
Jakarta, CNBC Indonesia – Penawaran umum perdana saham (initial public offering/IPO) SpaceX pada Juni lalu tak hanya melahirkan triliuner pertama di dunia, tetapi juga deretan jutawan baru dari kalangan karyawannya. Salah satunya adalah Brian Aggrey, mantan insinyur perangkat lunak senior yang memilih berhenti bekerja dan menghabiskan setahun penuh untuk mengejar hobi bersama istrinya.
Mengutip The Wall Street Journal (WSJ), Aggrey dan istrinya, Phoebe Novack, sama-sama berusia 35 tahun, memutuskan keluar dari pekerjaan mereka setelah nilai kekayaan keduanya melonjak pasca-IPO SpaceX. Aggrey mundur dari SpaceX pada Juli 2026, sementara Novack sebelumnya menjabat senior category manager di Impossible Foods.
Pasangan tersebut menganggarkan dana US$25.000 per bulan selama setahun. Dengan kurs penutupan Rabu (16/9/2026) di posisi Rp17.675/US$, sehingga anggaran tersebut setara sekitar Rp441,88 juta per bulan atau Rp5,30 miliar dalam setahun.
Dari Magang hingga Pemegang Saham
Aggrey bergabung dengan perusahaan roket milik Elon Musk itu sebagai pekerja magang pada usia 21 tahun dan bertahan selama 14 tahun. Selama berkarier di sana, ia menangani struktur mekanis roket Falcon 9 hingga desain komponen avionik untuk sejumlah wahana antariksa.
Saham SpaceX yang dimilikinya terkumpul dari alokasi awal saat bergabung serta bonus kinerja tahunan. Pasangan yang bertemu semasa kuliah di Washington University in St. Louis ini bahkan sempat tinggal bersama teman sekamar di Los Angeles demi menghemat biaya, agar Aggrey bisa membeli opsi saham SpaceX sebanyak mungkin.
Aggrey mengenang pada 2015 ia pernah tak sanggup membayar pajak atas opsi saham sekaligus biaya sewa tempat tinggal, hingga teman sekamarnya menalangi US$200.
Kepada WSJ, Aggrey mengaku saat itu mereka tak pernah tahu apakah saham yang dikumpulkan akan bernilai. Ia menyebut keputusan tersebut sebagai risiko yang akhirnya membuahkan hasil.
SpaceX melantai pada 12 Juni 2026 dalam IPO yang tercatat sebagai yang terbesar di dunia hingga saat ini. Setelah hari pertama perdagangan, valuasi perusahaan mencapai US$2,1 triliun.
Menurut pasangan tersebut, sejumlah rekan mereka yang juga ikut menikmati hasil IPO kini mempertimbangkan pensiun dini hingga membeli rumah tambahan.
Aggrey dan Novack sendiri hanya menjual sebagian saham, cukup untuk merasa aman dari volatilitas harga saham SpaceX. Sebagian besar kepemilikan mereka masih dipertahankan. Aggrey menyebut IPO membuat mereka yakin bahwa saham tersebut kini bisa diperlakukan sebagai “modal nyata”.
Sejak Juli, keduanya berkeliling Eropa. Novack mengikuti kelas akting intensif di Fontainebleau, Prancis, sementara Aggrey bersepeda, mengunjungi museum di Paris, hingga terbang ke Valencia, Spanyol, untuk memotret gerhana matahari total. Mereka juga sempat menjajal paralayang di Chamonix dan menonton Grand Prix Formula 1 di Italia.
Menjelang akhir tahun, Aggrey berencana ke Mexico City untuk berkolaborasi dengan pematung Brian Thoreen dalam proyek seni yang menyoroti krisis air di kota tersebut. Adapun Novack berencana mengambil kelas desain lanskap, seni visual, dan produksi film.
Pasangan ini telah menetapkan batas akhir petualangan mereka pada 31 Juli 2027. Setelah itu, mereka membuka kemungkinan kembali ke jalur karier lama atau beralih ke bidang baru. Aggrey, misalnya, mengaku tertarik membenahi sistem transportasi publik di Amerika Serikat setelah merasakan layanan serupa di Eropa.
(fsd/fsd)
Leave a comment