Home Finance China Sudah Unggul Jauh Raja Dunia Baru, Amerika Makin Tertinggal
Finance

China Sudah Unggul Jauh Raja Dunia Baru, Amerika Makin Tertinggal

Share
China Sudah Unggul Jauh Raja Dunia Baru, Amerika Makin Tertinggal
Share




Jakarta, CNBC Indonesia – Perkembangan kecerdasan buatan dan otomatisasi bergerak begitu cepat sehingga perubahan yang terjadi dalam sehari saja sudah cukup mengubah wajah dunia. Inilah yang kini dialami China. Di bawah dorongan pemerintah dan dukungan dana masif senilai US$ 20 miliar atau sekitar Rp 355 triliun, China melesat menjadi pemimpin dunia dalam bidang robotik dan manufaktur pintar. Sementara itu, Amerika Serikat dinilai masih tertinggal jauh di belakang, terutama dalam hal penerapan teknologi di dunia nyata.

Perubahan itu terasa begitu nyata hingga Chen Tianyu, seorang pengajar AI berusia 28 tahun, menyampaikan perasaannya dengan kalimat sederhana tetapi mendalam.

“Saya tidur dan dunia berubah,” ujarnya.

Chen menghabiskan waktunya berkeliling mengunjungi pabrik-pabrik yang sedang beralih ke sistem otomatisasi. Di hadapannya, puluhan mahasiswa sibuk mengetik kode agar robot dapat memindahkan benda dari satu tempat ke tempat lain. Inilah gambaran nyata dari ambisi besar China menguasai masa depan teknologi sebelum negara lain sadar soal teknologi tersebut.

Bukti kemajuan China bukan sekadar rencana di atas kertas. Saat ini, lebih dari dua juta unit robot industri telah terpasang dan beroperasi di berbagai pabrik di seluruh penjuru negeri, jumlah terbanyak di dunia.

Tidak hanya pengguna, China juga kini menjadi tempat produksi utama dunia. Lebih dari separuh robot industri yang dibuat di seluruh dunia saat ini diproduksi di negeri itu. Mulai dari motor, baterai, komponen elektronik, hingga sensor, seluruh rantai pasok pembuatan robot tersedia dalam satu ekosistem.

Jika seseorang ingin membuat robot di Shenzhen, seluruh komponen yang dibutuhkannya dapat diperoleh dalam waktu kurang dari 1 jam. Keunggulan ini sulit ditandingi oleh negara lain.

Solusi atau Ancaman bagi Pekerja?

Langkah besar ini didorong oleh satu alasan mendesak. Jumlah penduduk China menyusut dan menua dengan sangat cepat. Pada tahun 2035, lebih dari sepertiga penduduk China akan berusia di atas 60 tahun. Dalam 10 tahun ke depan, negara ini diproyeksikan kehilangan 60 juta penduduk usia kerja. Otomatisasi dan robotika dianggap sebagai satu-satunya cara untuk mengisi kekosongan tenaga kerja tersebut agar perekonomian terus berjalan.

Namun di sisi lain, sekitar 120 juta orang masih menggantungkan hidup dari sektor manufaktur. Jika peralihan berlangsung terlalu cepat, dikhawatirkan akan muncul gelombang pengangguran besar-besaran.

Di pabrik kendaraan listrik Leapmotor, bengkel pencetakan logam, pengelasan, dan pengecatan sudah sepenuhnya dikerjakan mesin. Manusia kini hanya tersisa di pos pemeriksaan akhir. Namun pihak perusahaan pun tidak menampik, tak lama lagi posisi itu pun kemungkinan akan digantikan oleh mesin.

AS Masih Unggul di “Otak”, Namun Terancam Tersalip

Persaingan antara China dan Amerika Serikat kini berada di posisi yang menarik. China unggul jauh dalam hal perangkat keras, produksi massal, dan penerapan teknologi di dunia nyata. Sementara itu, Amerika Serikat masih memimpin dalam hal pengembangan perangkat lunak, pemrograman kecerdasan buatan, dan model AI yang paling canggih.

Namun jarak itu semakin menyempit. Perusahaan rintisan China seperti DeepSeek dan Moonshot terus meluncurkan model kecerdasan buatan bersifat open source yang kemampuannya setara dengan buatan Amerika Serikat. Bahkan di tengah pembatasan ekspor chip canggih yang diberlakukan Washington, perusahaan China tetap mampu melahirkan teknologi yang bersaing ketat. Artinya, keunggulan Amerika Serikat di bidang kecerdasan buatan tidak lagi sejauh sebelumnya.

Bagi para pemuda di China seperti Chen Tianyu, perubahan ini adalah hal yang sekaligus membanggakan dan menakutkan. Di satu sisi, lulusan sekolah kejuruan kini sangat dicari dan sudah dijanjikan pekerjaan bahkan sebelum mereka lulus. Di sisi lain, tidak ada yang tahu pasti berapa lama lagi pekerjaan-pekerjaan itu akan tetap dibutuhkan.

“Murid-murid saya bertanya apa yang akan terjadi di masa depan,” ujar Chen. “Saya jawab saya tidak tahu. Teknologi berubah begitu cepat. Tapi kita tidak bisa hanya diam dan tidur di sini. Kita harus maju untuk melihat apa yang mampu kita lakukan.”

(dem/dem)

[Gambas:Video CNBC]

Source link

Share

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *