Home Finance Transplantasi Kanker Darah RI Masih Tertinggal, Ini Tantangannya
Finance

Transplantasi Kanker Darah RI Masih Tertinggal, Ini Tantangannya

Share
Transplantasi Kanker Darah RI Masih Tertinggal, Ini Tantangannya
Share




Jakarta, CNBC Indonesia – Layanan transplantasi sumsum tulang di Indonesia masih menghadapi tantangan besar. Selain keterbatasan sumber daya manusia dan pusat transplantasi, jumlah tindakan yang dilakukan di dalam negeri juga masih jauh di bawah sejumlah negara Asia Tenggara.

Data menunjukkan, pada 2023 jumlah transplantasi sumsum tulang di Indonesia tercatat sebanyak 19 pasien. Angka tersebut jauh lebih rendah dibandingkan Malaysia yang mencapai 409 pasien, Singapura 277 pasien, Vietnam 149 pasien, dan Filipina 80 pasien.

Padahal, transplantasi sumsum tulang dapat menjadi salah satu terapi definitif bagi pasien dengan jenis kanker darah tertentu. Prosedur ini dilakukan dengan mengganti sel-sel pembentuk darah yang bermasalah dengan sel baru yang sehat.

Wakil Menteri Kesehatan (Wamenkes) Dante Saksono Harbuwono mengatakan, sumsum tulang merupakan tempat produksi sel-sel darah sehingga penggantian sel yang bermasalah dengan sel sehat dapat menjadi bagian penting dalam terapi kanker darah.

“Kanker darah ini sumbernya di mana? Sumbernya di pabriknya. Pabriknya ada di mana? Di sumsum tulang,” kata Dante dalam acara A Decade of Hope: Reflecting on the Journey, Shaping the Future di RS Kanker Dharmais Jakarta, Rabu (30/9/2026).

“Jadi kalau sumsum tulangnya itu diganti dengan yang baru, maka sel-sel yang tadinya tidak normal dalam bentuk kanker darah bisa menjadi regenerasi menjadi sel-sel baru yang normal,” ujarnya.

Salah satu rumah sakit yang mengembangkan layanan tersebut adalah RS Kanker Dharmais. Dalam satu dekade terakhir, rumah sakit ini telah melakukan transplantasi terhadap 16 pasien. 

Pada 2011, tim Dharmais dikirim ke Singapore General Hospital untuk memperkuat kemampuan transplantasi autologus. Lima tahun kemudian, layanan transplantasi mulai diwujudkan di Dharmais. Tim kemudian kembali memperdalam kemampuan transplantasi di National Cancer Center (NCC) Korea pada 2019, khususnya untuk mempelajari teknik transplantasi alogenik.

Pengembangan layanan sempat terhenti akibat pandemi Covid-19. Namun, peningkatan kompetensi terus dilakukan hingga layanan kembali berjalan.

Dari 16 pasien yang telah menjalani transplantasi, dua pasien meninggal akibat komplikasi tindakan transplantasi. Satu pasien lainnya meninggal sekitar delapan bulan setelah transplantasi akibat infeksi baru. Sementara itu, pasien lainnya masih bertahan hingga saat ini.

Tantangan Bukan Hanya Teknologi

Rendahnya jumlah transplantasi di Indonesia menunjukkan bahwa pengembangan teknologi medis bukan satu-satunya tantangan.

Ketersediaan tenaga medis dengan kompetensi khusus serta jumlah pusat transplantasi yang aktif juga menjadi faktor penting dalam meningkatkan akses pasien terhadap terapi tersebut. Di sisi lain, biaya juga menjadi salah satu pertimbangan dalam pengembangan layanan transplantasi di Indonesia.

Kondisi ini membuat sebagian pasien masih mempertimbangkan pengobatan di luar negeri. Pemerintah berharap semakin berkembangnya kemampuan rumah sakit dalam negeri dapat mengurangi kebutuhan tersebut.

Dante mengatakan kemampuan melakukan transplantasi di Indonesia diharapkan dapat memberikan akses terapi definitif bagi pasien kanker darah tanpa harus pergi ke luar negeri.

“Transplantasi sumsum tulang sebagai terapi definitif atau terapi yang dapat menyembuhkan untuk penyakit-penyakit kanker darah bisa memberikan efek yang maksimal kepada mereka dan bisa dilakukan di Rumah Sakit Dharmais tanpa harus pergi ke luar negeri,” kata Dante.

Donor Tak Harus 100% Cocok

Selain memperkuat kapasitas layanan, Dharmais juga tengah mempersiapkan pengembangan transplantasi haploidentik.

Teknik ini memungkinkan seseorang dengan tingkat kecocokan sekitar 50% untuk menjadi donor. Dengan demikian, anggota keluarga seperti orang tua atau anak pasien dapat menjadi alternatif ketika donor dengan kecocokan penuh tidak tersedia.

Dante mengatakan, kemampuan melakukan transplantasi di dalam negeri juga diharapkan dapat mengurangi kebutuhan pasien untuk menjalani terapi di luar negeri.

(hsy/hsy)

[Gambas:Video CNBC]

Source link

Share

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *