
Jakarta, CNBC Indonesia – PT Timah Tbk (TINS) menargetkan porsi produksi logam timah yang ditujukan untuk kebutuhan industri di dalam negeri bisa mencapai 20% pada akhir 2026. Target tersebut meningkat signifikan dibandingkan sebelumnya yang hanya sekitar 3%.
Direktur Utama PT Timah Restu Widiyantoro mengatakan bahwa sebelumnya sekitar 95% hasil produksi PT Timah diekspor ke luar negeri. Sementara itu, porsi yang dimanfaatkan sebagai bahan baku industri di dalam negeri masih kurang dari 3%.
“Kami laporkan, jadi sebelumnya PT Timah itu 95% hasil produksinya itu diekspor ke luar negeri. Jadi hanya kurang dari 3% yang dimanfaatkan di dalam negeri, artinya menjadi bahan untuk industri-industri di dalam negeri. Jadi hanya 3%,” ungkapnya dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) bersama Komisi XII DPR RI beberapa waktu lalu.
Namun demikian, menurutnya porsi penjualan logam timah untuk domestik kini telah mengalami peningkatan signifikan. Ia menyebut hingga pekan lalu, PT Timah telah meningkatkan porsi tersebut dari sekitar 3% menjadi 16%.
“Jadi yang sebelumnya hanya 3% yang diproses di dalam negeri, sekarang menjadi 16% atau dari segi tonasenya sekitar 200 ton logam timah yang diproses menjadi bahan-bahan industri dalam negeri,” tuturnya.
Oleh sebab itu, ia pun menargetkan porsi penjualan logam timah untuk kepentingan dalam negeri akan kembali meningkat hingga mencapai sekitar 20% pada akhir 2026.
“Target kami sampai dengan akhir tahun harus mencapai sekitar 20%. Jadi tidak semua produk logam kami dijual ke luar, tetapi dilanjutkan hilirisasi di dalam negeri dan ini yang menjadi mandat utama kami untuk hilirisasi,” katanya.
Kinerja Semester I 2026
Hingga semester I-2026, produksi bijih timah TINS tercatat mencapai 12.232 ton Sn, meningkat 75% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar 6.997 ton Sn.
Perusahaan menyebut, peningkatan produksi tersebut didorong oleh optimalisasi produktivitas dan penambahan unit operasi pada sejumlah objek produksi, meliputi Kapal Isap Produksi (KIP), Ponton Isap Produksi (PIP), serta tambang darat kemitraan yang terdiri atas Tambang Kecil dan Tambang Ponton Isap Darat.
Sejalan dengan peningkatan produksi bijih timah, Perseroan membukukan produksi logam timah sepanjang Semester I 2026 sebesar 10.865 metrik ton Sn, meningkat 58% dibandingkan Semester I 2025 sebesar 6.870 metrik ton Sn.
Adapun penjualan logam timah mencapai 10.984 metrik ton, meningkat 85% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar 5.933 metrik ton.
Peningkatan volume penjualan tersebut turut didukung oleh optimalisasi pengelolaan persediaan logam timah untuk memenuhi permintaan pasar.
Sementara itu, harga jual rata-rata logam timah sepanjang Semester I 2026 mencapai US$ 49.794 per metrik ton, meningkat 52% dibandingkan Semester I 2025 sebesar US$ 32.816 per metrik ton, sejalan dengan masih kuatnya harga timah di pasar global.
Pada Semester I 2026, penjualan logam timah Perseroan masih didominasi oleh pasar ekspor yang berkontribusi sebesar 97% dari total penjualan, sedangkan pasar domestik sebesar 3%. Adapun enam negara tujuan ekspor utama meliputi China sebesar 36%, India 12%, Korea Selatan 11%, Singapura 6%, Belanda 5%, dan Italia 5%.
Perseroan optimistis dapat mempertahankan momentum kinerja positif pada Semester II 2026 seiring dengan prospek industri timah global yang masih didukung pertumbuhan permintaan dari sektor elektronik, semikonduktor, kendaraan listrik, pusat data, dan teknologi berbasis kecerdasan buatan.
Hingga Semester I 2026, Perseroan mencatat sumber daya timah sebesar 798 ribu ton dan cadangan timah sebesar 312 ribu ton sebagai fondasi keberlanjutan kegiatan operasional serta pengembangan usaha Perseroan.
Dari sisi kinerja keuangan, PT Timah (Persero) Tbk (TINS) mencatat laba bersih mencapai Rp2,71 triliun pada Semester I 2026. Capaian tersebut melampaui target laba bersih tahun 2026 sebesar Rp1,61 triliun atau setara 169% dari target.
Capaian laba tersebut didorong oleh pendapatan TINS hingga Semester I 2026 yang sebesar Rp10,42 triliun, meningkat 247% dibandingkan Semester I 2025 sebesar Rp4,22 triliun.
(wia)
Leave a comment