
Jakarta, CNBC Indonesia – PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) mencatatkan kinerja impresif sepanjang semester I 2026.
Laba bersih, pendapatan bunga bersih, margin bunga, dan total aset perseroan berada di atas rata-rata bank KBMI IV dalam perbandingan ini. Capaian tersebut turut disertai perbaikan efisiensi operasional.
KBMI merupakan singkatan dari Kelompok Bank berdasarkan Modal Inti. Berdasarkan ketentuan Otoritas Jasa Keuangan (OJK), KBMI IV mencakup bank dengan modal inti lebih dari Rp70 triliun. Pengelompokan ini didasarkan pada modal inti, bukan jumlah aset atau laba bank.
Rata-rata KBMI IV dalam artikel ini dihitung dari empat bank yang dianalisis, termasuk BRI, dengan bobot yang sama. Angka masing-masing indikator dijumlahkan kemudian dibagi empat. BRI ditampilkan dalam kolom tersendiri untuk memperlihatkan posisinya terhadap rata-rata kelompok.
Sepanjang semester I 2026, BRI membukukan laba bersih konsolidasi Rp31,18 triliun.
Adapun laba yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk mencapai Rp30,87 triliun. Angka terakhir digunakan dalam perbandingan agar basis laba antarbank konsisten.
Laba dan Pendapatan Bunga Ungguli Rata-Rata
Laba pemilik induk BRI mencapai Rp30,87 triliun, tertinggi di antara empat bank yang dianalisis. Angka tersebut melampaui rata-rata KBMI IV sebesar Rp25,39 triliun, dengan selisih Rp5,47 triliun atau 21,56%.
Pertumbuhan laba BRI sebesar 17,46% juga berada di atas rata-rata pertumbuhan kelompok, yakni 12,54%. Capaian ini menunjukkan BRI mampu mempertahankan skala laba yang besar sekaligus mencatat pertumbuhan dua digit pada semester I 2026.
Pendapatan bunga bersih atau NII BRI mencapai Rp80,53 triliun, tumbuh 9,90% secara tahunan. Nilainya setara 1,67 kali rata-rata KBMI IV sebesar Rp48,29 triliun dan menjadi yang terbesar dalam perbandingan, dengan selisih Rp32,24 triliun.
NIM BRI sebesar 6,40% juga menjadi yang tertinggi, melampaui rata-rata 4,90%. Selisih sekitar 150 basis poin menunjukkan margin bunga BRI masih lebih tinggi daripada rata-rata kelompok, meskipun turun dari 6,58% pada semester I 2025.
Efisiensi Operasional Membaik
Efisiensi operasional menjadi sisi lain yang mendukung kinerja BRI. Cost to Income Ratio (CIR) bank saja perseroan tercatat sebesar 35,49%, lebih rendah sekitar 75 basis poin dibandingkan rata-rata KBMI IV sebesar 36,24%.
Rasio yang lebih rendah menunjukkan porsi pendapatan operasional yang terserap untuk membiayai kegiatan operasional lebih kecil. Berdasarkan indikator ini, BRI lebih efisien daripada rata-rata kelompok, meskipun bukan yang terendah dalam perbandingan.
Secara konsolidasi, CIR BRI turun dari 41,9% pada semester I 2025 menjadi 39,2% pada semester I 2026, membaik sekitar 270 basis poin. Angka konsolidasi ini mencakup entitas anak, sehingga digunakan untuk menjelaskan perbaikan internal grup dan tidak dicampurkan dengan tabel pembanding berbasis bank saja.
Risiko Kredit Turun
BRI juga mencatat perbaikan kualitas kredit pada semester I-2026. Penurunan risiko kredit tersebut tercermin dari rasio kredit bermasalah atau non-performing loan (NPL) serta loan at risk (LAR) yang membaik. Kondisi ini turut mendorong penurunan cost of credit (CoC) perseroan.
Direktur Utama BRI Hery Gunardi mengatakan NPL BRI pada semester I-2026 turun menjadi 2,9%, dari 3,0% pada periode yang sama tahun sebelumnya.
“Dari sisi NPL membaik 3% jadi 2,9%, tercermin CoC menurun cukup signifikan, 3,4% jadi 3,1%,” ujar Hery dalam konferensi pers paparan kinerja BRI semester 1 2026, Senin (31/8/2026).
Perbaikan kualitas kredit tersebut juga tercermin pada CoC. Hery menyebut CoC BRI turun menjadi 3,1%, dari 3,4% pada semester I-2025.
Penurunan CoC menunjukkan biaya yang harus ditanggung BRI untuk mengantisipasi risiko kredit semakin terkendali. Perbaikan ini menjadi penting karena terjadi di tengah pertumbuhan penyaluran kredit yang kembali menguat.
Aset dan Profitabilitas di Atas Rata-Rata
Total aset konsolidasi BRI mencapai Rp2.352,38 triliun per akhir Juni 2026, dibandingkan rata-rata KBMI IV sebesar Rp2.000,38 triliun. Dengan selisih sekitar Rp352 triliun atau 17,60%, BRI menempati posisi kedua berdasarkan aset dalam kelompok pembanding.
Dibandingkan akhir 2025, aset BRI bertambah Rp217,01 triliun atau tumbuh 10,16% sejak awal tahun. Pertumbuhan ini menggunakan posisi Desember 2025 sebagai pembanding, sehingga berbeda dari pertumbuhan tahunan.
Sementara itu, ROA atau Return on Asset sebelum pajak BRI mencapai 3,30%, melampaui rata-rata KBMI IV sebesar 3,24%. Rasio ini meningkat tipis dari 3,29% pada semester I 2025, atau naik 1 basis poin, melengkapi pertumbuhan laba dan pendapatan bunga bersih perseroan.
–
Sanggahan: Artikel ini adalah produk jurnalistik berupa pandangan CNBC Indonesia Research. Analisis ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investasi terkait. Keputusan sepenuhnya ada pada diri pembaca, sehingga kami tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan tersebut.
CNBC INDONESIA RESEARCH
(gls/gls)
Leave a comment