
Jakarta, CNBC Indonesia – Kementerian Keuangan (Kemenkeu) memastikan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) di sisa 2026 masih kuat meski risiko eksternal cenderung meningkat.
Pelaksana harian (Plh.) Direktur Jenderal Strategi Ekonomi dan Fiskal (DJSEF) Kemenkeu Ferry Ardianto mengatakan pemerintah masih mempertahankan outlook defisit APBN 2026 di angka 2,85%. Hal ini karena buffer APBN masih kuat.
“Outlook defisit APBN masih feasible di 2,85%? Masih, karena meski ada peningkatan risiko dari sisi eksternal baik dari harga komoditas, energi, maupun yield global, namun APBN memang dirancang untuk menghadapi dinamika seperti ini. Kita memiliki buffer yang kuat untuk mitigasi terhadap gejolak geoekonomi dan geopolitik,” kata Ferry di APBN KiTA, Jumat (18/9/2026).
Menurutnya, APBN dirancang dengan buffer yang cukup kuat untuk menghadapi berbagai dinamika ekonomi dan geopolitik. Dengan demikian, outlook defisit sebesar 2,85% dari PDB masih menjadi baseline pemerintah.
Meski demikian, pemerintah tetap melakukan stress testing terhadap sejumlah skenario yang berpotensi memberikan tekanan terhadap APBN. Skenario tersebut antara lain kenaikan harga minyak, perubahan nilai tukar, hingga perubahan yield Surat Perbendaharaan Negara (SPN).
Ferry menambahkan, pemerintah juga akan mengandalkan sejumlah strategi untuk menjaga ketahanan APBN. Strategi tersebut mencakup pengelolaan belanja, optimalisasi pendapatan negara, strategi pembiayaan, serta penggunaan instrumen fiskal secara prudent.
“Jadi yang paling penting adalah kita memiliki buffer yang sampai saat ini masih kuat, termasuk mengelola belanja, optimasi pendapatan negara, strategi pembiayaan dan penggunaan instrumen fiskal yang prudent,” terang Ferry.
Sebagai informasi, hingga akhir Agustus 2026, defisit APBN tetap terjaga di level 0,9% dari Produk Domestik Bruto (PDB).
Adapun, defisit ini dicapai dengan catatan pendapatan negara lebih rendah dari belanja yakni Rp 2.055,6 triliun atau mencapai 65,2% dari target dalam APBN 2026. Sementara itu, belanja mencapai Rp 2.295,7 triliun. Dengan demikian, defisit mencapai Rp 240,1 triliun atau 0,9%.
“APBN tetap kuat dengan keseimbangan primer positif (Rp 154 triliun) dan defisit dalam batasan terkendali. Dan ini artinya memang perjalanan APBNnya relatively on track,” kata Menteri Keuangan (Menkeu) Suahasil Nazara di APBN KiTA, Jumat (18/9/2026).
Angka defisit ini sebelumnya sudah disampaikan Purbaya Yudhi Sadewa minggu lalu. Secara keseluruhan tahun, pemerintah memperkirakan defisit APBN hingga akhir tahun 2026 akan berada di sekitar 2,85% dari PDB (atau setara Rp734,3 triliun), sedikit di atas target awal APBN yang sebesar 2,68% PDB.
(dem/dem)
Leave a comment