
Jakarta, CNBC Indonesia – Presiden Iran Masoud Pezeshkian dan Presiden Rusia Vladimir Putin melayangkan kecaman keras terhadap sanksi ekonomi Barat sekaligus menyerukan negara-negara di belahan bumi selatan (Global South) untuk mempererat integrasi perdagangan. Seruan tersebut disuarakan secara lantang dalam pidato utama mereka di Forum Bisnis Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) BRICS.
“BRICS harus menciptakan lingkungan di mana tidak ada negara yang dapat mengganggu perdagangan sah negara lain melalui monopoli instrumen keuangan atau teknologi,” ungkap Pezeshkian, dikutip dari CNBC International, Minggu (13/9/2026).
Pezeshkian mendesak blok ekonomi tersebut untuk memperluas penggunaan mata uang nasional (local currency settlement) dalam transaksi perdagangan antarnegara anggota guna memangkas dominasi mata uang asing. Terlebih, situasi geopolitik di kawasan kini telah memasuki fase krusial menyusul eskalasi tekanan terhadap Teheran yang telah bergeser dari sanksi ekonomi menuju agresi militer terbuka oleh Amerika Serikat dan Israel.
“Dampak perang melawan Teheran dirasakan di luar perbatasannya, memengaruhi stabilitas regional dan global. Konflik-konflik tersebut juga telah mengganggu pasar energi global dan mendorong harga bahan bakar naik tajam,” tegas Pezeshkian.
Dampak domino konflik tersebut langsung menghantam pasar energi dunia. Harga solar di Amerika Serikat dilaporkan menembus level US$ 6 per galon untuk pertama kalinya pada hari Jumat. Gangguan rantai pasok bahan bakar akibat perang di Ukraina dan Iran secara langsung mendongkrak biaya logistik dan transportasi domestik AS.
Sejak meletusnya konfrontasi militer yang melibatkan Iran, pasar energi global mengalami turbulensi parah. Blokade de facto dan instabilitas di Selat Hormuz-yang menjadi nadi vital pengangkutan minyak mentah dan gas alam cair (LNG) dari Timur Tengah-memicu kepanikan pasokan.
Sebagai implikasinya, kontrak berjangka minyak mentah AS sukses menjebol level psikologis US$ 100 per barel pada Kamis lalu untuk kali pertama sejak Mei, merespons pertempuran sengit antara AS dan Iran yang memanas bulan ini.
“Ketahanan pangan dan energi adalah dua pilar fundamental dari keamanan ekonomi,” tandas pemimpin Iran tersebut, sembari menawarkan posisi strategis negaranya sebagai pemasok cadangan energi melimpah bagi mitra global.
Sumpah Serapah Putin atas Rekor Sanksi Barat
Senada dengan Teheran, Moskow yang juga didera sanksi masif akibat invasi ke Ukraina turut melancarkan serangan retorika terhadap hegemoni ekonomi Barat. Di tengah gempuran serangan udara militer Rusia ke kota-kota utama Ukraina-yang sempat terjeda sejenak demi menyambut lawatan negosiator perdamaian AS akhir pekan lalu-Putin tetap bergeming menolak tekanan Washington.
Meskipun Presiden AS Donald Trump sebelumnya sempat melempar sinyal bahwa penyelesaian konflik Ukraina dapat membuka jalan bagi normalisasi hubungan dagang, Putin memilih mengecam taktik intimidasi ekonomi Barat.
“Lebih dari 30.000 sanksi telah dijatuhkan kepada Rusia, yang jumlahnya dua kali lipat dari jumlah sanksi terhadap semua negara lain di dunia jika digabungkan,” cecar Putin.
Ia menuding negara-negara Barat yang tengah mengalami pelemahan industri dan pembengkakan defisit anggaran sedang berupaya menyelamatkan keunggulan kompetitif mereka yang kian susut dengan cara menjatuhkan sanksi sepihak kepada Moskow dan Teheran.
Dalam pemaparannya, Putin turut memamerkan pergeseran poros ekonomi global. Ia mengklaim bahwa dalam kurun waktu lima tahun terakhir, lebih dari 40% pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) dunia justru digerakkan oleh negara-negara anggota BRICS, jauh meninggalkan blok G7 yang hanya berkontribusi sekitar 29%.
“BRICS menyediakan platform yang tangguh dan layak untuk pertumbuhan global,” pungkas Putin, menegaskan ambisi Moskow untuk menggenjot kerja sama strategis di sektor pariwisata, perdagangan bilateral, dan investasi swasta dengan negara-negara Global South.
(fab/fab)
Leave a comment