
Jakarta, CNBC Indonesia – Kebiasaan bekerja dari rumah berujung petaka bagi sepasang suami istri di Amerika Serikat (AS). Sang suami diam-diam memanfaatkan informasi rahasia dari percakapan kerja istrinya untuk membeli saham dan meraup keuntungan hingga US$1,76 juta atau sekitar Rp29 miliar.
Pria bernama Tyler Loudon itu mengetahui rencana akuisisi sebuah perusahaan setelah mendengar istrinya berbicara dengan atasannya melalui telepon. Informasi yang seharusnya bersifat rahasia tersebut kemudian digunakannya untuk memborong puluhan ribu saham sebelum transaksi perusahaan diumumkan kepada publik.
Aksi itu akhirnya terbongkar dan mengubah kehidupan keduanya. Loudon dijatuhi hukuman penjara karena melakukan insider trading, sementara istrinya yang bekerja di perusahaan minyak dan gas BP ikut kehilangan pekerjaannya meski perusahaan tidak menemukan bukti bahwa ia sengaja membocorkan informasi kepada sang suami.
Istri Loudon, yang tidak disebutkan namanya dalam dokumen pengadilan, merupakan manajer merger dan akuisisi di BP, perusahaan minyak dan gas raksasa asal Inggris.
Pada 16 Februari 2023, TravelCenters of America mengumumkan telah menyetujui akuisisi oleh BP. Pengumuman tersebut membuat harga saham perusahaan melonjak hingga 70,8%.
Setelah harga saham melesat, Loudon segera menjual seluruh saham yang sebelumnya ia beli tanpa sepengetahuan istrinya, menurut dokumen pengadilan.
“Tyler Loudon membuat kesalahan besar dalam pengambilan keputusan dan dia bertanggung jawab penuh,” kata pengacara Loudon, Peter Zeidenberg, dikutip dari New York Times, Sabtu (26/9/2026).
Alamdar S. Hamdani, pengacara AS untuk Distrik Selatan Texas, mengumumkan Loudon mengaku bersalah atas penipuan sekuritas. Pria asal Texas tersebut juga mencapai keputusan parsial dengan Komisi Sekuritas dan Bursa AS (SEC), yang mengajukan tuntutan perdata terhadapnya. BP menolak berkomentar.
Istri Loudon mulai mengerjakan rencana akuisisi BP terhadap TravelCenters of America pada awal 2022. Ketika itu, ia dan Loudon, yang juga bekerja di sebuah perusahaan publik, kerap bekerja dari rumah dengan jarak hanya sekitar 6 meter satu sama lain.
Jaksa federal mengatakan Loudon mengetahui, atau “sangat ceroboh jika tidak mengetahui”, bahwa informasi mengenai kesepakatan BP yang didengar atau disampaikan kepadanya bersifat rahasia.
Loudon mulai membeli saham TravelCenters of America pada 27 Desember 2022. Selama tujuh pekan berikutnya, menurut pengaduan, ia secara “metodis” menjual sekitar US$2,16 juta posisi dari akun pialang individual dan Roth IRA miliknya untuk membeli lebih banyak saham perusahaan tersebut.
Ia melakukan transaksi tersebut tanpa memberi tahu istrinya. Setelah merger diumumkan kepada publik, Financial Industry Regulatory Authority (FINRA) meminta informasi kepada BP pada akhir Maret 2023 terkait transaksi tersebut.
Istri Loudon kemudian memberi tahu suaminya bahwa mantan koleganya yang terlibat dalam proses akuisisi mengeluhkan permintaan informasi pribadi dari pengacara BP. Loudon lalu bertanya apakah karyawan lain juga akan menjalani pemeriksaan serupa dan istrinya menjawab bahwa hal yang sama akan dilakukan.
Seminggu kemudian, Loudon mengaku kepada istrinya bahwa ia telah membeli saham sebelum akuisisi diumumkan. Namun, ia tidak mengungkapkan berapa banyak saham yang dibeli maupun keuntungan yang diperolehnya, menurut pengaduan tersebut.
Istri Loudon disebut “terkejut” mendengar pengakuan tersebut dan kemudian melaporkannya kepada atasannya. Ia lantas dikenai cuti administratif sebelum akhirnya di-PHK.
BP kemudian meninjau pesan singkat dan email milik istri Loudon. Perusahaan tidak menemukan bukti bahwa ia sengaja membocorkan informasi rahasia atau mengetahui aktivitas perdagangan saham yang dilakukan suaminya.
“Setelah pengakuan Loudon, istri Loudon pindah dari rumah mereka dan berhenti berhubungan dengan Loudon,” demikian isi pengaduan tersebut.
Istri Loudon kemudian memulai proses perceraian pada Juni 2023.
Pada pertengahan 2024, Tyler Loudon dijatuhi hukuman dua tahun penjara atas praktik insider trading yang menghasilkan keuntungan sebesar US$1,76 juta. Ia juga dijatuhi hukuman satu tahun pembebasan bersyarat setelah menyelesaikan masa penjara serta denda US$10.000 oleh hakim Pengadilan Distrik AS di Houston.
(pgr/pgr)
Leave a comment