
Jakarta, CNBC Indonesia – Masalah kesehatan mental bukan satu-satunya faktor yang berkaitan dengan tindakan bunuh diri. Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mengungkapkan persoalan keluarga hingga perundungan menjadi sejumlah masalah yang banyak ditemukan pada kasus di Indonesia.
Direktur Pelayanan Kesehatan Kelompok Rentan Kementerian Kesehatan dr. Imran Pambudi mengatakan, dukungan keluarga atau support system menjadi salah satu persoalan utama yang ditemukan, disusul perundungan dan masalah ekonomi.
“Pertama adalah dukungan keluarga, yang kedua itu adalah bullying teman-teman itu, baru yang ketiga masalah ekonomi,” kata Imran dalam Temu Media Hari Pencegahan Bunuh Diri Sedunia di Kementerian Kesehatan, Jakarta, Rabu (9/9/2026).
Temuan tersebut, menurut Imran, menunjukkan persoalan ekonomi bukan selalu menjadi faktor utama seperti yang kerap diasumsikan masyarakat. Kemenkes juga menemukan perbedaan pola berdasarkan kelompok usia dan jenis kelamin.
Imran mengatakan, berdasarkan data yang tengah direkap Kemenkes dari kepolisian, jumlah kasus paling banyak ditemukan pada kelompok usia muda. Namun, bila melihat prevalensi secara global, kelompok lanjut usia justru memiliki tingkat yang tinggi.
Salah satu persoalan yang perlu diperhatikan pada kelompok tersebut adalah kesepian atau loneliness, terutama ketika seseorang merasa sendirian dan terasing.
“Loneliness itu juga kills. Dan loneliness ini sekarang jadi, ya kalau saya bilang, wabah. Karena banyak sekali orang-orang yang merasa sendirian, terasing,” ujarnya.
Perbedaan juga terlihat antara laki-laki dan perempuan. Imran mendata, sekitar 70% orang yang menghubungi layanan bantuan merupakan perempuan. Namun, kasus kematian akibat bunuh diri lebih banyak terjadi pada laki-laki.
Berdasarkan referensi yang dikutip Imran, laki-laki memiliki kemungkinan meninggal akibat bunuh diri sekitar tiga kali lebih tinggi dibandingkan perempuan.
Sementara itu, Peneliti Sandersan Onie mengatakan, pencegahan bunuh diri tidak dapat hanya dipandang sebagai persoalan psikologis maupun psikiatri.
Ia bilang, sebagian besar kejadian bunuh diri tidak semata-mata disebabkan gangguan kesehatan jiwa. Kondisi hidup dan lingkungan sosial juga memiliki peran penting.
“Banyak sekali orang yang bunuh diri itu bukan karena depresi, bukan karena ansietas, bukan karena skizofrenia, meskipun mereka kelompok yang rentan, tetapi karena masalah sosial, masalah keluarga, masalah keuangan,” ujarnya.
Ia menyebut sejumlah faktor sosial yang berkaitan dengan risiko bunuh diri, mulai dari kemiskinan dan utang, pengangguran dan kehilangan pekerjaan, masalah perumahan, kekerasan, diskriminasi dan stigma, isolasi sosial, konflik, bencana, hingga alkohol dan judi.
Bahkan, menurut Sandersan, satu-satunya intervensi di Indonesia yang sejauh ini disebut dalam penelitiannya terbukti menurunkan angka bunuh diri adalah Program Keluarga Harapan (PKH).
Ia mengatakan, angka bunuh diri turun sekitar 30% pada wilayah dan populasi yang menerima intervensi tersebut. Hal itu, kata ia, menunjukkan pentingnya dukungan sosial dalam upaya pencegahan bunuh diri.
“Kalau kita mau menurunkan angka bunuh diri, memang perlu sekali hotline, perlu sekali dukungan psikologis dan psikiatri. Tetapi yang paling penting adalah dukungan sosial. Karena bunuh diri adalah masalah sosial, bukan hanya masalah psikologis atau psikiatri,” ujarnya.
(wia)
Leave a comment