pembuatan bom ke kawasan yang sudah bergejolak.

Peneliti Senior Keamanan Nuklir di Dewan Hubungan Luar Negeri, Erin Dumbacher, menyoroti bahwa kesepakatan bersejarah ini muncul di saat tatanan nuklir global mulai rapuh. Mantan pejabat Departemen Pertahanan AS ini menilai langkah Trump sangat berbeda dari tindakan ketat AS di masa lalu.

“Ini menjadi jalan yang licin menuju lebih banyak negara yang memiliki bahan nuklir tanpa langkah-langkah yang telah menjaga jumlah total negara dengan senjata nuklir hanya sembilan,” ucapnya.

“Lebih banyak bahan nuklir yang tidak terkendali di seluruh dunia dapat menyebabkan kecelakaan, risiko keamanan, dan lebih banyak proliferasi,” imbuhnya.

Di sisi geopolitik, Riyadh telah mengindikasikan bahwa mereka tidak akan menormalisasi hubungan dengan Israel kecuali negara Palestina merdeka diakui. Posisi tawar ini diketahui semakin mengeras semenjak perang Gaza meletus pada 2023.

Situasi ini kian memanas di tengah ancaman proliferasi senjata pemusnah massal di Timur Tengah. Para pejabat Arab Saudi sebelumnya telah menyatakan secara gamblang bahwa kerajaan akan mengejar kemampuan senjata nuklir jika rivalnya, Iran, berhasil mengembangkannya.

(tps/sef)

[Gambas:Video CNBC]

Source link

Share

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *