
Jakarta, CNBC Indonesia – Harga bahan bakar solar mencetak rekor tertinggi pada hari Jumat lantaran perang yang berkecamuk di Ukraina dan Iran telah melumpuhkan sejumlah fasilitas kilang, memicu krisis pasokan global yang semakin mencekik.
Mengutip CNBC International, Senin (7/9/2026), para pengemudi truk di AS secara nasional kini harus membayar rata-rata US$5,85 (Rp103.545) per galon, melonjak hampir 60% dibandingkan periode yang sama tahun lalu ketika harga solar masih berada di level US$3,71 (Rp65.667) per galon.
Di California, harga solar bahkan meledak hingga US$7,70 (Rp136.290) per galon, hampir US$ 2 lebih mahal dari rata-rata nasional.
Mitra di Again Capital, John Kilduff, memperingatkan bahwa meroketnya harga solar ini akan berdampak langsung pada lonjakan inflasi.
“Anda bisa melakukan semua belanja virtual yang Anda inginkan, semuanya akan datang ke rumah Anda di atas truk yang berjalan dengan bahan bakar solar sehingga tidak ada jalan keluarnya,” tuturnya.
Senada dengan hal itu, Pendiri Rapidan Energy, Bob McNally, menekankan bahwa solar adalah bahan bakar yang paling tertanam kuat dalam perekonomian, jauh melebihi harga bensin. Ia merinci bahwa solar digunakan luas dalam transportasi, bahan bakar pemanas, pertanian, hingga penggunaan industri.
“Ini adalah bahan bakar makro yang penting untuk diawasi,” paparnya.
Lonjakan harga ini terjadi ketika Ukraina terus membombardir kilang-kilang Rusia yang memaksa Moskow untuk melarang ekspor solar.
Di sisi lain, fasilitas penyulingan di Timur Tengah juga terpaksa berhenti beroperasi akibat serangan bertubi-tubi Iran terhadap kapal tanker di Selat Hormuz dan infrastruktur energi regional. Chief Operating Officer Valero, Gary Simmons, membeberkan bahwa rentetan perang tersebut telah menutup kapasitas kilang sekitar 5 juta barel per hari.
“Fundamental penyulingan sangat ketat dan semakin ketat dengan adanya masalah di Rusia dan Timur Tengah,” ungkap Wakil Presiden Eksekutif Pemasaran di Phillips 66, Brian Mandell.
Presiden Lipow Oil Associates, Andy Lipow, menyoroti bahwa sekitar 8% dari total permintaan solar global yang mencapai 28 juta barel per hari saat ini tengah terganggu. Ia merinci bahwa larangan ekspor Rusia menahan pasokan sekitar 800.000 barel per hari, sementara gangguan di Selat Hormuz menahan pasokan sekitar 1,2 juta barel per hari.
Tak hanya itu, sekutu Houthi Iran juga telah melumpuhkan kilang Jizan milik Arab Saudi yang memproduksi sekitar 200.000 barel per hari. Lipow pun menyebut fenomena ini sebagai bentuk pajak siluman bagi masyarakat.
“Biaya bahan bakar yang lebih tinggi dibebankan kepada konsumen dalam bentuk harga yang lebih tinggi untuk barang dan jasa yang dikirim dengan truk dan kereta api,” tegasnya.
(luc/luc)
Leave a comment