
Jakarta, CNBC Indonesia- Indonesia tengah dihadapkan pada kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di sejumlah provinsi di pulau Kalimantan dan Sumatra. BNPB mencatat ada sekitar 72 ribu hektare lahan gambut terbakar yang tersebar di 6 provinsi.
Dampak karhutla di 2026 juga diwaspadai oleh perusahaan kelapa sawit agar tidak mengenai kebun kelapa sawit yang berada disekitar wilayah terdampak karhutlah. Ketua Umum Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI), Eddy Martono menyebutkan karhutlah yang terjadi Sebagian besar di luar konsesi sawit namun saat ini titik api di Kalimantan Tengah masih cukup tinggi sehingga GAPKI masih mewaspadai dampaknya.
GAPKI juga ikut berpartisipasi dalam upaya pencegahan dan pemadaman karhutla sebagai bagian dari tanggung jawab sosial. Meski tidak mengalami kebakaran, tapi kebun sawit kesulitan mengangkut Crude Palm Oil (CPO) karena sungai mengalami kekeringan.
GAPKI juga membantah keterlibatan perusahaan sawit sebagai penyebab kebakaran hutan dan lahan yang terjadi, dimana saat ini Hak Guna Usaha (HGU) maupun izin perkebunan sawit belum disetujui sehingga bagaimana bisa perusahaan sawit membakar hutan untuk ditanam kelapa sawit
Seperti apa dampak karhutlah ke industri sawit? Selengkapnya simak dialog Aulia Wardhani dengan dengan Ketua Umum Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI), Eddy Martono dalam Squawk Box, CNBC Indonesia (Rabu, 09/09/2026)
Leave a comment