Home Finance AS Bakar Duit Rp4,3 Triliun Sehari di Perang Iran, Terbanyak Buat Apa?
Finance

AS Bakar Duit Rp4,3 Triliun Sehari di Perang Iran, Terbanyak Buat Apa?

Share
AS Bakar Duit Rp4,3 Triliun Sehari di Perang Iran, Terbanyak Buat Apa?
Share


Jakarta, CNBC Indonesia – Sejak Amerika Serikat (AS) mulai menyerang Iran pada 28 Februari 2026, biaya perang terus membengkak. Dalam lima bulan, Pentagon diperkirakan telah menghabiskan US$38,1 miliar atau sekitar Rp670,56 triliun.

Jika dirata-ratakan, estimasi biaya perang tersebut menghabiskan US$246 juta atau Rp4,33 triliun setiap hari. Biaya itu masih akan bertambah karena pertempuran belum berakhir.

Angka tersebut terungkap dalam laporan terbaru Congressional Budget Office (CBO) yang dirilis Selasa (15/9/2026). CBO merupakan lembaga nonpartisan yang menyediakan analisis anggaran dan ekonomi untuk Kongres AS.

Perhitungan CBO mencakup biaya tambahan yang ditanggung Pentagon hingga 1 Agustus 2026. Hitungannya dimulai sejak AS melancarkan serangan udara dan rudal jelajah ke Iran dalam operasi bernama Operation Epic Fury.

Pada awal perang, AS mengerahkan pesawat tempur, pesawat pengebom, kapal perang, dan sistem pertahanan udara ke Timur Tengah.

Pertempuran sempat mereda setelah AS dan Iran menyepakati gencatan senjata pada 8 April. Namun, situasi kembali memanas setelah Presiden AS Donald Trump menyatakan gencatan senjata berakhir pada 10 Juli. Keputusan itu diambil menyusul serangkaian serangan Iran terhadap kapal tanker di Selat Hormuz.

Sejak saat itu, pertempuran kembali meningkat dan biaya perang terus bertambah.

Sebagian besar uang Pentagon digunakan untuk mengganti rudal dan amunisi yang telah ditembakkan. Biaya lainnya berasal dari tambahan jam terbang pesawat, kenaikan harga bahan bakar, serta berbagai peralatan militer yang hilang atau hancur.


CBO menyusun perhitungan tersebut menggunakan basis data pemerintah dan laporan yang tersedia untuk publik. Cara ini ditempuh karena Pentagon tidak memberikan informasi yang diminta CBO.

Keterbatasan data membuat perhitungan tersebut masih mengandung ketidakpastian. Namun, biaya perang dipastikan belum berhenti bertambah.

Jika pertempuran berlangsung seperti pada Mei dan Juni, Pentagon diperkirakan menghabiskan tambahan US$2 miliar atau Rp35,2 triliun setiap bulan.

Kondisi saat ini justru semakin panas. Hingga Rabu (16/9/2026), pertempuran terus meningkat sehingga biaya yang harus ditanggung AS bisa jauh lebih besar.

CBO memperkirakan biaya bulanan dapat naik menjadi US$3 miliar atau Rp52,8 triliun jika pertempuran kembali menyamai kondisi pada Juli. Jumlahnya bisa lebih tinggi apabila perang semakin membesar.

Lebih dari Separuh Biaya Perang Habis untuk Amunisi

Rudal menjadi bagian termahal dalam perang ini. Setiap rudal yang ditembakkan harus diganti agar persediaan senjata AS tidak semakin berkurang.

Dari US$38,1 miliar yang telah dikeluarkan Pentagon, sekitar 57% digunakan untuk mengganti amunisi. Nilainya mencapai US$21,7 miliar atau sekitar Rp381,92 triliun.

Sebagian besar biaya tersebut berasal dari rudal pencegat pertahanan udara. Pentagon diperkirakan membutuhkan US$13,1 miliar untuk mengganti rudal-rudal yang telah digunakan.

Rudal pencegat ditembakkan untuk menghadapi serangan rudal balistik dan drone Iran. Serangan tersebut menyasar pangkalan AS di Timur Tengah, Israel, negara-negara Teluk, dan Yordania.

Untuk menghadang serangan itu, AS menggunakan sejumlah sistem pertahanan udara paling canggih yang dimilikinya. Di antaranya Patriot, Terminal High Altitude Area Defense (THAAD), Standard Missile-3 (SM-3), dan Standard Missile-6 (SM-6).

Senjata-senjata tersebut memiliki harga sangat mahal. Satu rudal Patriot atau SM-6 diperkirakan berharga US$4 juta atau sekitar Rp70,4 miliar.

Harga satu rudal THAAD mencapai US$12 juta atau Rp211,2 miliar. Sementara itu, harga SM-3 paling canggih bisa mencapai US$28 juta atau sekitar Rp492,8 miliar per unit.

Satu kali tembakan SM-3 hampir menghabiskan setengah triliun rupiah. Jika puluhan rudal pencegat digunakan dalam satu gelombang serangan, biaya yang dikeluarkan langsung membengkak.

AS juga menghabiskan US$7,3 miliar untuk mengganti rudal jelajah yang digunakan menyerang Iran. Senjata tersebut terutama terdiri dari rudal Tomahawk dan Joint Air-to-Surface Standoff Missile (JASSM).

Besarnya penggunaan rudal terlihat dalam satu serangan pada Juni. Saat itu, pasukan AS dilaporkan menembakkan sekitar 50 rudal Tomahawk.

Pesawat, Drone, hingga Radar THAAD Hancur di Medan Perang

Bukan hanya persediaan rudal yang terkuras. Perang juga membuat sejumlah pesawat, helikopter, drone, dan perangkat pertahanan udara milik AS hancur atau rusak.

Daftar CBO menunjukkan kerugian tersebut terjadi pada berbagai jenis armada. Bukan hanya pesawat tempur yang berhadapan langsung dengan Iran, tetapi juga pesawat pendukung yang menjaga operasi tetap berjalan.

Empat jet tempur F-15E tercatat hilang selama perang. Daftar tersebut juga mencakup satu F-35A, satu A-10, dan satu pesawat pengawasan E-3.

Armada logistik AS ikut terkena dampaknya. Dua pesawat pengisian bahan bakar KC-135 dan dua pesawat MC-130J juga hilang selama pertempuran.

Sejumlah helikopter militer, termasuk AH-64, HH-60W, dan MH-6, turut masuk dalam daftar kerugian.

Namun, jumlah terbanyak berasal dari pesawat nirawak. Sebanyak 24 drone MQ-9 hilang selama perang. Nilai penggantiannya diperkirakan mencapai US$720 juta atau sekitar Rp12,67 triliun.

Satu drone pengintai MQ-4C senilai US$150 juta juga tercatat hilang. Drone tersebut biasa digunakan untuk mengawasi wilayah laut dari jarak jauh.

Kerugian besar lainnya terjadi pada sistem pertahanan udara. Iran menghancurkan satu radar AN/TPY-2 yang menjadi bagian penting dari sistem THAAD.

Radar senilai US$500 juta atau sekitar Rp8,8 triliun itu digunakan untuk mendeteksi dan melacak rudal balistik. Tanpa radar tersebut, satu baterai THAAD akan kesulitan membaca ancaman yang datang.

Kehilangan ini cukup penting karena setiap baterai THAAD hanya memiliki satu radar AN/TPY-2. Sementara itu, Pentagon hanya mempunyai delapan baterai THAAD yang harus ditempatkan di berbagai kawasan.

CBO memperkirakan biaya tambahan untuk mengganti alutsista yang hilang mencapai US$1,88 miliar atau sekitar Rp33,12 triliun.

Namun, angka tersebut belum mencakup nilai seluruh peralatan yang hancur. Beberapa pesawat memang sudah dijadwalkan untuk dipensiunkan dan diganti melalui anggaran rutin Pentagon.

Empat F-15E yang hilang, misalnya, tidak dimasukkan sebagai biaya tambahan karena pesawat tersebut sudah direncanakan untuk diganti dengan F-15EX. Kehilangannya hanya membuat jadwal pensiun pesawat tersebut menjadi lebih cepat.

Hal yang sama berlaku untuk A-10, E-3, dan KC-135. Seluruh pesawat tersebut sudah memiliki rencana penggantian.

Jika seluruh alutsista yang hilang dihitung berdasarkan biaya penggantinya, total kerugian dapat mencapai US$3,31 miliar atau sekitar Rp58,29 triliun.


Tagihan Perang Belum Dihitung Seluruhnya

Angka US$38,1 miliar belum menunjukkan seluruh biaya perang AS melawan Iran. Perhitungan CBO baru mencakup biaya tambahan yang ditanggung Pentagon hingga 1 Agustus 2026.

Biaya memperbaiki pangkalan militer AS yang rusak belum masuk hitungan. Pentagon tidak memberikan data mengenai besarnya kerusakan maupun rencana perbaikannya. Sebagian biaya tersebut juga mungkin ditanggung oleh negara tempat pangkalan berada.

CBO juga belum menghitung biaya bagi tentara yang tewas atau terluka, perawatan kesehatan veteran, pembayaran kompensasi disabilitas, serta biaya perawatan peralatan militer setelah perang.

Pengeluaran di luar Pentagon juga belum dimasukkan. Biaya tersebut mencakup operasi diplomatik, evakuasi, bantuan luar negeri, serta kenaikan biaya bahan bakar yang ditanggung lembaga pemerintah lainnya.

Pemerintahan Trump sendiri telah meminta tambahan anggaran sebesar US$87,6 miliar atau sekitar Rp1.541,76 triliun. Dari jumlah tersebut, US$67,1 miliar dialokasikan untuk Pentagon.

Namun, CBO menilai hanya sekitar US$42,3 miliar yang berkaitan langsung dengan perang Iran. Sisanya digunakan untuk keamanan siber, drone, jaringan data antariksa, program rahasia, dan kebutuhan lembaga pemerintah lainnya.

Karena itu, US$38,1 miliar bukanlah tagihan akhir. Biaya perang akan terus bertambah selama pertempuran berlangsung, sedangkan sebagian pengeluaran lainnya baru akan terlihat setelah perang berakhir.

CNBC INDONESIA RESEARCH

[email protected]

(evw/evw)

Source link

Share

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *