
Jakarta, CNBC Indonesia – Ancaman perubahan iklim global kini telah mencapai level yang makin mengkhawatirkan. Para ilmuwan dan peneliti internasional kembali melayangkan peringatan keras menyusul rekor suhu panas ekstrem yang memanggang perairan Eropa sepanjang musim panas ini.
Berdasarkan analisis data satelit yang dikutip dari Reuters, Minggu (27/9/2026), lautan di Benua Biru mencatatkan rekor terpanas sejak pengumpulan data andal dimulai pada 1982. Suhu permukaan air melonjak drastis dari Selat Inggris hingga Laut Mediterania, dengan titik didih tertinggi tercatat mencapai 33,02 derajat Celsius di lepas pantai Mallorca, Spanyol.
Para ahli menegaskan gelombang panas laut (marine heatwaves) kini datang dengan frekuensi yang jauh lebih sering, intensitas yang kian brutal, serta cakupan yang semakin luas akibat dorongan emisi gas rumah kaca.
“Yang mengejutkan adalah kecepatan terjadinya hal ini,” ujar Jean-Pierre Gattuso, peneliti senior di Pusat Penelitian Ilmiah Nasional Prancis (CNRS), dikutip dari Reuters.
“Rekor-rekor terpecahkan hampir setiap hari di banyak tempat,” ia menambahkan.
Rantai Makanan Hancur dan Kepunahan Spesies
Dampak dari “mendidihnya” lautan Eropa ini tidak main-main. Para ilmuwan membeberkan bahwa fenomena tersebut memicu transformasi ekosistem laut yang berujung pada bencana ekologis.
Di perairan Teluk Biscay, Prancis dan Spanyol, kenaikan suhu drastis telah memicu kematian massal dan hilangnya sekitar 95% hutan rumput laut (kelp) yang selama ini menjadi fondasi ekosistem serta tempat pemijahan bagi berbagai spesies ikan.
Hilangnya habitat ini berdampak langsung pada runtuhnya populasi lobster, udang karang (crayfish), hingga bulu babi yang menjadi tumpuan hidup para nelayan lokal.
“Jika kondisi ini terus berlanjut, komunitas perikanan tradisional kita akan berhenti eksis,” ujar Jose Manuel Rico Ordas, profesor ekologi kelautan di Universitas Oviedo.
Invasi Makhluk Asing hingga ‘Apokalips Gurita’
Tak hanya mematikan spesies lokal, krisis iklim ini juga membuka pintu bagi invasi spesies asing ke perairan Eropa. Di wilayah Laut Mediterania, lebih dari 1.000 spesies non-pribumi tercatat masuk dan mendesak ekosistem asli.
Sementara itu, di Selat Inggris, para peneliti melaporkan ledakan populasi gurita secara besar-besaran yang dipicu oleh durasi gelombang panas yang kian panjang. Jika sebelumnya gurita jarang bertahan hidup di perairan dingin Inggris, kini hewan tersebut berkembang biak dengan sangat masif.
Kendati sebagian pedagang ikan meraup keuntungan besar, fenomena ini justru menjadi mimpi buruk bagi para nelayan kerang. Predator rakus tersebut memangsa habis populasi lobster, kepiting, dan kerang lokal, yang memicu krisis ekonomi bagi industri perikanan kecil hingga menjuluki tahun ini sebagai “apokalips gurita”.
Di tengah ketidakpastian iklim yang kian ekstrem, para ilmuwan mendesak adanya aksi nyata global untuk menekan laju pemanasan global. Pasalnya, tanpa mitigasi yang serius, masa depan ketahanan pangan laut dan kelangsungan hidup komunitas pesisir Eropa kini berada di jurang kehancuran.
(fab/fab)
Leave a comment