
Jakarta, CNBC Indonesia – Biaya utang pemerintah terus meningkat di berbagai negara. Kenaikan harga minyak, tekanan inflasi, dan besarnya kebutuhan pembiayaan membuat investor meminta imbal hasil lebih tinggi untuk membeli obligasi negara.
Berdasarkan data Bloomberg yang dihimpun Visual Capitalist per 15 September 2026, yield obligasi pemerintah tenor 10 tahun naik di seluruh negara yang masuk dalam daftar.
Kenaikan paling tajam terjadi di Korea Selatan. Yield obligasi pemerintahnya melonjak 178 basis poin (bps) dalam setahun, dari 2,81% pada September 2025 menjadi 4,59% pada September 2026.
Jepang berada di posisi berikutnya dengan kenaikan 145 bps. Yield obligasi pemerintah Jepang tenor 10 tahun naik dari 1,58% menjadi 3,03%.
Australia, Prancis, dan Amerika Serikat (AS) melengkapi lima negara dengan kenaikan yield terbesar.
Korea Selatan Memimpin
Korea Selatan mencatatkan kenaikan paling tajam dengan tambahan 178 bps dalam setahun.
Lonjakan tersebut membawa yield obligasi pemerintah Korea Selatan tenor 10 tahun menjadi 4,59%. Padahal, pada September tahun lalu yield masih berada di level 2,81%.
Kenaikan yield menunjukkan harga obligasi sedang turun karena investor meminta keuntungan yang lebih tinggi. Kondisi ini dapat terjadi ketika pasar memperkirakan suku bunga akan bertahan tinggi, inflasi meningkat, atau pemerintah harus menerbitkan lebih banyak utang.
Jepang menyusul dengan kenaikan sebesar 145 bps. Yield obligasi pemerintah Jepang tenor 10 tahun telah menembus 3,03%, tertinggi dalam sekitar 30 tahun.
Kenaikan tersebut menjadi perubahan besar bagi Jepang yang selama puluhan tahun dikenal dengan suku bunga dan yield obligasi sangat rendah.
Pasar kini memperkirakan Bank of Japan masih akan memperketat kebijakan moneternya. Kenaikan yield juga dapat menambah tekanan terhadap keuangan pemerintah Jepang yang memiliki tumpukan utang sangat besar.
Australia Tembus 5,41%
Australia berada di posisi ketiga setelah yield obligasi tenor 10 tahunnya meningkat 114 bps.
Yield tersebut naik dari 4,27% pada September 2025 menjadi 5,41% pada September 2026. Posisi Australia kini sedikit lebih tinggi dibandingkan Inggris yang berada di level 5,40%.
Prancis menyusul dengan kenaikan 102 bps menjadi 4,50%. Kenaikannya lebih besar dibandingkan AS, Yunani, Italia, maupun Jerman.
Kondisi fiskal menjadi salah satu perhatian utama investor di Prancis. Pemerintah harus membiayai defisit yang masih lebar ketika biaya pembayaran utang terus meningkat.
US Treasury Tembus 5%
Yield US Treasury tenor 10 tahun meningkat 97 bps dalam setahun, dari 4,04% menjadi 5,01%.
Dalam perdagangan 15 September, yield tersebut sempat menyentuh 5,04% sekaligus menjadi posisi tertinggi sejak 2007.
Kenaikannya memang tidak setinggi Korea Selatan, Jepang, Australia, ataupun Prancis. Namun, pergerakan US Treasury memiliki pengaruh yang jauh lebih luas karena menjadi acuan biaya pinjaman di pasar keuangan global.
Yield Treasury mempengaruhi bunga kredit perumahan, pinjaman perusahaan, valuasi saham, hingga biaya utang negara lain.
Kenaikan yield juga terjadi ketika pemerintah AS membutuhkan dana dalam jumlah besar untuk membiayai defisit anggaran dan mengganti obligasi lama yang jatuh tempo.
Mengapa Kenaikan Yield Perlu Diperhatikan?
Yield obligasi pemerintah menjadi acuan biaya pinjaman di seluruh perekonomian.
Ketika yield meningkat, bunga kredit perumahan, pinjaman perusahaan, dan berbagai bentuk pembiayaan lainnya juga dapat ikut naik. Rumah tangga dan perusahaan akhirnya harus mengeluarkan biaya lebih besar untuk mencari pinjaman.
Pemerintah juga menghadapi beban serupa. Obligasi lama yang jatuh tempo harus diganti dengan utang baru yang menawarkan bunga lebih tinggi.
Tekanan menjadi semakin berat karena tingkat utang publik di banyak negara maju sudah berada pada level tinggi.
Kenaikan yield turut mempengaruhi pasar saham. Ketika obligasi pemerintah AS menawarkan imbal hasil sekitar 5%, investor mendapatkan keuntungan yang lebih tinggi dari aset yang risikonya relatif rendah.
Saham dan aset berisiko lainnya kemudian harus menawarkan potensi keuntungan lebih besar agar tetap menarik.
Tidak mengherankan jika pengelola dana global kini menempatkan gejolak pasar obligasi sebagai salah satu risiko utama bagi pasar keuangan.
CNBC INDONESIA RESEARCH
(evw/evw)
Leave a comment