Home Finance Perang Makin Ngeri, Ukraina-Rusia Kuasai 91% Impor Drone Dunia
Finance

Perang Makin Ngeri, Ukraina-Rusia Kuasai 91% Impor Drone Dunia

Share
Perang Makin Ngeri, Ukraina-Rusia Kuasai 91% Impor Drone Dunia
Share


Jakarta, CNBC Indonesia – Perang Rusia dan Ukraina telah mengubah wajah pertempuran masa kini.

Drone yang sebelumnya lebih banyak digunakan untuk mengintai kini menjadi salah satu senjata mematikan untuk menyerang pasukan, kendaraan tempur, gudang amunisi, hingga fasilitas penting.

Penggunaannya pun terus meluas. Negara-negara tidak hanya mengembangkan drone sendiri, tetapi juga mendatangkannya dari luar negeri, baik melalui pembelian, bantuan militer, maupun produksi menggunakan lisensi asing.

Melansir dari Visual Capitalist yang mengolah data Stockholm International Peace Research Institute (SIPRI), sebanyak 16.822 drone militer tercatat berpindah antarnegara sepanjang 2022-2025. Lebih dari 91% di antaranya mengalir ke dua negara yang sedang berperang, yakni Ukraina dan Rusia.

Ukraina dan Rusia

Ukraina berada di posisi teratas setelah menerima 8.664 drone militer dari pemasok asing. Jumlah tersebut setara dengan 51,5% dari seluruh pengiriman drone militer yang tercatat secara global selama empat tahun.

Pasokan Ukraina sangat bergantung pada Amerika Serikat (AS). Sistem buatan AS mencakup sekitar 83% dari seluruh drone militer asing yang diterima negara tersebut.

Rusia menyusul di posisi kedua dengan 6.720 unit atau 39,9% dari total global. Berbeda dengan Ukraina, seluruh impor drone Rusia yang masuk dalam catatan SIPRI berasal dari Iran.

Sebagian besar merupakan Shahed-136, yakni drone serang satu arah yang membawa bahan peledak dan menghantam sasaran secara langsung. Rusia awalnya mendatangkan drone tersebut dari Iran, sebelum mengembangkan dan memproduksi versinya sendiri dengan nama Geran-2.

SIPRI memperkirakan Iran telah memasok sekitar 7.000 Shahed-136 kepada Rusia. Namun, Rusia kini telah mampu membuat versi sendiri sehingga kebutuhan terhadap bantuan Iran diperkirakan semakin berkurang.

Jarak antara dua negara teratas dengan negara lainnya sangat lebar. Tidak ada negara lain yang menerima hingga 300 drone militer selama periode tersebut.


Taiwan Mempercepat Belanja Drone

Di luar Rusia dan Ukraina, Taiwan menjadi penerima drone militer asing terbanyak. Taiwan menerima 291 loitering munition buatan AS pada 2025.

Senjata ini dapat terbang mencari sasaran terlebih dahulu sebelum menabrakkan diri dan meledak. Cara kerjanya membuat loitering munition sering disebut sebagai drone kamikaze.

Pengalaman perang di Ukraina ikut mendorong Taiwan memperkuat armada drone miliknya. Pemerintah Taiwan bahkan merencanakan pengadaan hingga 200.000 drone dalam satu dekade mendatang.

Jumlah tersebut hampir 12 kali lebih banyak dibandingkan seluruh drone militer yang tercatat dalam perdagangan internasional selama 2022-2025. 

Jumlah Sebenarnya Jauh Lebih Besar

Angka 16.822 unit belum menunjukkan seluruh perdagangan drone militer dunia. SIPRI hanya melacak perpindahan senjata utama, termasuk drone dengan berat saat bermuatan sedikitnya 150 kilogram.

Drone serang satu arah dan loitering munition turut dihitung, tetapi dimasukkan dalam kelompok rudal. Jenis inilah yang mencakup sekitar 97% pengiriman dalam daftar tersebut.

Sebaliknya, sebagian besar drone kecil berjenis first-person view atau FPV tidak masuk dalam perhitungan. Padahal, drone murah yang dikendalikan melalui kamera ini digunakan dalam jumlah sangat besar di garis depan Ukraina.

Sebagai gambaran, Inggris mengirimkan lebih dari 85.000 drone militer berukuran kecil kepada Ukraina hanya dalam enam bulan pada 2025. Jumlahnya sekitar lima kali lipat dibandingkan seluruh pengiriman global yang tercatat SIPRI selama empat tahun.

Drone yang dibuat sepenuhnya di dalam negeri juga tidak dihitung karena SIPRI hanya mencatat senjata yang melintasi batas negara atau diproduksi menggunakan lisensi asing.

Kapasitas industri pertahanan Ukraina kini telah melampaui 8 juta drone FPV per tahun. Lebih dari 160 perusahaan di negara tersebut terlibat dalam produksi drone, mulai dari pabrik besar hingga perusahaan yang khusus mengembangkan sistem tanpa awak.

Rusia juga terus memperbesar produksi dalam negeri. Intelijen Ukraina memperkirakan Rusia mampu menghasilkan sekitar 2.800 drone Geran-2 setiap bulan, jauh di atas sekitar 2.000 unit per tahun yang dicatat SIPRI sebagai produksi menggunakan lisensi Iran.

Perbedaan tersebut menunjukkan bahwa perdagangan drone militer yang tercatat secara resmi hanya menggambarkan sebagian kecil dari jumlah yang sebenarnya beredar di medan perang. Di balik ribuan drone berukuran besar yang berpindah antarnegara, jutaan drone kecil terus diproduksi dan digunakan langsung oleh negara-negara yang sedang berperang.

CNBC INDONESIA RESEARCH 

[email protected]

(evw/luc)

Source link

Share

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *