
Jakarta, CNBC Indonesia – Gelombang baru raksasa teknologi pertahanan (defense tech) kembali menggebrak Amerika Serikat (AS). Startup Covenant resmi menancapkan taringnya dengan meresmikan fasilitas pabrik seluas 105.000 kaki persegi di Dallas, Texas. Langkah ekspansif ini dikebut demi mendongkrak produksi massal rudal jelajah berbiaya murah bagi kebutuhan militer AS.
Bersamaan dengan peluncuran pabrik tersebut, Covenant yang baru saja keluar dari bayang-bayang stealth mode, mengumumkan pencapaian fantastis berupa kucuran dana segar senilai US$250 juta (Rp4.3 triliun) dari tiga putaran pendanaan.
Perusahaan ini dibekingi oleh jajaran pemodal ventura paling berpengaruh di dunia, mulai dari Andreessen Horowitz, Founders Fund milik Peter Thiel, Lux, 8VC, Aleph, Lightspeed, hingga Altimeter Capital.
“Apa yang kita lihat sekarang adalah kesadaran bahwa pemain baru di pasar dapat memainkan peran krusial dalam ekosistem pertahanan, dan itu tengah kita saksikan di bawah pemerintahan saat ini,” ujar Abby Denburg, Presiden sekaligus Chief Growth Officer Covenant, kepada Morgan Brennan dari CNBC International, dikutip Kamis (10/9/2026).
Didirikan pada 2024, Covenant menarik perhatian lewat produk unggulannya, yakni rudal jelajah jarak jauh ber-payload berat bertajuk Anthem. Senjata canggih ini hadir sebagai alternatif strategis di kelas persenjataan yang selama ini dikuasai oleh para kontraktor pertahanan raksasa (defense primes), seperti rudal Tomahawk besutan RTX.
Hebatnya, Covenant mengklaim banderol harga Anthem jauh lebih murah ketimbang sistem persenjataan warisan (legacy systems) yang ada saat ini.
Produksi 5.000 Rudal Jarak Jauh Per Tahun
Pabrik baru di Dallas diproyeksikan mampu menelurkan 1.000 unit rudal jarak jauh Anthem pada tahun pertamanya. Produksi massal dijadwalkan mulai mengalir pada kuartal pertama 2027, dengan target kapasitas yang akan digenjot hingga 5.000 unit per tahun.
Kapasitas produksi masif ini menjadi kebutuhan yang mendesak. Di tengah kecamuk perang di Iran yang telah memasuki bulan ketujuh, cadangan persenjataan militer AS dilaporkan semakin menipis dengan cepat.
Denburg menilai, meski drone berjangkauan pendek dengan muatan ringan mendominasi medan perang modern seperti konflik Rusia-Ukraina, masih ada ceruk pasar yang kosong untuk kebutuhan senjata strategis berbiaya terjangkau dalam jumlah masif. Celah inilah yang dibidik oleh Anthem tanpa harus berkompromi soal kapasitas daya muat (payload).
Ekspansi Covenant kian kukuh setelah Departemen Pertahanan AS (DoD) resmi meneken dua kontrak kerja sama pada Rabu lalu. Kontrak pertama ditujukan untuk mengakselerasi program pengujian bersama Angkatan Darat, sementara kontrak kedua menggandeng Angkatan Laut guna mengadaptasi Anthem untuk kebutuhan operasi maritim. Saat ini, Covenant telah mempekerjakan lebih dari 200 staf global dengan fasilitas produksi yang tersebar di Jerman dan Israel Utara.
Kedekatan Silicon Valley dan Gedung Putih
Pesatnya pertumbuhan startup berbasis di Washington ini turut mencerminkan kuatnya cengkeraman sektor defense tech dalam merombak kebijakan dan rantai pasok pengadaan pertahanan AS (procurement).
Pengaruh Peter Thiel, pendiri PayPal dan Palantir, di Washington kian melambung seiring kembalinya Donald Trump ke Gedung Putih. Thiel merupakan pendukung setia kampanye Trump pada 2016 sekaligus motor penggerak karier politik JD Vance.
Di sisi lain, Marc Andreessen, figur modal ventura elite yang namanya melejit di era kepemimpinan kedua Trump, baru saja ditunjuk menjadi anggota Dewan Kebijakan Pertahanan Pentagon pada musim panas ini, bersanding dengan Blake Masters dari Thiel Capital.
Tahun ini pula, Andreessen membuktikan keseriusannya di sektor pertahanan dengan menggelontorkan dana jumbo senilai miliaran dolar yang didedikasikan penuh untuk ekosistem dirgantara dan militer AS.
(fab/fab)
Leave a comment