Home Finance Batu Bara Diubah Jadi Bensin, Pengembang Bakal Dapat Insentif?
Finance

Batu Bara Diubah Jadi Bensin, Pengembang Bakal Dapat Insentif?

Share
Batu Bara Diubah Jadi Bensin, Pengembang Bakal Dapat Insentif?
Share




Jakarta, CNBC Indonesia – Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) angkat suara soal skema insentif untuk proyek hilirisasi batu bara melalui gasifikasi menjadi metanol. Metanol itu sendiri menjadi salah satu bahan untuk produksi bahan bakar minyak (BBM) ataupun menjadi dimethyl ether (DME).

Wakil Menteri ESDM Yuliot Tanjung mengatakan pemerintah saat ini tengah menyiapkan skema insentif baru untuk menarik investasi proyek tersebut. Hal itu seiring berakhirnya pemberian insentif tax holiday lantaran terdapat ketentuan pajak minimum global (global minimum tax).

“Insentif itu kan ini kita ada mekanisme insentif baru. Jadi tax holiday ini kan berakhir. Dengan adanya global minimum tax, ini kan juga harus ada mekanisme baru. Walaupun ini kita memberikan tax holiday, pada saat ada perjanjian atau ini pelaksanaan global minimum tax, ini negara asal investor kan akan memungut 15%,” ujarnya saat ditemui di Kantor Kementerian ESDM, Jakarta, Jumat (2/10/2026).

Yuliot menjelaskan bahwa pemerintah sedang merumuskan mekanisme insentif baru menggantikan tax holiday konvensional. Tidak lain hal itu agar fasilitas fiskal Indonesia tetap kompetitif tanpa terkena penarikan pajak oleh negara asal investor akibat aturan global minimum tax sebesar 15%.

Berdasarkan perhitungan pemerintah, dari tarif Pajak Penghasilan (PPh) badan normal sebesar 22% di Indonesia, pemerintah masih dapat memberikan fasilitas pemotongan pajak sebesar 7% bagi pelaku usaha. Skema tersebut dinilai ideal karena tetap menarik bagi calon investor sekaligus menjaga penerimaan negara di kisaran 15%.

“Jadi kalau dari tarif pajak kita sekitar 22% pajak penghasilan, jadi kalau kita sesuaikan dengan global minimum tax, berarti masih bisa kita berikan ini fasilitas ini sekitar 7%. Ya kemudian pemerintah masih mendapat 15%. Jadi enggak bukan ini dengan insentif ini kan akan menjadi daya tarik, tetapi pemerintah memiliki ruang fiskal untuk itu penerimaan negara,” katanya.

Yuliot membeberkan, investasi proyek gasifikasi batu bara menjadi metanol sejauh ini telah masuk di wilayah Kutai Timur, Kalimantan Timur. Pemerintah mendorong agar produk metanol hasil gasifikasi tersebut dikembangkan secara berantai menjadi berbagai bahan bakar turunan.

“Enggak, ini kan ini kemarin yang gasifikasi batu bara jadi metanol ini kan sudah ada investasi yang masuk, yang di Kalimantan Timur di Kutai Timur. Ya kita mengharapkan dari metanol itu kan juga bisa dilakukan untuk pengolahan lebih lanjut, ini apakah sebagai bahan baku biodiesel ya atau ini bisa diolah lebih lanjut dengan proses kimia menjadi metanol kan dimethyl ether atau DME ataupun itu bisa menjadi bensin juga,” tandasnya.

Proyek Groundbreaking Batu Bara jadi Metanol

Sebelumnya, Yuliot meresmikan peletakan batu pertama (groundbreaking) Proyek Strategis Nasional (PSN) gasifikasi batu bara menjadi metanol di Kutai Timur, Kalimantan Timur. Proyek yang dikembangkan PT Bumi Etam Chemical (BEC) tersebut ditargetkan menghasilkan 2 juta ton metanol per tahun.

Yuliot menegaskan bahwa pembangunan industri metanol berbasis batu bara kalori rendah menjadi salah satu upaya untuk meningkatkan nilai tambah sumber daya alam domestik. Ia menyebut proyek tersebut menjadi prioritas pembangunan dalam program Asta Cita untuk menekan ketergantungan pada impor produk petrokimia yang membebani devisa negara.

“Groundbreaking ini menandai dimulainya langkah nyata pembangunan industri methanol berbasis hilirisasi batubara. Proyek ini merupakan bagian dari upaya kita untuk meningkatkan nilai tambah sumber daya alam, memperkuat industri dalam negeri, mengurangi ketergantungan terhadap impor, serta mendukung ketahanan dan kemandirian energi nasional,” ungkapnya dalam keterangan resmi, dikutip Selasa (1/9/2026).

Yuliot berharap hilirisasi BEC dapat menjadi model bagi perusahaan batu bara lainnya, mengingat besarnya potensi batubara berkalori rendah di Kalimantan dan Sumatera.

“Kita akan terus mendorong hilirisasi ini yang telah ditetapkan oleh Presiden Prabowo Subianto sebagai prioritas pembangunan semasa kepemimpinan Beliau dalam (program) Asta Cita,” tegas Yuliot.

Proyek tersebut akan mengolah sekitar 7,70-7,78 juta ton batu bara berkalori 3.400 kcal/kg per tahun menjadi metanol berstandar internasional, yaitu International Methanol Producers and Consumers Association (IMPCA) Grade.

Produksi ditargetkan sekitar 2 juta ton metanol per tahun untuk memenuhi kebutuhan domestik, dan mengurangi ketergantungan terhadap impor, mengingat pada tahun 2025, Indonesia masih mengimpor sebesar 1,3 juta ton metanol atau senilai Rp 7,1 triliun

“Kami berharap dengan proyek yang memberikan multiplayer effect yang nyata bagi seluruh stakeholder baik penciptaan lapangan kerja tumbuhnya industri pendukung serta peningkatan aktivitas ekonomi,” jelas Yuliot.

Pada kesempatan yang sama, Presiden Direktur BEC Rio Supin mengatakan perusahaan telah memasuki tahap engineering melalui penyusunanFront-End Engineering Design (FEED) dan Engineering, Procurement, Construction, and Commissioning (EPCC) Framework Agreement bersama PT Istana Karang Laut (IKL) dan China National Chemical Engineering Co., Ltd. (CNCEC) sejak 29 Juli 2026.

“Proyek Gasifikasi Batubara Pertama di Indonesia siap memasuki implementasi target comimsioning tahun 2029 seusai arahan Pak Menteri. BEC siap mendukung kemandirian dan ketahanan energi nasional,” jelas Rio.

Untuk menunjang kegiatan operasional, proyek tersebut dilengkapi fasilitas gasifikasi, reaktor sintesis, pembangkit listrik, pengolahan air, dan terminal pelabuhan. Teknologinya juga disiapkan untuk mengendalikan emisi dan terintegrasi dengan Carbon Capture and Storage (CCS).

Metanol yang dihasilkan akan memasok kebutuhan industri, terutama petrokimia dan formaldehida, serta mendukung pengembangan FAME dan program B50.

Dengan begitu, gasifikasi batu bara menjadi metanol menjadi langkah hilirisasi untuk mengolah batubara berkalori rendah menjadi produk yang dibutuhkan industri sekaligus mengurangi impor dan memperkuat industri nasional.

(pgr/pgr)

[Gambas:Video CNBC]

Source link

Share

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *