Home Finance Pengganti Freon Sudah Ada, AC dan Kulkas Bakal Berubah
Finance

Pengganti Freon Sudah Ada, AC dan Kulkas Bakal Berubah

Share
Pengganti Freon Sudah Ada, AC dan Kulkas Bakal Berubah
Share




Jakarta, CNBC Indonesia – Teknologi pendingin udara (AC) dan lemari es (kulkas) di masa depan bersiap menghadapi perubahan besar. Setelah puluhan tahun setia mengandalkan freon sebagai zat pendingin (refrigeran), industri global kini mulai beralih ke material alternatif yang jauh lebih ramah lingkungan.

Transformasi radikal ini didorong oleh komitmen dunia dalam menekan laju emisi gas rumah kaca. Pasalnya, freon yang selama ini menjadi komponen utama di dalam AC maupun kulkas terbukti memiliki potensi besar memicu pemanasan global.

Menjawab tantangan tersebut, para peneliti sukses mengembangkan metode alternatif untuk mendinginkan ruangan tanpa harus bergantung pada zat kimia berbahaya seperti hydrofluorocarbon (HFC) yang jamak dikenal sebagai freon. Sebagai gantinya, inovasi mutakhir ini justru memanfaatkan garam sebagai komponen inti sistem pendingin.

Cara Kerja Teknologi “Ionokalori” Berbasis Garam

Melansir IFLScience, teknologi pendingin konvensional pada dasarnya bekerja dengan menyerap lalu membuang panas dari dalam ruangan menggunakan cairan khusus penghantar panas. Cairan itu kemudian diuapkan menjadi gas, dialirkan melalui sistem tertutup, sebelum akhirnya dikondensasikan kembali menjadi cair untuk mengulang siklus pendinginan.

Meskipun sangat efektif hingga menjadi standar industri global untuk kulkas, AC, hingga dispenser air, material kimia yang digunakan menyimpan ancaman serius bagi kelestarian lingkungan.

Untuk mencari solusi, para peneliti dari Lawrence Berkeley National Laboratory dan University of California, Berkeley, mengembangkan metode baru dalam menyerap serta memindahkan energi panas. Model ini memanfaatkan prinsip fisika di mana energi tersimpan dan dilepas saat material berubah bentuk-mirip seperti proses es yang mencair menjadi air.

Saat suhu ruangan naik, es akan mencair dan menyerap panas dari sekitarnya, sehingga menciptakan efek sejuk.

Kendati demikian, para peneliti memutar otak untuk menemukan cara “mencairkan es” tanpa harus menaikkan suhu. Solusinya ditemukan dengan menambahkan partikel bermuatan energi yang disebut ion-serupa dengan metode penaburan garam di jalanan bersalju saat musim dingin untuk mencegah pembentukan es. Siklus perubahan bentuk inovatif ini kemudian dinamakan siklus ionokalori (ionocaloric cycle).

“Belum ada solusi alternatif yang sukses menciptakan dingin, yang bekerja dengan efisien, memenuhi aspek keselamatan, dan tidak berdampak buruk untuk lingkungan. Kami pikir siklus ionokalori punya potensi besar,” ungkap Drew Lilley dari Lawrence Berkeley National Laboratory.

Diklaim Nol Emisi hingga Negatif Emisi

Dalam tahap uji coba, tim peneliti menggunakan campuran garam yang terbuat dari yodium dan natrium untuk mencairkan etilena karbonat. Menariknya, cairan tersebut diproduksi dengan memanfaatkan karbon dioksida sisa, yang membuat proses pembuatannya tidak sekadar nol emisi, melainkan menghasilkan emisi negatif.

Hasilnya pun luar biasa. Dalam eksperimen tersebut, suhu berhasil diturunkan hingga 25 derajat Celsius hanya dengan sokongan daya sebesar 1 volt saja.

Kini, para ilmuwan tengah berfokus merancang sistem praktis agar teknologi ramah lingkungan ini bisa segera diproduksi dan diterapkan secara komersial. Salah satu fokus pengembangannya adalah memburu jenis “garam” paling efektif untuk memaksimalkan penyerapan panas di dalam ruangan, di mana riset terbaru menunjukkan bahwa garam berbasis nitrat menjadi kandidat paling efisien.

(fab/fab)

[Gambas:Video CNBC]

Source link

Share

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *