
Jakarta, CNBC Indonesia – Founder & CEO Supply Chain Indonesia (SCI) Setijadi membeberkan dampak dari penutupan bandara, khususnya Bandara Soekarno-Hatta di Tangerang, akibat erupsi Gunung Anak Krakatau, terhadap arus ekspor dan impor RI.
Dia menyebut, penghentian aktivitas di Bandara Soetta ini dapat berdampak pada kegiatan produksi dan perdagangan. Pasalnya, Bandara Soekarno-Hatta merupakan pintu utama pengiriman barang bernilai tinggi dan sensitif terhadap waktu.
Pada 2025, nilai ekspor nonmigas melalui Soekarno-Hatta mencapai US$ 9,90 miliar dan impor US$ 20,77 miliar. Nilai indikatif arus perdagangan bruto tersebut mencapai US$ 30,67 miliar setahun atau rata-rata US$ 84,03 juta per hari.
Volume impor mencapai 174,9 ribu ton setahun atau rata-rata 479 ton per hari. Angka tersebut mengacu pada data BPS dan Satu Data Perdagangan Kementerian Perdagangan, dengan data ekspor 2025 berstatus revisi.
Setijadi menjelaskan, gangguan penerbangan selama delapan jam berpotensi menunda arus ekspor-impor sekitar US$ 28 juta, terdiri atas ekspor US$ 9,04 juta dan impor US$ 18,97 juta, termasuk hampir 160 ton barang impor.
Jika gangguan berlangsung selama 48 jam, nilai indikatif barang yang berpotensi tertunda meningkat menjadi sekitar US$ 168 juta atau sekitar Rp 2,96 triliun (asumsi kurs Rp 17.630 per US$), terdiri atas ekspor US$ 54,23 juta dan impor US$ 113,83 juta, termasuk sekitar 960 ton barang impor.
Menurutnya, perhitungan tersebut hanya mencakup perdagangan internasional melalui Soekarno-Hatta, belum termasuk pengiriman domestik, dan bukan estimasi kerugian langsung. Ekspor menggunakan nilai FOB, sedangkan impor menggunakan nilai CIF; kerugian aktual bergantung pada pembatalan penerbangan, pengalihan kargo, karakteristik komoditas, dan waktu pemulihan operasi.
Rekomendasi Solusi
SCI merekomendasikan solusi dalam jangka pendek, yaitu pengelola bandara, maskapai, freight forwarder, Bea dan Cukai, karantina, serta pemilik barang perlu mengaktifkan koordinasi tanggap darurat. Prioritasnya meliputi pemantauan sebaran abu secara real-time, penjadwalan ulang penerbangan, penyediaan kapasitas tambahan, percepatan penanganan dokumen, dan pengalihan kargo melalui bandara alternatif.
Barang mudah rusak, farmasi, komponen produksi kritis, elektronik bernilai tinggi, dan kiriman ekspres perlu mendapatkan prioritas. Pengiriman domestik dapat dialihkan ke moda darat, kereta api, laut, atau jaringan multimoda.
Dalam jangka panjang, perusahaan perlu membangun rencana kontinuitas bisnis berdasarkan beberapa skenario durasi gangguan, menetapkan bandara dan moda alternatif, serta memiliki kontrak kapasitas cadangan dengan penyedia jasa logistik. Importir perlu menyesuaikan persediaan pengaman untuk bahan baku kritis, sedangkan eksportir perlu menyiapkan gudang dan fasilitas rantai dingin alternatif.
Pemerintah perlu menyusun protokol logistik kebencanaan lintas-instansi agar gangguan penerbangan akibat erupsi tidak berkembang menjadi gangguan rantai pasok dan produksi yang lebih luas.
(wia)
Leave a comment