
Jakarta, CNBC Indonesia – Hilangnya batas minimum harga saham Rp50 membuka ruang penurunan lebih dalam bagi sejumlah emiten di Bursa Efek Indonesia (BEI). Sejak 28 September 2026, saham dapat diperdagangkan hingga Rp1, sehingga kemampuan perusahaan mempertahankan bisnis dan menghasilkan kas semakin menentukan daya tahan harganya.
Lima emiten yang layak dicermati adalah Diamond Citra Propertindo (DADA), Maxindo Karya Anugerah (MAXI), Widodo Makmur Unggas (WMUU), MDTV Media Technologies (NETV), dan Hensel Davest Indonesia (HDIT). Kelimanya masih ditutup Rp50 pada Jumat, 25 September 2026.
Namun, masuknya saham tersebut dalam daftar pengawasan bukan berarti semuanya akan menyentuh Rp1. Risiko masing-masing berbeda, mulai dari aktivitas usaha yang kecil, tekanan modal kerja, hingga kualitas aset yang menopang nilai buku.
Harga Sudah Turun hingga Separuh
Berdasarkan snapshot perdagangan Jumat (2/10/2026), sekitar pukul 11.30 WIB pada penutupan sesi perdagangan kedua, harga kelima saham berada di rentang Rp24-Rp35. Angka berikut belum merupakan harga penutupan hari itu.
DADA dan MAXI mengalami penurunan paling dalam. Meski demikian, besarnya penurunan belum cukup untuk menentukan saham mana yang paling rentan menuju batas minimum baru.
HDIT, misalnya, turun lebih sedikit, tetapi memiliki aktivitas usaha sangat kecil dibandingkan aset yang dibukukan. Sebaliknya, DADA masih menghasilkan laba, sehingga analisis risikonya lebih banyak bertumpu pada kualitas aset dan realisasi proyek.
Perbedaan ini penting karena harga nominal rendah belum tentu menunjukkan valuasi murah. Diskon terhadap nilai buku juga belum otomatis memberikan perlindungan apabila aset sulit dicairkan atau kemudian harus diturunkan nilainya.
Transaksi Ramai Belum Menjamin Harga Bertahan
WMUU dan DADA mencatat volume terbesar pada snapshot tersebut, sedangkan HDIT paling kecil. Perdagangan ramai menunjukkan adanya saham yang berpindah tangan, tetapi belum membuktikan akumulasi atau menjamin harga bertahan.
Nilai transaksi berikut merupakan estimasi rentang, dihitung dari volume kumulatif dikalikan harga terendah dan tertinggi hari itu. Angka ini menggambarkan skala perdagangan, bukan nilai transaksi resmi BEI.
HDIT: Kas Tipis, Penagihan Piutang Krusial
Pendapatan HDIT pada semester I 2026 hanya Rp260,5 juta, dengan rugi bersih konsolidasi Rp12,9 miliar. Kasnya tinggal Rp2,14 juta, sementara piutang usaha bersih dan persediaan masing-masing mencapai Rp93,6 miliar dan Rp123,4 miliar.
Cadangan penurunan nilai piutang meningkat dari sekitar Rp13 miliar menjadi Rp23,5 miliar. Jika penagihan memburuk dan bisnis tidak pulih, ekuitas berpotensi terus terkikis. Kombinasi tersebut membuat HDIT paling menonjol dari sisi kelemahan operasional, meskipun PBV-nya rendah. Penentu utamanya adalah kemampuan mengubah aset menjadi kas.
MAXI: Margin Merosot, Modal Kerja Tertekan
Penjualan MAXI relatif stagnan di Rp74,1 miliar, tetapi laba kotor semester I turun dari Rp22 miliar menjadi Rp5,3 miliar. Perusahaan berbalik rugi sekitar Rp16,4 miliar.
Aset lancar Rp51,8 miliar berada di bawah kewajiban lancar Rp82,6 miliar, sedangkan PBV masih 1,85 kali. Margin yang gagal pulih dan kebutuhan pendanaan berkelanjutan menjadi risiko utama. Kerugian berulang dapat menggerus nilai buku, sementara tambahan modal berpotensi menimbulkan dilusi apabila diperoleh melalui penerbitan saham baru. Namun, bisnisnya masih menghasilkan penjualan.
NETV: Valuasi Premium, Pengendali Menjadi Penopang
NETV mencatat pendapatan semester I Rp48,2 miliar dan rugi pemilik induk sekitar Rp49 miliar. PBV 3,56 kali membuat valuasinya rentan tertekan apabila pemulihan bisnis penyiaran berjalan lambat.
Namun, fasilitas kredit bank yang diungkapkan perusahaan dijamin kas milik MD Entertainment (FILM). Dukungan nyata tersebut melemahkan dugaan perusahaan ditinggalkan. Risiko NETV lebih jelas pada penurunan valuasi akibat kerugian berulang. Skenario menuju Rp1 membutuhkan kemerosotan jauh lebih berat, termasuk apabila dukungan pendanaan pengendali ikut melemah.
DADA: Realisasi Uang Muka Tanah Menentukan
DADA masih mencetak laba semester I sekitar Rp6 miliar, tetapi uang muka tanah Rp373,7 miliar menyumbang sekitar 58,4% total aset. Nilai bukunya sangat bergantung pada penyelesaian transaksi dan realisasi proyek.
Risiko penurunan ekstrem menguat apabila aset tersebut mengalami hambatan atau penurunan nilai material. Namun, belum cukup bukti untuk menyimpulkan uang muka itu tidak dapat dipulihkan. Karena itu, PBV rendah perlu diuji melalui perkembangan proyek, bukan langsung dianggap mencerminkan aset bermasalah.
WMUU: Penjualan Membaik, Kas Belum Kuat
Pendapatan WMUU meningkat dari Rp301,4 miliar menjadi Rp491,1 miliar, sementara rugi pemilik induk menyempit menjadi Rp13,7 miliar. Namun, kas hanya Rp1,6 miliar dan arus kas operasi masih negatif sekitar Rp825 juta.
Kuncinya adalah mengubah kenaikan penjualan menjadi margin dan kas. Jika hal tersebut gagal, kebutuhan modal kerja dapat terus menekan keuangan. Meski demikian, perbaikan operasional membuat dasar untuk menempatkan WMUU sebagai kandidat terkuat menuju Rp1 lebih lemah.
Rp1 Masih Skenario Ekstrem
HDIT dan MAXI paling menonjol dalam penyaringan risiko ini, sedangkan NETV menghadapi tekanan valuasi dengan dukungan pengendali sebagai penahan. DADA dan WMUU masih memiliki penopang berupa laba atau perbaikan operasional.
Untuk mencapai Rp1, kelimanya masih harus turun sekitar 96%-97% dari harga saat pengecekan. Data tersebut mendukung daftar pengawasan risiko, belum kesimpulan bahwa Rp1 merupakan harga wajar atau hasil yang paling mungkin.
(gls/gls)
Leave a comment