Home Finance China Kalahkan AS di Hati Warga Amerika Latin
Finance

China Kalahkan AS di Hati Warga Amerika Latin

Share
China Kalahkan AS di Hati Warga Amerika Latin
Share


Jakarta, CNBC Indonesia – Pandangan masyarakat Amerika Latin terhadap Amerika Serikat (AS) mengalami perubahan dalam beberapa tahun terakhir.

Di tengah hubungan dagang yang masih kuat, kebijakan pemerintahan Donald Trump justru beriringan dengan memburuknya citra AS di kawasan tersebut.

Survei terbaru LatinobarĂ³metro terhadap masyarakat di 17 negara menunjukkan perubahan menarik dalam cara warga Amerika Latin memandang dua kekuatan ekonomi terbesar dunia. Untuk pertama kalinya, pengaruh China dinilai lebih positif dibandingkan pengaruh AS di kawasan yang secara historis memiliki hubungan erat dengan Washington.

China semakin memperluas kehadiran ekonominya di Amerika Latin, sementara citra AS memburuk di tengah kebijakan Trump.

Pengaruh China Mulai Dipandang Lebih Positif daripada AS

Perubahan persepsi tersebut terjadi ketika mayoritas masyarakat Amerika Latin sebenarnya masih mendukung hubungan perdagangan dengan AS. Namun, penilaian terhadap AS menjadi lebih negatif sejak Trump kembali menduduki Gedung Putih.




Kecenderungan pandangan ke China vs ASKecenderungan pandangan ke China vs AS Foto: Economist

Dalam survei tersebut, sebanyak 69% responden menyetujui penangkapan NicolĂ¡s Maduro, mantan pemimpin Venezuela, dalam sebuah operasi oleh pasukan AS pada Januari. Namun, hanya 35% yang menilai intervensi AS tersebut akan memberikan manfaat bagi Venezuela.

Hampir dua pertiga responden juga tidak menyetujui cara Trump menjalankan hubungan internasional. Di Venezuela, persetujuan terhadap pendekatan tersebut mencapai 61%.

Meski demikian, perubahan persepsi terhadap AS tidak serta-merta menunjukkan bahwa Amerika Latin telah beralih sepenuhnya ke China.

Dalam 20 bulan sejak Trump kembali ke Gedung Putih, kandidat sayap kanan memenangkan tujuh pemilihan presiden di kawasan tersebut. Sebagian di antaranya juga menggunakan gaya politik yang menyerupai Trump.

Survei Pew Research Center pada 2026 di enam negara Amerika Latin juga menunjukkan bahwa pandangan terhadap China relatif stabil, sementara pandangan terhadap AS memburuk di lima negara.

Dengan demikian, perubahan persepsi terhadap China dan AS lebih banyak didorong oleh memburuknya citra AS, bukan semata-mata karena peningkatan popularitas China.

Dukungan terhadap Demokrasi Bertahan, Kepercayaan pada Institusi Rendah

Sekitar separuh responden masih menyatakan dukungan terhadap demokrasi.

Dukungan terhadap demokrasi dan institusinya memang sempat menurun pada pertengahan 2010-an, ketika pertumbuhan ekonomi melemah setelah periode ledakan harga komoditas. Namun, setelah itu angkanya cenderung stabil pada level yang lebih rendah.




Pandangan mengenai bentuk pemerintahanPandangan mengenai bentuk pemerintahan Foto: Economist

Persoalannya terletak pada bagaimana demokrasi berjalan dalam praktik.

Parlemen menjadi salah satu institusi yang paling tidak dipercaya. Hanya 22% responden yang merasa terwakili oleh lembaga tersebut.

Meski demikian, sebanyak 55% responden kini mengatakan demokrasi tidak dapat berjalan tanpa partai politik. Angka ini meningkat dari 44% pada 2023.

Kepuasan terhadap layanan publik juga masih rendah. Hanya 15% responden yang menilai kondisi ekonomi negaranya baik. Sementara itu, kepuasan terhadap rumah sakit pemerintah hanya mencapai 28% dan terhadap kepolisian 30%.

Keamanan Jadi Isu Utama di Sejumlah Negara

Ketidakpuasan terhadap kondisi ekonomi dan institusi negara turut memengaruhi pilihan politik di kawasan tersebut.

Sejumlah pemerintahan petahana, terutama dari kelompok kiri, mengalami kekalahan dalam pemilu terakhir. Namun, masyarakat Amerika Latin masih melihat pemilu sebagai sarana untuk mengubah keadaan.

Tahun ini, dukungan terhadap demokrasi meningkat di Kolombia, Honduras, dan Peru setelah pemilu dimenangkan kandidat kanan.

Perubahan serupa tidak terlihat di Bolivia, tempat presiden baru dari kelompok kanan-tengah menghadapi persoalan ekonomi.

Di tengah tekanan ekonomi, keamanan kini menjadi isu utama di tujuh negara, terutama Ekuador. Kondisi tersebut turut menjelaskan mengapa pendekatan politik yang menjanjikan pemberantasan kejahatan mendapat perhatian masyarakat.




Pandangan mengenai kriminalitasPandangan mengenai kriminalitas Foto: Economist

Nayib Bukele, Presiden El Salvador, masih menjadi tokoh yang paling dikagumi di kawasan tersebut berdasarkan survei.

Kebijakannya dalam menekan tingkat pembunuhan mendapat dukungan luas. Namun, pemerintahannya juga dikritik karena menahan banyak orang tanpa proses pengadilan serta mengambil kendali lebih besar atas sejumlah institusi demokrasi.

Selain keamanan, masyarakat Amerika Latin juga cenderung konservatif dalam sejumlah isu sosial.

Sekitar dua pertiga responden menolak pernikahan sesama jenis, sementara proporsi yang sama menolak legalisasi aborsi. Namun, terdapat perbedaan di negara-negara selatan seperti Argentina, Chile, dan Uruguay, di mana mayoritas responden mendukung keduanya.

Warga Amerika Latin Tak Banyak Berharap pada Negara

Rendahnya kepuasan terhadap institusi pemerintah juga tercermin dari penilaian masyarakat terhadap peran negara.

Sebanyak 73% responden mengatakan pemerintah hanya melakukan sedikit atau tidak melakukan apa pun bagi mereka dalam tiga tahun terakhir. Angka tersebut meningkat dari 63% pada 2011.

Salah satu faktor yang turut memengaruhi kondisi tersebut adalah besarnya ekonomi informal di kawasan tersebut. Hanya 28% responden yang mengatakan mereka membayar iuran jaminan sosial.

Di sisi lain, media sosial telah menggantikan televisi, radio, dan terutama surat kabar sebagai sumber utama informasi politik.

Namun, lebih dari 70% responden merasa media sosial tidak menggambarkan dengan baik apa yang sebenarnya dipikirkan oleh mayoritas masyarakat.

Meski menghadapi berbagai persoalan, masyarakat Amerika Latin tidak sepenuhnya pesimistis.

Sebanyak 26% responden mengatakan pernah terpikir untuk bermigrasi. Angka ini turun dari 30% pada 2023.

Harapan terhadap masa depan pribadi bahkan lebih tinggi dibandingkan pandangan terhadap ekonomi nasional.

Hanya 36% responden yang memperkirakan kondisi ekonomi negaranya akan membaik dalam 12 bulan ke depan. Namun, 52% yakin kondisi ekonomi mereka sendiri akan membaik.

Angka tersebut merupakan level tertinggi sejak seri survei dimulai pada 1995.

(mae/mae)

Source link

Share

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *