
Jakarta, CNBC Indonesia – Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mengumpulkan para petinggi perusahaan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) dari Amerika Serikat (AS) dan China untuk membahas potensi risiko teknologi tersebut terhadap keamanan internasional.
Startup AI asal China, DeepSeek, dijadwalkan menjadi salah satu perusahaan yang memberikan pemaparan dalam pertemuan Dewan Keamanan PBB (UNSC) pada Rabu (23/9/2026). Melansir laporan Reuters, informasi tersebut berasal dari dua sumber yang mengetahui persoalan tersebut.
Pertemuan yang melibatkan 15 negara anggota Dewan Keamanan PBB ini berlangsung di tengah agenda berkumpulnya para pemimpin dunia di New York untuk menghadiri Sidang Umum PBB.
CEO OpenAI, Sam Altman, juga dijadwalkan untuk memberikan pemaparan. Sejumlah diplomat memperkirakan perwakilan senior dari Anthropic turut hadir. Selain DeepSeek, perusahaan AI asal China lainnya, yaitu Moonshot, juga mendapat undangan untuk menyampaikan pernyataan.
Pendiri DeepSeek, Liang Wenfeng, dikabarkan tidak berencana menghadiri pertemuan tersebut secara langsung, meski sumber Reuters menyebutkan bahwa rencana tersebut masih dapat berubah sewaktu-waktu.
Pembahasan ini dilakukan di tengah kekhawatiran global bahwa perkembangan AI semakin sulit dikendalikan. Sejumlah pemimpin industri AI bahkan menyerukan perlunya perlambatan pengembangan sistem AI yang semakin kuat, mengingat teknologi tersebut berpotensi meningkatkan kemampuannya sendiri dan pada akhirnya berada di luar kendali manusia.
Sekretaris Jenderal PBB, Antonio Guterres, pekan lalu telah memperingatkan para pemimpin dunia bahwa perkembangan AI yang sangat pesat membawa risiko besar yang tidak boleh diabaikan.
Peringatan tersebut tampak berseberangan dengan pandangan Presiden AS Donald Trump, yang menilai bahwa instrumen perlindungan yang ada saat ini sudah mencukupi. Di sisi lain, China juga meminta agar perkembangan AI tidak serta-merta dicurigai membawa risiko.
Dewan Keamanan PBB sebelumnya pernah membahas risiko AI untuk pertama kalinya pada tahun 2023. Saat itu, China memperingatkan agar teknologi tersebut tidak berubah menjadi “kuda liar”, sementara AS memperingatkan potensi penyalahgunaan AI untuk menyensor atau menindas masyarakat.
Media pemerintah China juga sempat menolak seruan untuk memperlambat pengembangan AI. Mereka menyebut seruan tersebut didasari oleh “pola pikir Perang Dingin” yang bertujuan untuk mempertahankan dominasi Washington dalam teknologi mutakhir, sekaligus menyingkirkan Beijing dari tata kelola AI global.
Berbeda dengan para pemimpin perusahaan AI terdepan di AS seperti OpenAI dan Anthropic, para pengembang model AI utama di China relatif jarang membahas secara terbuka kemungkinan bahwa AI yang semakin canggih dapat menipu manusia, menghindari kendali, atau menimbulkan kerusakan besar.
Kendati diwarnai perdebatan tajam, pejabat senior AS dan China tetap sepakat untuk melanjutkan pembicaraan bilateral mengenai keselamatan AI. Menteri Keuangan AS Scott Bessent menyatakan bahwa kesepakatan itu dicapai setelah adanya perundingan menjelang agenda pertemuan antara Presiden Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping di Washington pekan ini.
(fab/fab)
Leave a comment