
Jakarta, CNBC Indonesia – Keuntungan perusahaan China makin menggurita. Pendapatan korporasi asal Negeri Tirai Bambu bahkan menjadi yang terbesar di antara perusahaan non-Amerika Serikat (AS).
Dominasi China terlihat dalam daftar Fortune Global 500 2026. Tiongkok mengirim 15 raksasa bisnisnya dalam daftar 30 perusahaan dengan keuntungan terbesar, di luar korporasi AS. Yang menarik, hampir seluruh perusahaan tersebut berstatus Badan Usaha Milik Negara (BUMN).
Grafik di bawah menampilkan 30 perusahaan terbesar di dunia di luar AS berdasarkan pendapatan tahunan, menggunakan data terbaru Fortune Global 500. Data pendapatan berasal dari tahun fiskal yang berakhir hingga 31 Maret 2026.
State Grid Corporation of China (SGCC) menempati urutan pertama dalam daftar dengan pendapatan US$ 555,37 miliar atau sekitar Rp 9.718,98 triliun (US$1= Rp 17.500).
Dalam skala dunia, State Grid menepati peringkat 3 dan hanya di bawah Amazon dan Walmart.
State Grid bukan sembarang perusahaan BUMN listrik asal China. Raksasa energi ini menjadi utilitas terbesar di dunia dengan memasok listrik ke lebih dari 1,1 miliar penduduk atau sekitar 88% wilayah China.
Bisnisnya mencakup investasi, pembangunan, hingga pengoperasian jaringan listrik. Ekspansinya juga sudah mendunia, dengan operasi di 51 negara dan 13 proyek jaringan energi utama di 10 negara dan wilayah.
Di bawah State Grid ada raksasa minyak Arab Saudi, Saudi Aramco (peringkat 5 dunia), dengan pendapatan US$445,53 miliar.
China kemudian kembali mendominasi jajaran atas dengan menempatkan China National Petroleum /CNPC (peringkat 10 dunia) yang mendulang pendapatan US$401,93 miliar, disusul Sinopec Group dengan US$364,03 miliar (peringkat 12).
Tak berhenti di sektor energi, China State Construction Engineering juga masuk papan atas (peringkat 17). Perusahaan konstruksi tersebut membukukan pendapatan US$289,89 miliar.
Deretan nama tersebut memperlihatkan satu hal yakni skala bisnis raksasa China tidak hanya lahir dari perusahaan teknologi, tetapi juga ditopang perusahaan energi, utilitas, hingga konstruksi.
Bahkan, sektor energi menjadi salah satu kekuatan terbesar. State Grid, CNPC, dan Sinopec menunjukkan bagaimana perusahaan berskala jumbo mampu menopang posisi China dalam peta korporasi global.
Sementara itu, China State Construction memperlihatkan bahwa dominasi China tidak berhenti di energi. Sektor konstruksi pun memiliki pemain dengan pendapatan yang mampu bersaing dengan perusahaan-perusahaan terbesar dunia.
Bagaimana Posisi Indonesia?
Indonesia juga memiliki wakil di jajaran perusahaan raksasa dunia. PT Pertamina (Persero) menempati peringkat ke-194 Fortune Global 500 2026 dengan pendapatan US$ 70,89 miliar.
Berdasarkan Laporan Tahunan Tahun Buku 2025, pendapatan sebesar US$ 70,89 miliar setara Rp 1.167,99 triliun. Laba bersih sebesar US$ 3,35 miliar atau setara Rp 55,20 triliun.
Selain Pertamina, perusahaan Indonesia lainnya yang masuk dalam daftar Fortune 500 adalah PT Perusahaan Listrik Negara (PLN). Perusahaan listrik negara tersebut ada di peringkat 469 dengan pendapatan US$ 35,4 miliar pada 2025.
Pendapatan PLN setara mencapai Rp582,68 triliun dengan laba bersih sekitar Rp 7,26 triliun.
Masuknya Pertamina dan PLN ke Fortune Global 500 menjadi sinyal bahwa skala bisnis BUMN Indonesia terus membesar. Namun, jika dibandingkan dengan raksasa China seperti State Grid, CNPC, dan Sinopec, jarak skalanya masih sangat lebar.
(mae/mae)
Leave a comment