
Jakarta, CNBC Indonesia – Kongres Amerika Serikat (AS) memberikan satu kemenangan terakhir bagi Presiden Donald Trump menjelang pemilihan paruh waktu. Mereka resmi meloloskan rancangan undang-undang (RUU) sanksi besar-besaran terhadap Rusia, yang diperingatkan oleh para kritikus akan memberi Trump kekuasaan baru untuk memberlakukan tarif sapu jagat yang dapat mengguncang ekonomi.
Mengutip CNN, Kamis (17/9/2026), Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) AS pada hari Rabu memberikan persetujuan akhir untuk RUU sanksi Rusia yang didedikasikan atas nama mendiang Senator Lindsey Graham. Hasil pemungutan suara akhir menunjukkan perolehan 262-159, dengan puluhan politisi dari Partai Demokrat secara mengejutkan turut memberikan suara dukungan. RUU ini selanjutnya akan langsung diserahkan ke meja Trump untuk ditandatangani.
Sebagian besar anggota parlemen Partai Republik mendukung beleid tersebut. Namun, menurut sumber yang mengetahui diskusi itu, hampir selusin anggota Republik secara tertutup telah melobi para pemimpin partai dalam beberapa hari terakhir untuk mencabut kewenangan tarif baru yang tertuang di dalamnya. Mereka khawatir manuver ini akan semakin menaikkan harga-harga tepat sebelum pemilu. Sayangnya, Ketua DPR Mike Johnson dan tim kepemimpinannya menolak keras usulan perubahan tersebut.
Berdasarkan otoritas tarif baru dalam undang-undang tersebut, pemerintahan Trump kelak bisa mengenakan pungutan hingga 100% pada negara-negara yang membeli minyak dan gas Rusia, termasuk China dan India. Otoritas gila-gilaan ini dinilai oleh para kritikus dapat memberikan guncangan masif bagi perekonomian global.
Perwakilan Dagang AS, Jamieson Greer, nantinya yang akan menentukan tingkat tarif akhir. Namun, hal ini tidak meredakan kekhawatiran dari Demokrat yang menyuarakan protes secara publik, maupun Republik yang ketakutan secara tertutup. Di sisi lain, para pendukung RUU di kedua belah pihak membela bahwa otoritas tarif tersebut terbatas dan dirancang dengan hati-hati, sehingga ketakutan akan besarnya kekuasaan presiden pada masalah perdagangan tidak berdasar.
Sebagai informasi, RUU ini pertama kali diperkenalkan pada April 2025 melalui perundingan panjang yang dipimpin oleh Graham demi mendapatkan restu Gedung Putih. Penampilan publik terakhir Graham, tepat sehari sebelum ia meninggal dunia, adalah di Ukraina saat ia berdiri di depan tank di jalanan Kyiv untuk mengumumkan bahwa Trump akan mendukung RUU tersebut.
Pemungutan suara ini pada akhirnya menjadi dilema berat bagi banyak kader Demokrat. Mayoritas dari mereka sejatinya sangat ingin mendukung paket yang memberikan sanksi wajib kepada pejabat tinggi pemerintah Rusia, termasuk Presiden Vladimir Putin, para oligarki, BUMN, hingga perusahaan asing yang mendukung basis industri pertahanan Rusia.
Namun, hal ini memicu ketegangan internal yang dalam. Tokoh sekutu Ukraina sekaligus Perwakilan senior Maryland, Steny Hoyer, justru dengan berapi-api membela RUU yang ditentang oleh pimpinannya sendiri. Sehari sebelumnya, sepasang kader sentris Demokrat bahkan nekat menentang pemimpin mereka demi membantu Republik membawa RUU ini ke lantai paripurna saat suara GOP kurang.
Senat sendiri telah mengesahkan RUU ini dalam pemungutan suara bipartisan yang luas pada Agustus lalu. Senator Richard Blumenthal, sponsor utama RUU tersebut dari Demokrat di Senat, menyatakan harapannya agar DPR menyadari tanggung jawab besar mereka.
“Ada urgensi di sini. Dalam pertemuan terakhir saya dengan Presiden Zelensky, ia bersikeras agar kita mengesahkan RUU sanksi Rusia,” ungkapnya.
Namun, Pemimpin Demokrat di DPR Hakeem Jeffries dengan tegas mengumumkan penolakannya terhadap RUU tersebut karena memprotes masuknya otoritas tarif tambahan.
“Mengapa di dunia ini Kongres akan memberi presiden ini otoritas tambahan untuk mendatangkan kerugian ekonomi semacam itu pada rakyat Amerika?” ucap Jeffries.
Trio politikus senior Demokrat yang duduk di pucuk pimpinan komite urusan luar negeri dan perdagangan-Gregory Meeks, Richard Neal, dan Don Beyer-juga memperingatkan bahwa RUU tersebut akan membawa lebih banyak kerugian daripada kebaikan.
“RUU ini akan secara dramatis memperluas otoritas tarif presiden namun gagal mewajibkan sanksi terhadap Rusia, yang keduanya tidak dapat diterima,” tegasnya.
“Kelemahan ini akan menaikkan harga-harga bagi rakyat Amerika sekaligus merusak dukungan untuk Ukraina dalam jangka panjang.”
(tps/sef)
Leave a comment