Home Finance Xi Jinping Temui Trump, China Pasang 4 Garis Merah untuk AS
Finance

Xi Jinping Temui Trump, China Pasang 4 Garis Merah untuk AS

Share
Xi Jinping Temui Trump, China Pasang 4 Garis Merah untuk AS
Share




Jakarta, CNBC Indonesia – China kembali mengirim peringatan keras kepada Amerika Serikat (AS) menjelang pertemuan Presiden China Xi Jinping dengan Presiden AS Donald Trump di Washington. Beijing menegaskan Taiwan dan isu hak asasi manusia (HAM) merupakan bagian dari kepentingan yang tidak boleh dilanggar.

Peringatan itu disampaikan Duta Besar China untuk AS Xie Feng dalam tulisan yang dimuat People’s Daily pada Rabu (23/9/2026), bertepatan dengan hari keberangkatan Xi menuju Washington untuk bertemu Trump.

Xi dijadwalkan bertemu Trump dalam sebuah pertemuan tingkat tinggi ketika hubungan kedua negara masih dibayangi sejumlah perselisihan, mulai dari perdagangan hingga Taiwan.

Xie mengatakan pengelolaan perbedaan antara Beijing dan Washington hanya bisa dilakukan jika kedua pihak menunjukkan itikad baik. Menurutnya, AS juga perlu berhenti menggunakan alasan seperti keamanan nasional, ketidakseimbangan ekonomi dan kerja paksa untuk membatasi China.

Ia menekankan bahwa kerja sama akan memberikan keuntungan bagi kedua negara, sedangkan konfrontasi justru akan merugikan keduanya.

“Kedaulatan, keamanan, dan kepentingan pembangunan China tidak boleh dilanggar, dan empat garis merah, masalah Taiwan, demokrasi dan hak asasi manusia, jalur serta sistem pembangunan, dan hak-hak pembangunan tidak boleh ditantang,” kata Xie, sebagaimana dikutip Reuters.

“China berkomitmen untuk mengejar pembangunan secara damai dan berharap AS juga bergerak ke arah yang sama.”

Adapun Taiwan menjadi salah satu isu paling sensitif dalam hubungan China-AS. Beijing menganggap Taiwan sebagai bagian dari wilayahnya, sementara pemerintah di Taipei menolak klaim tersebut.

Taiwan dalam Pusaran Konflik

AS merupakan pemasok senjata sekaligus pendukung internasional terpenting Taiwan. China selama ini berulang kali mendesak Washington menghentikan penjualan senjata kepada Taipei.

Setelah bertemu Xi dalam kunjungan ke Beijing pada Mei lalu, Trump mengatakan dirinya menunda paket persenjataan baru untuk Taiwan senilai sekitar US$14 miliar. Saat itu, Trump menyebut paket tersebut sebagai “alat tawar yang sangat bagus”.

Seorang pejabat senior keamanan Taiwan mengatakan kepada wartawan bahwa Beijing melihat penundaan pengiriman senjata AS sebagai cara langsung untuk memperlambat pembangunan kekuatan militer Taiwan. Kondisi itu, menurut pejabat tersebut, dapat memberi China ruang lebih besar untuk meningkatkan tekanan di sekitar Taiwan, Jepang dan Filipina.

Pejabat yang berbicara tanpa menyebutkan namanya itu juga mengatakan China dapat menawarkan sejumlah insentif kepada Trump. Bentuknya bisa berupa pembelian barang dari AS ataupun langkah tertentu terkait ketegangan di Timur Tengah, dengan harapan Washington mengurangi komitmen militernya di kawasan dan sebagai imbalannya Beijing memberikan kerja sama yang lebih luas.

China juga telah meningkatkan secara signifikan jumlah kapal angkatan laut, penjaga pantai dan kapal penelitian di sekitar Taiwan serta Laut China Selatan dan Laut China Timur. Menurut pejabat Taiwan tersebut, kapal-kapal itu juga mengumpulkan data, termasuk mengenai kabel bawah laut, yang berpotensi berguna dalam situasi perang.

Kementerian Pertahanan China belum memberikan tanggapan atas permintaan komentar mengenai hal tersebut.

Sementara itu, Kementerian Luar Negeri China kembali menegaskan “penolakan tegas” terhadap penjualan senjata AS ke Taiwan. Beijing menyebut isu Taiwan sebagai “inti dari kepentingan inti”-nya sekaligus fondasi politik hubungan China-AS.

China memang tidak pernah mengesampingkan penggunaan kekuatan untuk membawa Taiwan berada di bawah kendalinya. Namun Beijing mengatakan tetap menginginkan “penyatuan kembali secara damai”.

Di Beijing, juru bicara Kantor Urusan Taiwan Zhu Fenglian justru menuding Taiwan sebagai pihak yang sengaja meningkatkan konfrontasi.

“Upaya untuk merencanakan kemerdekaan adalah penyebab utama rusaknya perdamaian dan stabilitas di Selat Taiwan serta terganggunya status quo,” kata Zhu.

China Soroti Cara Pandang AS

People’s Daily juga menerbitkan komentar terpisah pada Rabu yang menilai persepsi AS terhadap China sebagai sesuatu yang “keliru”. Media resmi Partai Komunis China itu menyebut ketidakmampuan Washington melepaskan konsep persaingan strategis sebagai akar dari sulitnya hubungan kedua negara.

“Dalam beberapa tahun terakhir, jalan berliku yang telah dilalui hubungan China-AS dengan jelas menunjukkan bahwa persepsi AS yang keliru terhadap China dan keengganannya untuk melepaskan gagasan ‘persaingan strategis’ merupakan penyebab utama dari kesulitan yang terus berulang,” tulis komentar tersebut.

Artikel itu tidak memberikan rincian lebih lanjut mengenai dasar penilaian tersebut.

Kedua negara, menurut tulisan yang diterbitkan dengan nama samaran “Zhong Sheng”, yang biasa digunakan People’s Daily untuk menyampaikan pandangan mengenai kebijakan luar negeri, harus menjaga momentum positif yang telah dicapai setelah melalui “biaya besar”.

“AS khususnya perlu menjaga kesinambungan dan stabilitas kebijakannya, memenuhi komitmennya, serta memberikan kepastian dalam hubungan bilateral,” demikian isi komentar tersebut.

 

(luc/luc)

[Gambas:Video CNBC]

Source link

Share

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *