Home Finance Pasokan Minyak Arab Terganggu, Harga Meroket-Dunia Panik Cari Gantinya
Finance

Pasokan Minyak Arab Terganggu, Harga Meroket-Dunia Panik Cari Gantinya

Share
Pasokan Minyak Arab Terganggu, Harga Meroket-Dunia Panik Cari Gantinya
Share




Jakarta, CNBC Indonesia Arab Saudi terpaksa memangkas pengiriman minyak ke Eropa usai serangan pesawat tak berawak (drone) merusak pipa ekspor utamanya ke Laut Merah. Krisis pasokan mendadak ini memicu kepanikan para pelanggan utama seperti Polandia yang kini berebut mencari pasokan alternatif di tengah lonjakan harga kargo yang menembus level US$120 per barel.

Mengutip Reuters, Rabu (16/09/2026), serangan mematikan yang dituduhkan Arab Saudi kepada milisi Irak tersebut memaksa kerajaan untuk menutup pipa minyak gurun Timur-Barat pada hari Jumat. Fasilitas vital ini padahal selama enam bulan terakhir telah berhasil menyelamatkan Saudi dari dampak terburuk penutupan paksa Selat Hormuz akibat perang.

Sumber dari kalangan pedagang dan pelayaran pada hari Selasa membeberkan bahwa Arab Saudi telah memberi tahu pelanggan Eropa mengenai pembatalan beberapa kargo minyak mentah untuk pemuatan bulan September.

Selain itu, seluruh aktivitas pemuatan minyak di pelabuhan Yanbu di Laut Merah juga telah ditangguhkan secara total. Di sisi lain, perusahaan minyak negara Saudi Aramco menolak untuk memberikan komentar.

Hingga saat ini, belum dapat dipastikan secara rinci berapa banyak kargo ke Eropa yang dibatalkan atau berapa lama penangguhan di Yanbu akan berlangsung.

Pemangkasan aliran Saudi melalui Laut Merah diprediksi kuat akan mendorong kerajaan tersebut untuk mengekspor lebih banyak minyak via Selat Hormuz dengan menggunakan taktik “pengiriman gelap”, serupa dengan manuver yang telah digunakan oleh Uni Emirat Arab dan Irak.

Taktik semacam ini memungkinkan produsen minyak Teluk untuk tetap mengekspor 7 juta hingga 9 juta barel per hari (bpd), yang menyumbang sekitar 30% hingga 40% dari volume sebelum perang.

Berdasarkan data Vortexa, Arab Saudi tercatat telah memuat 22 juta barel minyak di 12 kapal di pelabuhan Ras Tanura/Juaymah pada minggu 7-13 September, berbanding drastis dengan rata-rata 6 hingga 7 kapal per minggu pada tiga minggu sebelumnya.

Gangguan pasokan berskala masif ini kontan mendongkrak harga minyak di pasar global. Data LSEG menunjukkan minyak mentah berjangka Brent diperdagangkan mendekati US$108 per barel, sementara harga kargo di pasar fisik Eropa melonjak lebih gila lagi dengan acuan utama Dated Brent bertengger di kisaran US$122 per barel.

Eropa Kalang Kabut Cari Pengganti

Kepanikan langsung melanda perusahaan minyak terintegrasi asal Polandia, Orlen, yang berebut mencari kargo minyak mentah pengganti dari Laut Utara dan tempat lain. Aramco telah menjadi pemasok utama Orlen sejak 2022 dan kini menyuplai sekitar 40% dari total kebutuhan minyaknya.

Kemitraan ini sebelumnya membantu Polandia lepas dari minyak Rusia, namun ironisnya kini justru membuat mereka sangat bergantung pada produsen Saudi.

Lima sumber industri membeberkan bahwa Orlen buru-buru memborong beberapa kargo minyak mentah melalui tender spot pada hari Jumat dan Senin lalu.

Pembelian ini mencakup minyak dari Laut Utara, seperti kelas Grane, Johan Sverdrup, dan Johan Castberg, serta WTI Midland AS dan CPC Blend Kazakh. Pada hari Selasa, Orlen kembali merilis tender untuk membeli minyak mentah Laut Utara atau Aljazair untuk pengiriman Oktober, dan minyak Guyana untuk bulan November, meski hasilnya dilaporkan lambat muncul.

Sebagai catatan, data analitik Kpler menunjukkan bahwa pelabuhan Baltik di Gdansk, Polandia, telah menerima pasokan sekitar 160.000 bpd minyak mentah Saudi sepanjang tahun ini, sementara pelabuhan Butinge di Lithuania menerima 63.000 bpd. Orlen bersama anak perusahaannya diketahui mengoperasikan kilang minyak raksasa di Polandia, Lithuania, dan Republik Ceko.

Menanggapi krisis kelangkaan ini, pihak Orlen menolak merinci detail transaksi komersial mereka, namun memastikan bahwa manajemen pasokan terus dikelola secara aktif.

“Menyesuaikan dan mengoptimalkan volume pembelian adalah bagian standar dan berkelanjutan dari operasi Grup Orlen, yang didorong oleh kebutuhan produksi saat ini dan kondisi pasar yang berubah,” paparnya.

“Pengiriman bahan baku ke kilang Orlen berjalan tanpa gangguan,” tegasnya.

 

(luc/luc)

[Gambas:Video CNBC]

Source link

Share

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *