
Jakarta, CNBC Indonesia – Direktur Utama Bio Farma Shadiq Akasya memastikan bahwa Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) dari produknya sudah mencapai 71%. Hal ini membuktikan, ketergantungan pihaknya pada impor sudah menurun dalam beberapa tahun terakhir.
“Memang ada beberapa bahan baku yang belum bisa kami produksi sendiri. Namun melalui grup sudah ada 19 molekul yang diprovide untuk kebutuhan dalam negeri,” rinci Shadiq kepada CNBC Indonesia, Senin (7/9/2026).
Lebih lanjut ia mengatakan, demi mendorong ketahanan vaksin ke depan, Bio Farma akan terus mengembangkan molekul-molekul sehingga kemandirian obat setidaknya bisa dipenuhi untuk di dalam negeri.
“Ada produk tang sudah bisa kita hasilkan sendiri, namun ada juga yang kami Masih memerlukan supply karena kebutuhannya atau aturannya,” jelas Shadiq.
Untuk diketahui, Bio Farma terus melakukan riset dan bekerja sama dengan universitas baik di dalam dan luar negeri untuk beragam vaksin. Namun di sisi lain, Shadiq juga tetap akan memproduksi vaksin-vaksin kebutuhan dasar untuk dalam negeri yang tidak bisa ditinggalkan, seperti Polio, Tetanus, Difteri, dan Masih banyak lagi.
“Kami terus mengembangkan, supaya bisa ekspor dan tetap menjalankan kewajiban di dalam negeri,” tegas Shadiq.
Selain pengembangan produk baru, Bio Farma juga berpeluang mengoptimalkan bisnis clinical trial atau uji klinis. Jadi, uji klinis adalah proses eksperimen sebelum produk kesehatan diregistrasi dan dijual secara komersial.
Tahap uji klinis berlangsung sesudah uji praklinis dengan status WHO Listed Authority (WLA) yang diraih BPOM RI dari World Health Organization (WHO).
Bio Farma sendiri sudah memiliki fasilitas pengujian klinis yang kompeten dan siap digunakan oleh perusahaan-perusahaan global dengan pengawasan dari BPOM, mulai dari praklinis, uji klinis, hingga registrasi.
(dpu/dpu)
Leave a comment