
Jakarta, CNBC Indonesia – Presiden Iran Masoud Pezeshkian menyampaikan pidato yang tajam dan penuh ketegasan dalam Sidang Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Rabu (23/9/2026). Dalam pidatonya, ia menegaskan bahwa Iran justru merupakan korban terorisme global, menyoroti rentetan agresi mulai dari pengeboman sekolah, pembunuhan para ilmuwan, hingga tewasnya tokoh penting seperti Ismail Haniyeh di Teheran.
Dengan nada menantang, sang presiden menyatakan bahwa Iran tidak akan pernah bertekuk lutut atau menundukkan kepala di hadapan tekanan militer maupun bahasa paksaan dari kekuatan asing. Lebih lanjut, pidato tersebut menelanjangi apa yang disebutnya sebagai standar ganda komunitas internasional, khususnya terkait kepemilikan senjata nuklir dan sanksi ekonomi.
Pemimpin Iran itu mengkritik keras sikap dunia yang membiarkan Israel memiliki senjata pemusnah massal tanpa tersentuh inspeksi, sementara Iran terus-menerus dihukum oleh sanksi yang menyengsarakan rakyat kecil demi program nuklir damai mereka. Pidato ini juga menggarisbawahi krisis kemanusiaan mematikan di Gaza, serta memberikan pesan tegas kepada Donald Trump dan AS bahwa Iran siap berdialog, namun pantang menyerah pada intimidasi.
Berikut adalah transkrip lengkap pidato tersebut:
“Atas nama Tuhan Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Bapak Presiden, Bapak Sekretaris Jenderal, Yang Mulia, hadirin sekalian.
Saya telah menyiapkan pidato untuk disampaikan kepada Anda kemarin. Presiden Amerika Serikat menggambarkan kami sebagai teroris, padahal kami adalah korban dari terorisme. Saya berasal dari Iran, di mana pemimpin tertinggi kami yang terhormat dibunuh tanpa kerangka hukum atau alasan apa pun. Dan saya berasal dari Iran, di mana pada kenyataannya mereka mengebom sebuah sekolah. Anda melihat anak-anak ini, anak-anak ini tewas di bawah bom dengan senjata yang digunakan oleh Amerika Serikat dan Israel. Mereka tidak bersalah, mereka tidak melakukan kejahatan apa pun.
Ilam, salah satu kota kecil di sebuah provinsi di Iran, terdapat sebuah gedung olahraga di mana anak-anak sedang sibuk bermain. Amerika Serikat dengan menggunakan senjata berlapis hulu ledak ganda menargetkan gedung olahraga tersebut. Mereka memartirkan, membunuh para ilmuwan kami, laki-laki, perempuan, dan anak-anak kami. Anak-anak tak berdosa yang sejatinya tidak melakukan kejahatan atau dosa apa pun.
Mereka yang merupakan teroris serta melatih dan melindungi teroris justru menggambarkan kami seperti itu. Kami hanya membela diri, kami bukan teroris. Rakyat kami yang tidak bersalah telah menjadi sasaran serangan pengecut dan agresi yang dijatuhkan ke negara kami, dan kami membela diri dengan segenap kekuatan kami. Amerika dan Israel menyerang kami dengan dilengkapi teknologi dan sistem persenjataan terbaru, dan rakyat kami tetap teguh. Ya, mereka memang menyerang kami, tetapi kami tidak bertekuk lutut, kami tidak menundukkan kepala. Kami membalas, tetapi kami tidak menyerang penduduk sipil.
Mereka masuk ke wilayah-wilayah sekitar dan menargetkan universitas kami, pusat layanan kesehatan kami, sekolah-sekolah kami, rumah sakit kami, serta infrastruktur kami. Semuanya bertentangan dengan hukum internasional. Ketika saya mengambil alih tanggung jawab sebagai presiden, mereka membunuh Ismail Haniyeh di Iran tepat pada hari pelantikan saya. Israel menargetkan wilayah manapun, di kota manapun, di provinsi manapun, serta melakukan pembunuhan layaknya teroris sejati.
Di Gaza, lebih dari 80.000 warga sipil tak berdosa telah dibunuh, dibunuh secara brutal, dan ratusan ribu orang lainnya telah mengungsi. Mereka melakukan genosida dengan menggunakan teknologi yang mereka miliki, lalu melabeli pihak lain sebagai teroris. Apakah kami sumber ketidakstabilan? Kami hanya ingin hidup secara mandiri. Apakah kami yang menyebabkan ketidakstabilan? Mereka yang melakukan terorisme dan melakukan kejahatan, apakah mereka pelindung perdamaian dan stabilitas? Tidak ada satu pun hukum internasional yang mereka patuhi. Inilah yang sedang kami hadapi.
Kami tidak menginginkan apa pun. Kami telah menerima balasan kami. Kami membutuhkan kekuatan, karena bangsa yang tidak mampu membela dirinya sendiri akan diinjak-injak di dunia saat ini. Kita hidup di dunia di mana pihak yang berkuasa, bukannya memikirkan kemanusiaan, keadilan, kewajaran, dan demokrasi, justru seolah-olah menjadi pelindung dan pencipta ketidakstabilan dan kehancuran. Siapa pun yang ingin mereka diskreditkan, mereka beri label teroris.
Selama 200 tahun atau dua abad terakhir, Iran tidak pernah menyerang negara atau wilayah mana pun, tetapi kami selalu membela diri kami dengan teguh. Namun kini kami dituduh sebagai sumber ketidakstabilan di kawasan, dan kami dilabeli teroris. Hal inilah yang membuat jalan yang kami pilih mengharuskan kami memiliki kekuatan untuk membela diri. Kami tidak mencari kekuatan untuk menyerang atau melakukan agresi. Kami mencari energi untuk kemajuan, bukan untuk mengancam masyarakat dengan senjata, dan kami ingin bekerja sama serta berkolaborasi demi keamanan.
Rakyat Iran, dalam tujuh bulan terakhir, turun ke jalan setiap malam, berdemonstrasi mendukung tanah air mereka, agar tidak membiarkan mereka yang dilengkapi, dilatih, dan dipersenjatai oleh Israel dan Amerika menimbulkan gangguan terhadap keamanan negara. Selama 7 bulan siang dan malam mereka hadir di jalanan. Mereka adalah sumber kekuatan dan dukungan kami, dan itulah sebabnya kami berdiri teguh. Iran harus kuat agar terhindar dari ancaman, agar masa depannya tidak terancam. Kami tidak ingin menggunakan kekuatan kami untuk hegemoni, dan kami tidak mencari keamanan kami di atas ketidakamanan pihak lain.
Mengenai pertahanan Iran, sistem pertahanan kami dibangun agar tidak ada yang bisa berpikir bahwa pengeboman terhadap kota-kota Iran akan dibiarkan tanpa balasan. Itulah sebabnya kami memiliki kekuatan militer, untuk pertahanan. Namun kami menyatakan dengan jelas, untuk mempertahankan negara kami, kami tidak meminta izin atau persetujuan siapa pun.
Kami mencari energi untuk kemajuan. Selama bertahun-tahun, ketika menyangkut teknologi nuklir kami, mereka telah melabelinya dengan isu sentrifugal, sanksi internasional, dan label-label lainnya. Namun bagi negara kami, teknologi nuklir damai adalah bagian yang melekat pada kemajuan kami. Bagi orang-orang kami yang sakit, ini adalah untuk obat dan perawatan; bagi sektor pertanian, ini untuk ketahanan pangan; bagi industri, ini untuk perkembangan, kemajuan, dan pasokan energi listrik. Iran tidak dapat menerima jika teknologi nuklir hanya berada dalam kendali eksklusif segelintir pihak. Kami tidak akan menundukkan kepala kami dan menyerahkan hak yang pada dasarnya adalah milik kami. Kami menyatakannya dengan jelas: tidak untuk senjata nuklir dan tidak ada pembatasan pada teknologi nuklir yang damai.
Perdamaian kami tidak akan tercipta di medan pertempuran, tetapi mereka harus memberikan keamanan yang dibutuhkan rakyat dan bangsa Iran. Kami mencari kerja sama untuk mendapatkan keamanan. Kita hidup di kawasan di mana peperangan tidak mengenal batas, di mana krisis di satu wilayah akan meluas ke negara-negara sekitarnya. Itulah sebabnya Iran tidak melihat para tetangganya sebagai pesaing keamanan. Kami ingin memiliki tetangga-tetangga yang kuat.
Di perairan Selat Hormuz, kami tidak bisa membiarkan beberapa pihak memiliki akses bebas dan mengambil keuntungan dari jalur air tersebut, sementara pada saat yang sama menggunakan jalur air itu untuk memaksakan agresi dan ketidakamanan kepada kami, serta melarang akses kami ke jalur air kami sendiri. Mereka menutup akses untuk kami, namun mereka terus memasok rudal dan teknologi militer mematikan untuk membawa ketidakamanan ke seluruh daratan di sekitar jalur air itu. Kami tidak akan menyerah pada hal itu. Perluasan peperangan tidak akan menghasilkan keamanan. Tidak ada yang boleh menciptakan kekacauan bagi negara-negara pesisir yang sedang mencari keamanan laut.
Yang Mulia. Mengenai Palestina, Palestina tetap menjadi luka terbuka pada hati nurani masyarakat internasional, dan Gaza tetap menjadi simbol kegagalan mekanisme internasional dalam mencegah penderitaan warga sipil. Selama puluhan tahun resolusi-resolusi telah disahkan, namun pendudukan dan kekerasan terus berlanjut. Kita tidak dapat berbicara tentang perdamaian sambil mengabaikan Palestina. Perdamaian yang abadi di Asia Barat tidak mungkin terwujud tanpa keadilan bagi Palestina.
Selama pendudukan, agresi, dan ketidakadilan terus berlanjut di dunia, perlawanan akan terus berlanjut. Jika dilemahkan dalam satu bentuk, ia akan muncul kembali di bentuk lain, mungkin lebih kuat lagi. Gaza, terlepas dari pembunuhan tanpa henti dan kehancuran yang meluas, justru telah memperkuat keyakinan rakyat pada perlawanan, dan perlawanan tidak dapat dihancurkan oleh bom dan pengepungan. Ini adalah sifat manusia; jika manusia diusir dari tanahnya, mereka akan melawan. Jika rumah mereka menjadi sasaran pengeboman dan agresi, mereka akan melawan. Pilihan apa lagi yang mereka miliki? Menyerah pada intimidasi, diusir dari rumah dan tanah mereka, lalu diam saja menghadapi ancaman dan bahaya ini? Dan ketika mereka membela diri, mereka malah dilabeli teroris. Bahasa ini, sayangnya, memperjelas jenis dunia yang kita tinggali saat ini.
Masalah-masalah regional kita harus diselesaikan di kawasan ini oleh negara-negara di kawasan itu sendiri, tanpa menjadi mainan di tangan agresor dari luar. Tidak boleh ada hubungan dengan kekuatan asing yang menjadi alat untuk mengancam negara-negara tetangga di kawasan tersebut.
Dan sekarang, sedikit pesan untuk mereka yang bertanggung jawab merencanakan dan melakukan agresi terhadap negara kami. Rakyat kami telah merasakan langsung akibat dari agresi mematikan mereka. Mereka telah menguji kekuatan dan keteguhan Iran, dan mereka telah belajar bahwa Iran tidak dapat dibuat untuk menyerah. Iran tidak pernah sekalipun menjadi agresor, tidak pernah memulai perang, dan selalu menunjukkan komitmen pada meja perundingan. Mereka memaksakan perang kepada kami, tetapi kami membuktikan bahwa kami tidak takut untuk bertempur dan memenangkan perang yang bersifat defensif, dan kami akan berdiri membela tanah air kami Iran yang tercinta sampai napas terakhir.
Hadirin sekalian, topik pertemuan ini adalah tentang ‘rasa saling percaya’, yang tidak dapat dicapai hanya melalui kata-kata, tetapi dengan menghindari penggunaan standar ganda. Bom atom dan nuklir berada di tangan rezim Israel, namun para inspektur (PBB) diminta untuk datang ke Iran. Israel telah membunuh lebih dari 70.000 warga tak berdosa di Gaza secara biadab, namun ketika Iran sedang berada di balik meja perundingan, mereka malah dibom. Israel memiliki bom, memiliki senjata pemusnah massal, tidak tergabung dalam Perjanjian Non-Proliferasi (NPT), dan selama keberadaannya yang memalukan mereka tidak pernah mengizinkan satu pun inspeksi. Namun mereka justru dihargai dengan segala sarana yang diperlukan agar mereka dapat mengebom ibu kota mana pun di wilayah itu sesuka hati.
Saya ulangi: senjata nuklir ada di Israel, tetapi inspektur ada di Iran. Israel membunuh, tetapi Iran yang dikenai sanksi. Ini adalah sebuah tragedi sejati yang mungkin akan membuat siapa pun yang mendengarnya tertawa. Mereka membunuh, kami disanksi, kami dihukum. Orang-orang yang sakit, orang-orang yang tidak bersalah, orang-orang miskin dan kelompok yang paling tidak beruntung di masyarakat kamilah yang menjadi sasaran sanksi-sanksi ini. Dan inilah yang berusaha dilakukan oleh Amerika Serikat terhadap semua negara; mengorbankan populasi suatu negara demi mencapai tujuannya yang tidak sah.
Jika kita mencari perdamaian dan stabilitas sejati, kita harus menerapkan standar tunggal untuk semua. Iran tidak meminta perlakuan khusus, kami menuntut hak-hak yang setara dan kami memikul tanggung jawab yang menyertainya. Namun, selama sejarahnya yang penuh kebanggaan, Iran telah mempelajari pelajaran ini: dunia tanpa kekuatan adalah berbahaya, tetapi dunia yang hanya memahami bahasa perang dan penindasan tidak akan aman. Ketika kita berusaha melaksanakan agenda-agenda yang hanya menguntungkan segelintir kelompok yang istimewa, kita akan mendapatkan dunia yang kacau balau, dan kita melihat ini akan menjadi dunia yang jauh lebih berbahaya bagi kita semua.
Kita tidak boleh membiarkan abad ke-21 kembali ke era di mana hanya pihak-pihak yang kuat, kekuasaan penindas, dan hegemonilah yang berkuasa. Kita tidak boleh membangun dunia di mana kekuatan militer menggantikan legitimasi, terorisme menggantikan politik dan perundingan, serta perang menggantikan dialog dan diplomasi.
Iran mengulurkan tangannya kepada dunia. Kami mengundang dunia, bukan karena kelemahan, melainkan karena keyakinan yang mendalam terhadap kekuatan dan keteguhan kami sendiri untuk bekerja sama dan berkolaborasi. Hal ini didasari keyakinan kuat bahwa tidak ada seorang pun di kawasan ini yang akan meraih keamanan jika dilakukan sendirian. Kita bisa membangunnya bersama, atau kita harus hidup bersama di bawah ketidakamanan.
Kami berusaha memikirkan masa depan yang layak, di mana keamanan, kewajaran, keadilan, dan martabat manusia akan menjadi hak-hak yang tidak dapat dicabut bagi semua orang dan semua umat manusia. Sebuah masa depan di mana tidak ada rakyat yang terpinggirkan, tidak ada suara yang hilang di tengah hiruk pikuk kekuasaan, dan tidak ada satu kekuatan pun yang berhak menentukan masa depan suatu bangsa kecuali bangsa itu sendiri.
Jika kita benar-benar menginginkan tatanan yang berlandaskan hukum dan standar internasional, maka tatanan itu harus berakar pada keadilan, kehendak kemanusiaan bersama yang mengangkat martabat manusia. Karena perdamaian yang tidak mencakup semua pihak bukanlah perdamaian, serta kewajaran dan keadilan yang tidak merangkul semuanya tidak pantas disebut keadilan.
Namun kembali pada perkataan Presiden Amerika Serikat kemarin. Hal tersebut menunjukkan kepada para pakar hukum internasional, dialog, diplomasi, dan standar dasar kemanusiaan bahwa segala hal yang diucapkan mengenai negara kami bertentangan dengan esensi, piagam, dan semangat Perserikatan Bangsa-Bangsa. Ia harus tahu bahwa perlawanan rakyat Iran hanya akan terus meningkat dalam menghadapi sanksi, peningkatan tekanan, dan peningkatan intimidasi. Kami tidak akan pernah menundukkan kepala kami atau bertekuk lutut.
Iran harus dipahami oleh Tuan Trump dan mereka yang berusaha menindas kami, bahwa kami siap untuk berdialog, diplomasi, dan bernegosiasi tanpa menerima bahasa paksaan dan kekerasan.
Saya sangat menghargai waktu dan kehadiran Anda sekalian di sini. Semoga Tuhan memberkati Anda semua.”
(tps/tps)
Leave a comment