
Jakarta, CNBC Indonesia – Lonjakan penumpang Kereta Rel Listrik (KRL) Jabodetabek terjadi ketika sebagian besar armada yang beroperasi sudah berusia lanjut. PT Kereta Commuter Indonesia (KCI) mengungkapkan sebanyak 87 trainset perlu diganti hingga 2031 untuk menjaga kapasitas layanan.
Saat ini, jumlah penumpang KRL telah mencapai sekitar 1,1 juta orang per hari. Angka tersebut meningkat 11,5% pada semester I 2026 dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Pertumbuhan ini lebih tinggi dibandingkan proyeksi sebelumnya yang hanya berada di kisaran 3%-4% per tahun.
“Yang tadinya rata-rata penumpang harian itu di bawah 1 juta, sekarang itu sudah 1,1 juta. Ini terjadi anomali kalau kita bandingkan 2025 di 2026, itu 11,5%. Ini semester I di semester I, itu 11,5%,” ujar Dirut KAI Bobby Rasyidin dalam rapat dengar pendapat dengan Komisi VI DPR RI, Rabu (23/9/26).
Lonjakan pengguna juga terlihat di Stasiun Bogor. Jumlah penumpang naik-turun yang sebelumnya kurang dari 100.000 orang per hari kini telah mencapai sekitar 160.000 orang per hari. Namun, peningkatan permintaan tersebut harus dihadapkan dengan kondisi armada yang sudah tua. KAI mengungkapkan saat ini terdapat sekitar 92 trainset yang telah berusia 40 tahun.
“Pada saat ini kita punya 92 trainset yang umurnya sudah 40 tahun. Ini yang akan pelan-pelan kita konservasi,” katanya.
Bahkan, masih terdapat trainset yang berasal dari era 1970-an. Salah satunya adalah TM 6000 yang disebut masih terdiri dari enam trainset. Kondisi usia armada tersebut menjadi persoalan karena standar penggunaan trainset yang disebut sekitar 20 tahun. Ketika usia kereta semakin tinggi, ketersediaan suku cadang dan kondisi material juga menjadi perhatian.
KAI memperkirakan kebutuhan trainset untuk 2026 mencapai 104 unit dengan asumsi konservatif 1 juta penumpang per hari. Kebutuhan tersebut mencakup 89 trainset untuk menjalankan 1.065 perjalanan per hari, ditambah cadangan dan kebutuhan perawatan. Sementara itu, jumlah sarana pada awal tahun hanya 102 trainset. Artinya, ruang untuk menambah kapasitas sekaligus mengganti armada tua menjadi semakin terbatas.
Persoalan tersebut diproyeksikan semakin besar pada 2029. Pada tahun itu, sejumlah trainset diperkirakan telah mencapai usia sekitar 45 tahun dan mulai menghadapi persoalan ketersediaan suku cadang serta potensi kelelahan material atau fatigue.
“Yang paling tinggi itu ada di 2029. Ketika trainset-trainset kita ini sudah berumur 45. Sudah berumur 45 ini kita sudah tidak deal, satu sparepart-nya sudah tidak ada. Yang kedua, secara metal dia sudah mulai fatigue,” ujar perwakilan KAI.
Secara keseluruhan, hingga 2031 KAI memperkirakan perlu mengganti 87 trainset. Sementara itu, kebutuhan armada akan terus meningkat seiring proyeksi jumlah penumpang yang bertambah.
Untuk jangka panjang, KAI memproyeksikan kebutuhan KRL Jabodetabek mencapai sekitar 200 trainset pada 2040, dengan asumsi jumlah penumpang harian mencapai 2,5-3 juta orang.
Kebutuhan tersebut mencakup penambahan kapasitas sekaligus peremajaan armada lama, sehingga kemampuan pengadaan dan produksi trainset menjadi faktor penting untuk menjaga layanan KRL di tengah pertumbuhan pengguna transportasi massal.
(dce)
Leave a comment