
Jakarta, CNBC Indonesia – Konflik kembali terjadi antara Pakistan dan Afghanistan. Serangan udara pasukan Pakistan di wilayah Afghanistan dilaporkan telah menewaskan sembilan warga sipil, termasuk wanita dan anak-anak, serta melukai 11 orang lainnya berdasarkan keterangan pemerintah di Kabul, Kamis.
Mengutip Channel News Asia (CNA), Jumat (2/10/2026), Juru Bicara Taliban Afghanistan Zabihullah Mujahid menyatakan bahwa rentetan serangan udara mematikan tersebut menghantam provinsi Kunar di bagian timur dan Helmand di bagian selatan Afghanistan. Ia mengecam keras serangan militer tersebut.
“Ini adalah tindakan agresi dan kejahatan yang melanggar semua prinsip yang diakui,” tegasnya.
Di seberang perbatasan, pemerintah Islamabad mengeklaim bahwa operasi udaranya sukses menewaskan 22 militan yang bersembunyi di dua lokasi terpisah. Kementerian Informasi Pakistan berdalih bahwa operasi militer itu murni didasarkan pada informasi intelijen yang kredibel dan secara sangat selektif hanya menargetkan kamp serta tempat persembunyian para militan.
“Ancaman terhadap Pakistan berasal dari Afghanistan. Dalam konteks ini, tindakan kami secara tepat menargetkan pusat-pusat teroris,” paparnya.
Islamabad memang telah berulang kali menuduh kelompok teror yang berbasis di Afghanistan sebagai dalang di balik maraknya serangan di dalam wilayah Pakistan. Insiden terbaru ini menandai ketiga kalinya dalam dua minggu terakhir Pakistan tanpa ragu membombardir target di dalam wilayah kedaulatan Afghanistan.
Pekan lalu, serangan udara Pakistan juga menghantam Kandahar dan provinsi lainnya. Menurut pemerintah Taliban, peristiwa itu memakan korban jiwa empat warga sipil.
Eskalasi yang kembali meledak ini terjadi menyusul serangan militan terhadap sebuah fasilitas kepolisian di barat laut Pakistan bulan lalu yang menewaskan 24 orang. Kepolisian provinsi menuding serangan berdarah itu dilakukan oleh kelompok Tehrik-e-Taliban Pakistan (TTP) yang juga dikenal luas sebagai Taliban Pakistan.
Islamabad menduga keras pemerintah Taliban Afghanistan dengan sengaja membiarkan TTP beroperasi dari wilayah mereka guna merencanakan serangan lintas batas. Meskipun TTP secara struktural terpisah dari Taliban Afghanistan, keduanya diketahui memiliki kedekatan aliansi.
Kendati demikian, Kabul membantah mentah-mentah tuduhan memberikan tempat berlindung bagi kelompok tersebut. Mereka menyatakan bahwa militansi yang menargetkan Pakistan murni merupakan masalah internal negara tersebut.
Gejolak terbaru di perbatasan ini secara praktis mengakhiri periode tenang yang baru berlangsung sekitar tiga bulan antara kedua negara bertetangga tersebut. Sebelumnya, pertempuran sempat meningkat tajam pada bulan Februari, sebelum akhirnya pembicaraan damai yang dimediasi oleh China berhasil menelurkan gencatan senjata yang rapuh pada bulan Maret.
Merespons kebuntuan perbatasan ini dalam sebuah wawancara dengan RT India, Mujahid beralasan bahwa Afghanistan hanya mengambil langkah membela diri setelah Pakistan secara sepihak melanggar kedaulatan wilayahnya.
“Membela diri adalah hak kami, tetapi kami bukanlah pemrakarsa dan kami juga tidak ingin ini terus berlanjut,” kata Mujahid.
Sebagai catatan kelam dari konflik ini, misi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di Afghanistan melaporkan telah mencatat lebih dari 1.100 kematian dan cedera akibat rentetan kekerasan lintas batas antara kedua negara hanya di sepanjang tahun ini.
(tps/sef)
Leave a comment