Jakarta, CNBC Indonesia – Bencana letusan gunung berapi mengepung Indonesia hampir tiap tahun. Sejumlah gunung berapi bahkan meletus atau menunjukkan kenaikan aktivitasnya secara berbarengan pada September 2026.
Lima gunung berapi Indonesia kini berada di Level III/Siaga yakni Gunung Anak Krakatau di Lampung, Gunung Merapi di perbatasan Jawa Tengah dan Yogyakarta, Gunung Sinabung di Sumatera Utara,Gunung Semeru di Jawa Timur, dan Lewotobi Laki-Laki di Nusa Tenggara (NTT).
Gunung Anak Krakatau yang mengalami erupsi sejak Jumat (4/9/2026) bahkan membawa dampak besar, terutama terganggunya jalur penerbangan.
Aktivitas vulkanik tersebut menjadi pengingat bahwa ancaman letusan gunung api masih membayangi berbagai wilayah Indonesia.
Dalam rentang 2011-2026, tercatat ratusan kejadian erupsi gunung api dengan dampak yang beragam. Mulai dari korban jiwa, warga hilang dan terluka, hingga puluhan ribu orang yang terpaksa meninggalkan rumah untuk mengungsi.
Bila melihat data Badan Nasional Penanggulang Bencana (BNPB), jumlah erupsi tidak selalu berbanding lurus dengan besarnya dampak yang ditimbulkan.
Data menunjukkan ada periode ketika frekuensi erupsi melonjak, tetapi korban dan jumlah pengungsi relatif terbatas. Sebaliknya, hanya satu kejadian erupsi dalam setahun bisa menimbulkan korban dan pengungsian dalam jumlah besar.
2018 Erupsi Terbanyak, 2017 Pengungsi Terbesar
Tahun 2018 tercatat sebagai periode dengan jumlah kejadian erupsi terbanyak, yakni mencapai 63 kejadian. Angka ini jauh melampaui 2017 yang mencatat 14 kejadian dan 2015 sebanyak 13 kejadian.
Sebagai catatan, sejumlah gunung yang meletus pada 2018 di antaranya Gunung Anak Krakatau, Gunung Merapi, Gunung Agung, Gunung Sinabung, Gunung Soputan, Gunung Gamalama, Gunung Ibu, Gunung Dukono, Gunung Semeru, dan Gunung Kerinci.
Namun, tingginya frekuensi erupsi tidak otomatis membuat jumlah korban maupun pengungsi menjadi yang terbesar. Tahun 2017 menjadi periode dengan jumlah pengungsi terbanyak, mencapai 72.114 jiwa. Besarnya angka tersebut terutama berasal dari aktivitas erupsi Gunung Agung di Karangasem, Bali.
Mount Agung volcano erupts, as seen from Kubu, Karangasem Regency in Bali, Indonesia on June 29, 2018. REUTERS/Johannes P. Christo Foto: REUTERS/Johannes P. Christo
|
Posisi berikutnya ditempati 2014 dengan 64.169 jiwa mengungsi. Pada tahun yang sama, kerusakan rumah juga mencatat angka tertinggi dalam periode tersebut, yakni mencapai 17.833 rumah rusak.
Sementara itu, untuk korban jiwa, pola yang terjadi kembali berbeda.
Tahun 2021 mencatat 64 orang meninggal dunia, 9 orang hilang, dan 863 orang terluka, meski hanya terdapat satu kejadian erupsi yang tercatat dalam data tahunan.
Gambaran tersebut menunjukkan bahwa frekuensi erupsi bukan satu-satunya indikator untuk mengukur besarnya bencana.
Damaged houses are covered with volcanic ash at Sumberwuluh village, following the eruption of Mount Semeru volcano in Lumajang regency, East Java province, Indonesia, December 5, 2021. REUTERS/Willy Kurniawan Foto: Rumah-rumah rusak dan tertimbun abu vulkanik pasca erupsi Gunung Semeru terlihat di Desa Sumberwuluh, Lumajang, Provinsi Jawa Timur, Indonesia, 5 Desember 2021. (REUTERS/Willy Kurniawan)
|
Tahun 2018 menjadi contoh paling jelas. Meski jumlah erupsi mencapai 63 kejadian, dampak terhadap korban jiwa dan pengungsian tercatat tidak sebesar beberapa tahun dengan jumlah erupsi yang jauh lebih sedikit.
Dampak Erupsi Tak Sekadar Korban Jiwa
Ancaman erupsi juga tercermin dari kerusakan material dan besarnya perpindahan penduduk.
Tahun 2014 menjadi periode dengan jumlah rumah rusak tertinggi, mencapai 17.833 unit. Angka tersebut jauh di atas 2024 yang mencatat 2.983 rumah rusak dan 2021 sebanyak 1.027 rumah rusak.
Di sisi lain, jumlah pengungsi menjadi salah satu indikator penting untuk melihat seberapa besar erupsi memaksa masyarakat meninggalkan wilayah tempat tinggalnya.
Pada 2017 dan 2014, misalnya, jumlah warga yang mengungsi masing-masing menembus lebih dari 64 ribu jiwa.
Data tersebut memperlihatkan bahwa besar-kecilnya dampak erupsi tidak bisa hanya dilihat dari seberapa sering gunung api meletus.
Lokasi gunung, karakteristik erupsi, kondisi wilayah terdampak, hingga kepadatan penduduk di kawasan rawan menjadi faktor yang menentukan besarnya dampak terhadap masyarakat.
Karena itu, pemantauan aktivitas vulkanik, sistem peringatan dini, serta kecepatan evakuasi menjadi kunci untuk menekan jumlah korban ketika gunung api kembali menunjukkan aktivitasnya.
(mae/mae)


Leave a comment