
Jakarta, CNBC Indonesia – Garda Revolusi Iran (IRGC) menembakkan rudal balistik ke pangkalan yang digunakan oleh militer Amerika Serikat (AS) di Yordania dan menyerang 10 kapal pada Rabu. Aksi eskalasi ekstrem dalam perang yang telah berlangsung selama enam bulan ini merupakan balasan langsung setelah Washington menghancurkan lima kapal tanker minyak Iran.
Mengutip Reuters, Rabu (9/9/2026), peningkatan serangan oleh AS dan Iran telah menghancurkan masa tenang selama sebulan terakhir. Konflik ini kembali menghantam aset militer, pelayaran, serta energi, yang membuat harga minyak dunia melonjak tajam dan menyeret masuk para sekutu regional dalam beberapa hari terakhir.
Pihak AS mengeklaim telah menghancurkan lima kapal tanker minyak Iran pada hari Selasa. Komando Pusat militer AS merilis video serangan tersebut yang disebut sebagai respons keras atas tindakan IRGC yang menargetkan kapal perang Angkatan Laut AS sebanyak dua kali menggunakan rudal balistik selama dua hari sebelumnya. AS memastikan tidak ada warganya yang terluka dalam insiden di perairan tersebut.
Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio memberikan ancaman keras kepada Teheran terkait agresi tersebut saat berkunjung ke Kolombia.
“Iran terus mencoba menyerang kapal angkatan laut AS, dan setiap kali mereka melakukan atau mencoba melakukannya, mereka akan kehilangan kapal tanker,” tegasnya.
Usai serangan balasan AS, Iran langsung melancarkan gempuran rudal balistik ke pangkalan yang digunakan oleh pasukan AS di dekat Al Azraq, Yordania. Meskipun Iran mengeklaim rudalnya menimbulkan kerusakan berat, Yordania memastikan bahwa pertahanan udaranya berhasil mencegat 18 dari 20 rudal tersebut.
Dua rudal sisanya jatuh di area tak berpenghuni sehingga tidak ada korban jiwa, sementara pejabat AS mengonfirmasi bahwa serangan Iran sama sekali tidak efektif dan seluruh pasukan Amerika di Yordania dalam kondisi aman.
IRGC pada hari Rabu juga menyatakan telah menyerang 10 kapal, termasuk dua kapal AS dan delapan kapal tanker minyak, yang mencoba melintasi area yang mereka sebut “terlarang dan tidak aman” di Selat Hormuz.
Selat yang menjadi saluran energi vital global ini kini sebagian besar telah tersumbat oleh eskalasi serangan mematikan Iran. Sepanjang perang, Iran telah menargetkan aset dan sekutu AS di kawasan tersebut, termasuk membunuh dua personel militer AS dalam serangan di Yordania pada bulan Juli lalu.
Negara tersebut juga mengancam kapal-kapal tanker minyak di pelabuhan Kuwait dan Bahrain, sementara sebuah kapal tanker gas alam cair (LNG) dilaporkan rusak di pelabuhan Khor Fakkan, Uni Emirat Arab, meski dalang serangannya belum dipastikan.
Kepanikan pasar atas gangguan lalu lintas kapal tanker di Selat Hormuz ini langsung mengerek harga minyak pada awal perdagangan hari Rabu. Minyak mentah Brent terpantau mendekati US$ 100 (Rp 1.770.000) per barel. Tekanan pasokan ini kian parah menyusul serangan proksi Iran, Houthi Yaman, terhadap produsen energi utama Arab Saudi.
Sehari sebelumnya, Houthi melancarkan serangan udara besar-besaran ke berbagai kota di Arab Saudi yang melukai 73 orang, termasuk wanita dan anak-anak, serta membakar instalasi minyak.
Kelompok yang menguasai sebagian besar wilayah Yaman ini menggunakan drone dan rudal untuk menggempur pangkalan udara di Khamis Mushait serta aset perusahaan minyak negara di Abha, Najran, dan Jazan. Houthi selama ini juga terus menekan sekutu AS dengan mengganggu pelayaran di pintu masuk Laut Merah.
Perang Teluk yang bermula pada 28 Februari lewat serangan gabungan AS-Israel terhadap Iran ini kini telah berubah menjadi adu kuat blokade ekonomi. Washington berusaha meningkatkan aliran minyak global dengan memandu kapal melalui Selat Hormuz sambil memutus ekspor Iran.
Komando Pusat AS memastikan kapal tanker Iran yang mereka hancurkan merupakan bagian dari jaringan bayangan yang mendanai IRGC dan proksinya dalam “Poros Perlawanan”, yang mencakup Hamas, Hizbullah, milisi Syiah Irak, serta Houthi.
(tps/luc)
Leave a comment