Home Finance Rupiah Kembali Pimpin Asia Tendang Dolar, Yen Loyo Usai Terbang
Finance

Rupiah Kembali Pimpin Asia Tendang Dolar, Yen Loyo Usai Terbang

Share
Rupiah Kembali Pimpin Asia Tendang Dolar, Yen Loyo Usai Terbang
Share


Jakarta, CNBC Indonesia – Mata uang Asia tak seragam melawan dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan terakhir pekan ini, Jumat (4/9/2026). Dolar AS memang menguat pagi ini, tetapi tekanan greenback masih terbatas setelah melemah tajam pada perdagangan sebelumnya.

Merujuk data Refinitiv per pukul 09.57 WIB, dari 10 mata uang Asia, sebanyak lima mata uang terpantau menguat terhadap dolar AS. Sementara lima lainnya melemah.

Rupiah menjadi mata uang dengan penguatan paling tajam di Asia pagi ini. Mata uang Garuda menguat 0,17% ke posisi Rp17.620/US$.

Peso Filipina menyusul dengan penguatan 0,16% ke PHP 62,355/US$. Won Korea Selatan dan yuan China sama-sama naik 0,03%, masing-masing ke KRW 1.355,9/US$ dan CNY 6,7162/US$.

Dolar Taiwan juga bergerak positif dengan penguatan 0,02% ke posisi TWD 31,715/US$.

Di sisi lain, yen Jepang menjadi mata uang dengan tekanan paling dalam di Asia pagi ini. Yen melemah 0,13% ke posisi JPY 156,02/US$.

Meski begitu, pelemahan yen pagi ini terjadi setelah mata uang Jepang tersebut menguat sangat tajam pada perdagangan Kamis, yen sempat melonjak lebih dari 2% terhadap dolar AS, seiring meningkatnya ekspektasi pasar bahwa Bank of Japan (BOJ) akan menaikkan suku bunga pada bulan ini.

Dong Vietnam turun 0,08% ke VND 26.090/US$, disusul ringgit Malaysia yang melemah 0,05% ke MYR 4,041/US$. Baht Thailand terkoreksi 0,03% ke THB 32,92/US$, sementara dolar Singapura turun 0,02% ke SGD 1,2667/US$.


Pergerakan mata uang Asia pagi ini masih dipengaruhi dinamika dolar AS. Indeks dolar AS atau DXY pada waktu yang sama terpantau menguat 0,08% ke posisi 98,989.

Namun, penguatan DXY pagi ini terjadi setelah dolar AS melemah sangat tajam pada perdagangan Kamis. DXY sebelumnya ditutup anjlok 0,69% ke posisi 98,91.

Pelemahan tajam dolar AS pada perdagangan sebelumnya terutama dipicu oleh penguatan besar yen Jepang. Yen melonjak lebih dari 2% terhadap dolar AS setelah pelaku pasar meningkatkan taruhan bahwa Bank of Japan akan menaikkan suku bunga pada bulan ini.

Penguatan yen sempat memunculkan spekulasi adanya intervensi otoritas Jepang untuk menahan pelemahan mata uangnya. Namun, analis menilai pergerakan tersebut lebih banyak dipicu ekspektasi kenaikan suku bunga BOJ, bukan aksi intervensi langsung.

Data rekening harian BOJ juga menunjukkan tidak ada indikasi penjualan dolar AS dan pembelian yen oleh Kementerian Keuangan Jepang pada Rabu.

“Data rekening harian BOJ yang dirilis hari ini menunjukkan tidak ada penjualan dolar AS atau pembelian yen oleh Kementerian Keuangan pada Rabu. Laporan dari pelaku pasar juga menunjukkan tidak ada rate check oleh Kementerian Keuangan kemarin,” ujar Jeremy Stretch, chief international strategist CIBC Capital Markets, dikutip dari Reuters.

Pelaku pasar kini memperkirakan peluang kenaikan suku bunga BOJ sebesar 25 basis poin pada bulan ini mencapai 75%. Sebagian pelaku pasar bahkan mulai berspekulasi bahwa kenaikan yang lebih besar masih mungkin terjadi.

Selain faktor yen, dolar AS juga tertekan setelah Gubernur The Fed Christopher Waller memberi sinyal yang lebih hati-hati. Waller menyampaikan bahwa jika data mendatang mengonfirmasi tekanan inflasi mulai mereda, ia cenderung mendukung agar suku bunga tetap dipertahankan pada rapat kebijakan berikutnya.

Komentar tersebut membuat pasar memangkas ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed pada September. Peluang kenaikan suku bunga bulan ini turun menjadi 48%, dari 59% sebelum pernyataan Waller.

Pasar kini menunggu data tenaga kerja AS yang akan dirilis Jumat waktu setempat. Laporan tersebut diperkirakan menunjukkan ekonomi AS menambah 56.000 pekerjaan pada Agustus, setelah pada Juli mencatat penurunan mengejutkan sebanyak 23.000 pekerjaan.

CNBC INDONESIA RESEARCH 

[email protected]

(evw/evw)

Source link

Share

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *