Home Finance Studi Ungkap Tinggal di Kawasan Kumuh Bisa Rusak Otak
Finance

Studi Ungkap Tinggal di Kawasan Kumuh Bisa Rusak Otak

Share
Studi Ungkap Tinggal di Kawasan Kumuh Bisa Rusak Otak
Share




Jakarta, CNBC Indonesia – Lingkungan tempat tinggal ternyata dapat berkaitan dengan kondisi kesehatan otak seseorang. Penelitian terbaru menemukan bahwa orang yang tinggal di kawasan dengan tingkat kesejahteraan sosial-ekonomi paling rendah cenderung memiliki usia otak yang lebih tua, volume otak total yang lebih kecil, serta lebih banyak tanda kerusakan pembuluh darah kecil di otak.

Melansir Euro News, temuan tersebut berasal dari penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Radiology, publikasi milik Radiological Society of North America (RSNA). Para peneliti menemukan adanya hubungan antara kondisi sosial-ekonomi suatu lingkungan dengan sejumlah ukuran kesehatan otak yang dapat terlihat melalui pemindaian magnetic resonance imaging (MRI).

Dalam penelitian tersebut, peneliti menganalisis hampir 3.000 hasil pemindaian MRI otak dari pasien berusia 18 hingga 96 tahun.

Para peneliti kemudian membandingkan ukuran dan karakteristik otak dengan Area Deprivation Index (ADI). Indeks tersebut digunakan untuk mengukur tingkat ketertinggalan atau kerugian sosial-ekonomi suatu wilayah berdasarkan sejumlah faktor, termasuk pendapatan, pendidikan, pekerjaan, dan kondisi perumahan.

Penting dicatat, ADI menggambarkan kondisi suatu wilayah dan bukan secara langsung menggambarkan kondisi sosial-ekonomi setiap individu yang tinggal di dalamnya.

Hasil penelitian menunjukkan, orang yang tinggal di wilayah dengan tingkat ketertinggalan sosial-ekonomi paling tinggi memiliki usia otak yang lebih tua dan volume total otak yang lebih kecil dibandingkan dengan mereka yang tinggal di kawasan dengan kondisi sosial-ekonomi yang lebih baik.

“Tempat tinggal Anda meninggalkan jejak yang dapat diukur pada otak Anda,” kata John-Paul J. Yu, salah satu peneliti dalam penelitian tersebut.

Menurut Yu, lingkungan tempat tinggal memiliki dampak yang jelas dan dapat diukur terhadap usia otak dan, secara tidak langsung, terhadap kesehatan otak.

Lebih Banyak Tanda Kerusakan Pembuluh Darah di Otak

Selain perbedaan usia dan volume otak, penelitian tersebut juga menemukan adanya volume white matter hyperintensities (WMH) yang lebih tinggi pada orang-orang yang tinggal di lingkungan dengan kondisi paling kurang menguntungkan.

White matter hyperintensities merupakan area yang tampak sebagai titik atau bercak terang pada materi putih otak dalam pemeriksaan MRI. Kondisi tersebut dapat berkaitan dengan kerusakan pembuluh darah kecil di otak.

“Hiperintensitas materi putih pada dasarnya merupakan jejak kerusakan kardiovaskular di otak,” kata Yu.

Ia menjelaskan, sejumlah faktor seperti tekanan darah tinggi, kualitas tidur yang buruk, dan stres kronis dapat memengaruhi aliran darah ke otak dalam jangka panjang.

Volume WMH yang lebih tinggi juga telah dikaitkan dengan peningkatan risiko masalah kesehatan neurologis, termasuk hilangnya daya ingat, gangguan kognitif, dan demensia.

Ketimpangan Lingkungan Jadi Perhatian

Menurut para peneliti, temuan ini menambah bukti bahwa kondisi lingkungan tempat seseorang lahir, tinggal, bekerja, hingga menjalani masa tua dapat berkaitan dengan kesehatan neurologis dalam jangka panjang.

Karena itu, ketimpangan lingkungan dinilai perlu diperhitungkan dalam perancangan intervensi kesehatan maupun kebijakan publik.

“Ketimpangan lingkungan-yang diukur menggunakan indeks seperti ADI-merupakan faktor penentu yang penting karena mencerminkan ketidakadilan struktural yang terakumulasi, melampaui sekadar perilaku individu, yang turut berkontribusi terhadap kesenjangan dalam hasil klinis,” ujar Yu.

Meski demikian, temuan mengenai hubungan antara kondisi lingkungan dan karakteristik kesehatan otak tidak berarti bahwa tempat tinggal seseorang secara langsung menyebabkan perubahan otak tertentu. Kondisi kesehatan otak dipengaruhi oleh berbagai faktor yang saling berkaitan, sehingga hasil penelitian ini terutama menunjukkan adanya hubungan yang perlu dikaji lebih lanjut.

Penelitian tersebut sekaligus menyoroti pentingnya melihat kesehatan otak tidak hanya dari sisi perilaku dan kondisi individu, tetapi juga dari lingkungan sosial-ekonomi yang membentuk kehidupan seseorang dalam jangka panjang.

(hsy/hsy)

[Gambas:Video CNBC]

Source link

Share

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *