Home Finance Sungai Jernih Tiba-Tiba Mirip Kali Ciliwung, Ahli Bilang Tanda Kiamat
Finance

Sungai Jernih Tiba-Tiba Mirip Kali Ciliwung, Ahli Bilang Tanda Kiamat

Share
Sungai Jernih Tiba-Tiba Mirip Kali Ciliwung, Ahli Bilang Tanda Kiamat
Share




Jakarta, CNBC Indonesia – Sungai yang seharusnya jernih tiba-tiba berubah menjadi oranye-cokelat pekat di wilayah Alaska, Amerika Serikat. Fenomena yang tidak pernah diprediksi sebelumnya ini kini menyebar ke lebih dari 200 sungai dan aliran air, dan para ilmuwan memperingatkan bahwa ini adalah kenyataan baru yang mengkhawatirkan akibat “kiamat” pemanasan global, dikutip dari laporan IFLScience, Senin (28/9/2026).

Warna oranye itu muncul bukan karena polusi buatan manusia, melainkan karena lapisan tanah beku yang mencair. Di dalam tanah yang membeku selama ribuan tahun terkandung mineral dan logam yang sebelumnya tertahan di bawah permukaan.

Ketika suhu naik akibat pemanasan global dan perubahan iklim, tanah pun mencair. Zat-zat tersebut terlarut ke dalam air sungai dan mengubah warnanya menjadi seperti air berkarat.

Penelitian yang dipublikasikan di jurnal AGU Advances menunjukkan bahwa kadar logam yang terlarut di sungai-sungai ini bahkan lebih tinggi daripada yang terdapat di air limbah tambang asam.

Perubahan ini pertama kali tercatat secara luas pada tahun 2019, saat Alaska mengalami musim panas terpanas yang pernah tercatat hingga saat itu.

Air yang berwarna oranye ini dapat mengalir sejauh 96 kilometer ke hilir, membawa kandungan logam yang tinggi ke wilayah yang jauh dari sumber pencairannya. Para ilmuwan menyebutkan bahwa fenomena ini sama sekali tidak masuk dalam perkiraan iklim mana pun sebelumnya. Tidak ada yang memprediksi sungai berubah warna.

“Ini adalah proses yang tidak diprediksi, tidak diperkirakan, dan tidak dimasukkan ke dalam penilaian apa pun mengenai bagaimana Kutub Utara akan berubah di bawah iklim yang lebih hangat. Namun kini kita melihatnya di sungai-sungai di seluruh kawasan tersebut,” ujar Brett Poulin dari Universitas California, Davis, pemimpin penelitian ini.

Penyebab utamanya bukan hanya mencairnya tanah beku, melainkan juga penumpukan salju yang semakin tebal. Lapisan salju yang lebat justru menahan panas tanah sehingga tanah tidak membeku kembali di musim dingin. Akibatnya air dapat meresap lebih dalam ke tanah, bereaksi dengan mineral di sana, dan membawanya keluar ke sungai.

Lebih dari 200 sungai dan aliran air telah terdampak di Alaska. Di Kanada dan wilayah lain yang memiliki tanah beku, fenomena yang sama mulai terlihat. Suhu yang terus naik diproyeksikan memperluas daerah yang terkena dampak ini.

Hingga saat ini, belum terlihat adanya kematian massal hewan air maupun gangguan pada air minum warga sekitar. Namun para peneliti mengingatkan bahwa ini belum berarti aman. Kadar logam yang tinggi dapat menumpuk secara perlahan, dan dampaknya baru akan terlihat beberapa waktu ke depan.

“Ini adalah kenyataan baru akibat perubahan iklim,” ujar Taylor Evinger, penulis utama penelitian ini.

Artinya, apa yang terlihat seperti sungai berkarat hanyalah tanda di permukaan. Di bawahnya tersembunyi perubahan yang jauh lebih dalam tanah yang membeku selama ribuan tahun kini mencair, membawa serta zat yang seharusnya tetap tersimpan di sana, dan mengalir ke mana-mana tanpa dapat dikembalikan lagi.

(dem/dem)

[Gambas:Video CNBC]

Source link

Share

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *