Home Finance Perang Iran Kuras Kas Angkatan Laut AS, Gaji Tentara Terancam
Finance

Perang Iran Kuras Kas Angkatan Laut AS, Gaji Tentara Terancam

Share
Perang Iran Kuras Kas Angkatan Laut AS, Gaji Tentara Terancam
Share




Jakarta, CNBC Indonesia – Perang Donald Trump terhadap Iran disebut dengan cepat menguras anggaran Angkatan Laut Amerika Serikat (AS), hingga dana untuk kebutuhan lain harus dialihkan demi membiayai operasi tempur.

Dokumen Pentagon yang diperoleh The Guardian dan wawancara dengan pejabat, kontraktor, serta analis pertahanan menunjukkan tekanan keuangan serius di tubuh Angkatan Laut AS. Salah satu memo memperingatkan adanya “kekurangan dalam daftar gaji” karena dana dihimpun untuk membiayai operasi tempur.

Sejumlah pejabat dan mantan pejabat mengatakan kondisi kas tersebut mulai berdampak pada kegiatan rutin.

“Uang untuk penggajian dirampok untuk membayar kontingensi di luar negeri,” ujar seorang pejabat Angkatan Laut yang mengetahui rencana penanganan kekurangan dana.

Operasi AS-Israel terhadap Iran telah menguras persediaan amunisi sekaligus memicu serangan balasan Iran ke sejumlah pangkalan strategis AS di Timur Tengah. Angkatan Laut juga harus menopang operasi blokade laut yang ekstensif, sehingga anggaran 2026 yang mencapai hampir US$300 miliar atau sekitar Rp5.310 triliun mendapat tekanan besar.

Masalah itu bahkan mulai memengaruhi pemeliharaan fasilitas. Seorang pejabat dan kontraktor Angkatan Laut mengatakan sejumlah pekerjaan pemeliharaan non-darurat di fasilitas berbasis pantai telah ditunda akibat keterbatasan dana.

Kepala Operasi Angkatan Laut Laksamana Daryl Caudle sebelumnya telah memperingatkan Kongres bahwa krisis pendanaan akan muncul pada Juli.

“Saya khawatir saya harus mulai membuat keputusan dalam jangka waktu Juli tentang bagaimana saya memaksa generasi,” katanya, seraya memperingatkan bahwa keputusan tersebut dapat memengaruhi latihan dan operasi rutin.

Menteri Pertahanan Pete Hegseth juga mendesak Kongres memberikan pendanaan darurat. Ia mengatakan perang Iran telah menelan biaya US$35,7 miliar atau sekitar Rp631,9 triliun, sementara pemerintahan Trump meminta tambahan US$67 miliar atau sekitar Rp1.185,9 triliun untuk Departemen Pertahanan.

Analis pertahanan Todd Harrison dari American Enterprise Institute menilai persoalan tersebut sebenarnya sudah diketahui di internal militer.

“Mereka hanya tidak berbicara secara terbuka tentang hal itu,” ujarnya.

Sementara itu, mantan perwira militer yang kini bekerja untuk kontraktor Angkatan Laut menggambarkan situasinya lebih keras: “Mereka kacau. Mereka menembak semua senjata mereka… mereka kehabisan uang.”

 

(luc/luc)

[Gambas:Video CNBC]

Source link

Share

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *